MUSLIMAHPERISTIWA

Flexing “Baby Girl” Pejabat Gayo Lues di Tengah Pemulihan Bencana

Suara Netizen Indonesia-Dea Arranova, anak dari Asisten Pemerintahan Keistimewaan Aceh dan Kesra (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, Nevirizal pamer kekayaan atau flexing di media sosial yang berujung viral. Akibat ulahnya, sang ayah memutuskan mundur dari jabatannya. Postingan tersebut telah dihapus, diunggah pada Rabu (22/7/2026). Sang anak yang disebut “Baby Girl” ini memamerkan liburan di Korea Selatan, Bangkok hingga Eropa. Dea juga menyebarkan isi percakapan di grup keluarga termasuk rencana pembelian mobil.

Dalam postingan lainnya, sang anak juga mengunggah foto sejumlah stok BBM tersusun rapi di tengah krisis BBM  yang dialami masyarakat Gayo Lues karena baru saja diterjang bencana hidrometeorologi.  Postingan itu diberi caption:

“Papaku beli minyak 15 jeriken. Ntah mobil mana lagi yang mau dipenuhkannya.”

Caption ini membuat masyarakat tak habis pikir, sebab dalam salah satu percakapan di grup keluarga, sang ayah mengaku saat itu sedang rapat penanganan bencana.

Setelah postingan ini viral, sang ayah mengaku mengalami tekanan psikologis dan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas ulah anaknya yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi tempatnya bekerja.

Sementara, Pemerintah Gayo Lues baru saja kembali memperpanjang status transisi darurat pasca delapan bulan bencana banjir dan longsor. Wakil Bupati Gayo Lues Maliki menyampaikan bahwa melihat kondisi di lapangan Gayo Lues belum siap beralih untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, maknanya bahwa realitas pemulihan di Gayo Lues masih berada di tahapan transisi dari kondisi darurat bencana. Masa transisi ini akan diperpanjang selama tiga bulan karena belum memenuhi indikator yang ditetapkan negara.

Indikator dimaksud antara lain dilihat dari jalannya pemerintahan, pelayanan publik, akses darat, ekonomi, sosial, indikator dasar lain, normalisasi sungai, pengungsian, penyaluran bantuan dan hunian tetap (detik.com, 24/7/2026).

Fakta di lapangan ternyata perekonomian masyarakat belum pulih, lahan pertanian masih dalam tahap pembenahan, sementara sejumlah ruas jalan penghubung antardaerah di antaranya Blangkejeren-Aceh Tenggara, Blangkejeren-Aceh Timur, Blangkejeren-Aceh Barat Daya, dan Blangkejeren-Aceh Tengah masih belum permanen dan berada dalam tahap pemulihan perbaikan.

Dengan semua fakta memilukan ini, apa yang menyebabkan Baby Girl sang ayah hilang kendali dan sanggup mengunggah konten flexing di media sosial? Pastinya karena kita hidup dalam peradaban Kapitalisme yang materialistik. Namun tidak ada salahnya kita membahas sudut pandang para pakar, yaitu kombinasi beberapa teori psikologis, sosiologis dan struktural yang biasanya saling memperkuat dan mendukung satu sama lain sehingga seseorang bisa tergelincir di tengah fenomena pilu masih menggentayangi masyarakatnya.

Pertama, teori Konsumsi Mencolok (Conspicuous Consumption — Thorstein Veblen). Veblen menjelaskan bahwa kelompok yang memiliki privilese ekonomi atau status sosial cenderung memamerkan kekayaan sebagai simbol status, bukan sekadar untuk kenikmatan materi. Barang mewah atau gaya hidup jadi “bahasa” untuk menunjukkan posisi sosial keluarga terhadap lingkungan sekitarnya,  terlepas dari konteks yang sedang terjadi di sekitar mereka.

Kedua, teori Gelembung Elite/Jarak Sosial (Elite Bubble & Social Distance Theory). Anak pejabat sering tumbuh dalam lingkaran sosial yang relatif terpisah dari realitas warga biasa, di mana sekolah, pergaulan, akses ekonomi berbeda. Jarak sosial ini bisa mengikis kepekaan terhadap penderitaan kelompok lain, sehingga penderitaan orang di luar lingkaran mereka terasa abstrak, bukan sesuatu yang dirasakan secara emosional.

Ketiga, teori Empathy Gap/Psychic Numbing. Psikolog seperti Paul Slovic menjelaskan bahwa manusia cenderung “mati rasa” terhadap penderitaan kolektif berskala besar (bencana, krisis) dibanding penderitaan individu yang konkret dan dekat. Ini bisa menjelaskan mengapa seseorang bisa tampak “tidak menyadari” dampak emosional dari unggahannya di tengah situasi darurat.

Keempat, teori Budaya Performatif Media Sosial. Media sosial, khususnya platform seperti TikTok, mendorong budaya “personal branding” dan validasi lewat tampilan gaya hidup. Bagi generasi muda yang tumbuh dengan budaya ini, dorongan untuk menunjukkan pencapaian atau kepemilikan barang sering kali lebih kuat daripada pertimbangan konteks sosial-politik di sekitarnya.

Kelima, teori Disengagement Moral (Albert Bandura). Konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang bisa melakukan tindakan yang secara sosial dianggap tidak pantas tanpa merasa bersalah, karena secara kognitif memisahkan diri dari konsekuensi tindakannya,  misalnya menganggap unggahan pribadi “tidak ada hubungannya” dengan jabatan orang tua atau situasi bencana di daerahnya.

Keenam, teori rasa aman karena posisi struktural orang tua (Structural Impunity). Ketika orang tua memiliki jabatan dan pengaruh, anak bisa tumbuh dengan rasa “kebal” terhadap konsekuensi sosial,  semacam entitlement yang berasal dari posisi struktural keluarga, bukan pencapaian pribadi. Ini berkaitan dengan konsep status inheritance dalam sosiologi kelas sosial.

Ketujuh, teori Krisis Kepercayaan Publik terhadap Birokrasi (Principal Agent Problem). Dari sisi tata kelola pemerintahan, insiden semacam ini juga memicu pertanyaan publik soal integritas dan akuntabilitas pejabat, terutama saat unggahan menyinggung sumber daya publik (seperti BBM bantuan bencana), yang memunculkan kecurigaan penyalahgunaan wewenang meski belum tentu terbukti.

Kedelapan, teori Kesenjangan Literasi Digital Antargenerasi. Sebagian pejabat/orang tua tumbuh di era pra-digital dan mungkin kurang menyadari risiko reputasi dari jejak digital anaknya, sehingga pengawasan terhadap konten yang diunggah keluarga menjadi longgar,  sehingga baru disadari setelah viral.

Bercermin Pada Mutiara Peradaban Islam

Memiliki keberuntungan terlahir dan tumbuh besar di tengah keluarga yang mapan adalah suatu anugerah yang dimiliki oleh sosok Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan Al Umawiyyah Al Quraisyiah. Fatimah adalah sosok wanita yang nyaris sempurna. Cantik, cerdas, keturunan terpandang, kaya raya, serta taat beribadah. Siapa Fatimah binti Abdul Malik ini?

Sebanyak 12 orang pria yang menjadi mahramnya adalah Sang Khalifah Umar bin Khattab, ayahnya, kakeknya, saudaranya, keponakannya, bahkan suaminya adalah Khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. Dari lahir hingga tumbuh dewasa, Fatimah dikelilingi oleh kemuliaan dan kenikmatan dunia. Perhiasan permata yang tiada duanya, baju mewah dari kain sutra, serta istana nan indah dan megah. Ayah, ibu, saudara-saudara, dan orang-orang yang ada di sekitar menyayanginya dengan cinta kasih sepenuh hati. Pengasuhan dan pendidikan yang terbaik diperolehnya. Sungguh kehidupan yang tampak sempurna. Seorang putri yang sangat cantik nan bagus akhlak juga ilmunya.

Kebahagiaan hidup Fatimah semakin sempurna tatkala seorang lelaki saleh, kaya, berilmu, tampan, juga dari keluarga yang terhormat mempersunting dirinya. Lelaki itu bernama Umar bin Abdul Aziz. Pesta pernikahan pun digelar dengan mewah. Dalam kehidupan rumah tangga ini kebahagiaan Fatimah semakin bertambah dengan lahirnya dua putra mereka yakni Ishaq dan Ya’kub.

Fatimah binti Abdul Malik yang terbiasa hidup mewah dan serba mudah, kini memilih meninggalkan semua kemewahan dunia. Ini terjadi saat suaminya, Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik, yang dilantik pada Jumat, bulan Safar 99 H di kota Damaskus.

Selama menjadi Khalifah, honor Umar sangat minim, hanya dua dirham per hari atau 60 dirham per bulan. Sebagai istri, Fatimah tidak pernah protes, apalagi menuntut lebih penghasilan suaminya. Dia lapang dada dan selalu mendukung suaminya. Kesederhanaan dan kebijakan Umar menciptakan banyak kalangan menyematkan ‘gelar’ sebagai Khulafaur Rasyidin kelima. Umar bin Abdul Aziz memilih untuk menjadi sosok sederhana, zuhud, dan tampil sebagai salah satu pemimpin umat Islam yang terbaik.

Umar bin Abdul Aziz memberi pilihan kepada istrinya, Fatimah, untuk memilih masa depannya sendiri, karena Umar merasa mendapat tanggung jawab besar yang membuatnya tidak bisa lagi menjaga dan memenuhi keinginan istrinya.

Di sinilah terlihat bahwa sosok Fatimah adalah perempuan yang berhias diri dengan akal sehat dan keimanan yang kuat. Ia memilih untuk bersama suami, setia mendampingi, dan turut memikul tanggung jawab. Lembar sejarah mencatat, sosok Fatimah binti Abdul Malik adalah perempuan salihah yang hebat dengan jiwa ikhlas dan sabar. Pendukung pertama gerakan perubahan yang dilakukan suaminya, yakni gerakan kesederhanaan para pemimpin dalam kehidupan.

Sosok inilah seharusnya yang menjadi teladan para Baby Girl, seorang mutiara yang tumbuh dalam sistem Islam, namanya harum, jejak kehidupannya ditulis dengan tinta emas peradaban dunia.[SNI}

Related Posts

1 of 20