POLITIK

Kartini Seremonial Dari Tahun Ke Tahun

Suara Netizen Indonesia–Peringatan Hari Kartini di Sidoarjo tahun ini mengusung tema “Kartini Masa Kini: Saling Menjaga, Saling Menguatkan” . Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Kabupaten Sidoarjo, Sriatun Subandi mengajak seluruh perempuan di Sidoarjo menjadi agen perubahan Jadilah perempuan tangguh, kreatif dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan bijak.

 

Menurut Sriatun, peringatan Hari Kartini tidak sekadar kegiatan seremonial saja. Akan tetapi, menjadi momentum untuk mengenang dan meneladani semangat juang RA Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Khususnya, di bidang pendidikan dan kesetaraan gender. Untuk itu gerakan PKK memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas keluarga. Keluarga yang kuat, yang akan melahirkan masyarakat yang sejahtera dan berdaya saing.

 

Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya di Jawa Timur menjadi sorotan Sriatun, peran orang tualah menurutnya yang sangat penting dalam pencegahan. Pemateri lain, yaitu Ainur Amalia, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Sidoarjo, menyampaikan bahwa perempuan masa kini perlu memiliki kecerdasan dalam berpenampilan. Baginya, berdandan itu termasuk kecerdasan, penampilan anggun dan cantik meski di rumah tetap memiliki value yang tinggi dan bisa irit pengeluaran jika dilakukan dengan tepat.

 

Ainur mengapresiasi kegiatan Hari Kartini yang tidak hanya menampilkan sisi estetika saja. Tetapi, juga edukasi seperti praktik berdandan yang baik hingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Tanggal 21 April, menurut Ainur bukan sekadar simbol saja. Tetapi pengingat agar kita menjadi perempuan profesional, memiliki nilai tinggi, serta pondasi sebagai wanita hebat dan kuat.

 

Hadir sebagai narasumber juga di antaranya, Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, Sri Andari dari Pokja IV PKK Kabupaten Sidoarjo serta Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Gerdaning Tyas Jadmiko. Kegiatan ini tak hanya Talk Show tapi juga dirangkai dengan beauty class sebagai edukasi praktis bagi perempuan untuk merawat diri secara mandiri.

 

Lagi-Lagi Seremonial, Mengapa Tak Sadar?

Jebakan peringatan Hari Kartini seolah menjadi kutukan bagi perempuan masa kini. Benar, hingga hari ini Kartini hanya ditampakkan sebagai wanita chasing saja, yang lembut, perjuangannya kalem, seputar gender dan samasekali tidak politis.

 

Sehingga seringkali mentok peringatannya seputar peragaan busana, lomba mirip Kartini, beauty class dan cita-cita Kartini ingin menjadi perempuan sesuai syariat hilang begitu saja. Bukan tanpa sebab, penjajah kala itu memang menginginkan kita, kaum perempuan lebih tunduk dan patuh. Dipilihlah sosok Kartini, dan bukan Cut Nya Dien, Dewi Sartika atau malah Laksamana Mahalayati yang konfrontasi langsung dengan penjajah. Menentang langsung secara fisik dengan tujuan mengusir penjajah.

 

Jadilah Kartini sebagai simbol perempuan sejati. Padahal Kartini adalah pemikir dan pendobrak budaya kolonial pada zamannya. Ia ingin perubahan besar wanita Indonesia juga sebagaimana tujuan dari penciptaanya sebagai perempuan, yaitu dimuliakan sekaligus menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Membangun peradaban Islam yang sangat menghormati perempuan.

 

Semestinya peringatan Hari Kartini sudah beranjak dari sekadar cita-cita emansipasi yang diulang setiap tahunnya. Permasalahan wanita, hari ini nasib baik belum berpihak kepadanya, pelecehan, bullying, kekerasan seksual, KDRT dan lainnya masih menjadi bahaya laten.

 

Semua karena penerapan Sistem Kapitalisme yang asasnya sekuler, atau pemisahan agama dari kehidupan. Sistem ini hanya fokus pada para kapital, soal perempuan, samasekali tak ada hitungan. Karena keberadaan mereka tak ubahnya barang, yang ada nilainya jika dipoles. Tak penting isi kepala yang penting sempurna fisik. Akibatnya banyak perempuan yang menderita, diakibatkan mindset rusak ini.

 

Islam Memuliakan Perempuan

Kemuliaan seseorang dalam pandangan Islam bukan semata dari baiknya penampilan luar, cerdas ketika berbicara atau memiliki gelar dan jabatan yang tinggi, namun pola sikap dan pola pikirnya yang amat menentukan, apakah berdasarkan syariat yang selanjutnya seseorang itu disebut memiliki kepribadian Islam atau malah memiliki landasan berpikir di luar Islam, alias sekuler, bisa kapitalis bisa sosialis atau komunis.

 

Perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pria dalam hal pendidikan, kesehatan, keamanan. Demikian pula dengan jaminan sejahtera. Negara wajib menjamin kemudahan aksesnya. Perempuan tak harus bekerja, hukumnya mubah. Maka para ayah atau suami atau pria baligh yang menanggung nafkah keluarganya diberi kesempatan seluas mungkin untuk bekerja. Negara juga tidak mewajibkan pajak dan mengharamkan semua transaksi berbasis riba atau yang melanggar hukum syara.

 

Wanita dalam Islam adalah kehormatan, ia tempat kembalinya suami dan anak-anaknya dari penatnya dunia luar. Maka, jika ingin mengubah nasib perempuan hari ini tidak lain hanyalah Islam. Sebagaimana Kartini yang benar-benar ingin berubah secara total peran perempuan sebagaimana yang Allah SWT. Kehendaki. Wallahualam bissawab. [SNI].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

1 of 120