Suara Netizen Indonesia–Raffi Ahmad, publik figur merangkap utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda Raffi Ahmad, resmi diangkat menjadi Duta Kehormatan BPJS Kesehatan. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menjelaskan penetapan Raffi Ahmad didasarkan pada sejumlah pertimbangan strategis (kompas.com,24-4-2026).
Pertama, selain sebagai utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda , publik figur sekaligus pekerja seni yang populer di mata publik, Raffi juga memiliki kepedulian sosial tinggi, aktif membangun kolaborasi, serta mampu menjangkau generasi muda dan masyarakat produktif.
Kedua, Raffi telah berkontribusi nyata dalam mendukung penguatan Program JKN. Secara nyata Raffi menunjukkan keteladanan sebagai publik figur karena telah mendaftarkan para pekerja atau karyawannya beserta anggota keluarga sebagai peserta Program JKN. Sikap ini mencerminkan kepatuhan Raffi terhadap regulasi sekaligus komitmen dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi pekerja, khususnya di bidang seni. Raffi akan menjadi energi positif dalam menyebarkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial.
Tugas Raffi adalah, meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya kepesertaan aktif, kepatuhan pembayaran iuran, serta pemanfaatan layanan kesehatan secara tepat. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa Program JKN merupakan program negara yang manfaatnya dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kapitalisme Akar Masalah Buruknya Layangan kesehatan
Pertanyaannya mengapa harus Raffi Ahmad? Terang saja masyarat mencemooh pemberian gelar kehormatannya sekadar popularitas. SeIndonesia siapa yang tidak tahu Raffi Ahmad? Artis dan punya segalanya. Kekayaannya berdasarkan laporan LHKPN per akhir 2024 yang dirilis Januari 2025, total kekayaan bersih Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden mencapai Rp1,03 triliun. Aset ini terdiri dari tanah, bangunan, kendaraan mewah, dan surat berharga, dengan utang tercatat Rp136 miliar.
Lantas berapa gaji sebagai duta kehormatan? Sebagai pembanding sederhana gaji atau honorarium duta pariwisata (seperti Abang-None, Bujang-Gadis, bisa berupa uang saku, bonus per proyek, atau tunjangan dari pemerintah daerah, bukan gaji pokok tetap layaknya karyawan. Secara umum, mereka menerima honor per kegiatan, insentif dari sponsor, atau hadiah uang tunai saat menang, dengan rentang berkisar antara Rp1 juta hingga Rp5 juta per bulan untuk tingkat pemandu/pembina pariwisata.
Jikalau benar Raffi digaji negara dengan jabatan tambahannya, apakah ini tidak seperti memberi garam ke air laut yang memang sudah asin? Maka, mendaftarkan BPJS seluruh pekerjanya adalah sesuatu yang ringan, bukan lantas dijadikan teladan. Raffi tak pernah kekurangan uang, maka, penetapan dia sebagai duta patut dipertanyakan untuk apa dan siapa? Apakah Raffi sudah cukup mewakili kaum miskin?
Namun ,program pengangkatan duta bukan sekali ini saja, ada berbagai macam duta, jika masih ingat dengan penyanyi dangdut Zaskia Gotik (goyang itik) pernah diangkat sebagai duta Pancasila, hanya karena ia melakukan kesalahan saat mengucapkan sila-sila Pancasila. Kala itu tujuannya agar Zaskia mau belajar, berubah dan memperbaiki diri, dan juga ikut mensosialisasikan Pancasila. Karena sosialisasi yang dilakukan para artis akan lebih gambang dipublikasikan oleh media dibanding politisi.
Asas manfaat ini berasal dari penerapan sistem kapitalisme. Orang hanya punya value jika kaya, punya jabatan, jaringan massa, dekat dengan penguasa dan lainnya yang sifatnya materi. Sementara potensi akal atau kepribadian Islam malah dianggap radikal, teroris hingga dilabeli ekstremis.
Mengedukasi masyarakat dengan sesuatu yang populer saja, sedang pangkal persoalan tidak tersentuh. Kesehatan masyarakat buruk, bukan semata karena masyarakat tak teredukasi dengan benar tentang cara hidup sehat, namun masalahnya pada akses kesehatan yang dipersulit oleh negara. Layanan kesehatan tergantung kelasnya, bahkan dokter, obat-obatan, rumah sakit, fasilitas kesehatan dianggap komoditas, dihargai dengan harga tertentu dan rakyat diminta membayar.
BPJS salah satu contoh pengabaian penguasa terhadap pelayanan kesehatan, darimana dasar hukumnya? negara malah memerintahnya rakyatnya membayar sendiri biaya kesehatannya, dengan normalisasi gotong royong . Para duta ini tak akan mencapai target kesejahteraan sesungguhnya, selama masih aturan Kapitalisme yang diterapkan. Sebab, masyarakat berbeda keadaan, yang kaya tentu tidak masalah membayar premi, tapi yang miskin?
Belum lagi jika telat membayar premi, ada pinalti, sungguh kejam, rakyat dibiarkan mandiri sementara pengusaha diberi karpet merah untuk mengeksploitasi kekayaan negara. Program duta sekali lagi untuk menutupi ketidakmampuan negara mengurusi rakyatnya.
Islam Solusi Bukan Pencitraan
Islam menetapkan pemimpin adalah pengurus rakyat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,”Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari). Artinya semua kebutuhan dasar masyarakat menjadi tanggungjawab negara. Salah satunya adalah kesehatan. Baitulmal sangat tangguh menjaga skema pembayaran semua kebutuhan itu karena pos pendapatan dan pengeluarannya ditetapkan syariat dari hasil pengelolaan kekayaan alam Indonesia.
Tidak ada transaksi yang berbasis riba atau asuransi. Sistem pendidikan juga dijamin negara, kurikulum wajib berbasis akidah Islam, dan gratis dari jenjang terendah hingga tertinggi. Islam tidak semata menghasilkan cerita namun sejarah mampu membuktikan betapa tangguhnya sistem kesehatan Khilafah dengan munculnya ilmuwan di bidang kesehatan dan pengobatan.
Will Durant ( 18886-1981), seorang orientalis barat, dalam bukunya The Story of Civilization mengatakan bahwa totalitas layanan kesehatan yang diberikan Khilafah kepada warga negaranya sangat luar biasa. Semua tenaga medis digaji dari Baitulmal.
Para sejarahwan juga berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Bukti Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya.
Demikian juga selama kekhalifahan Umayyah, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik telah membangun sebuah rumah sakit untuk mengobati masyarakat yang menderita lepra dan kebutaan. Dimana pembiayaannya adalah dari Baitulmal. Wallahualam bissawab. [SNI].










