ISLAM

Menjemput Hidayah

Seringkah mendengar kalimat,”Semoga ia mendapatkan hidayah.” atau “Semoga aku mendapatkan hidayah.”? atau kalimat lain yang sejenis, yang intinya menyimpulkan bahwa hidayah itu ditunggu. Dengan alasan itulah kemudian hidupnya stagnan, berputar pada apa yang ia pahami dan tidak berusaha keluar dari zona nyaman. Padahal zona nyaman yang ia maksud pun tidak tepat. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan bahwa ternyata hidayah itu dijemput, diusahakan bukan ditunggu. Terlebih jika ia seorang muslim. Bukankah kitab yang ia imani sudah menjelaskan bahwa ia adalah Al-Huda (petunjuk) itu sendiri? “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs Al-Baqarah:2).

Memang soal bertemunya hidayah itu beraneka ragam, ada yang natural, ada yang amazing, ada yang berdarah-darah dan lainnya namun tidak ada yang diterima dalam keadaan berdiam diri dan menolak kebenaran yang datang padanya. Artinya hidayah itu di dapat dalam kondiri aktif. Hidayah tal melulu berkaitan dengan beralihnya iman seseorang dari kafir menuju Islam, atau muallaf, seseorang yang dilembutkan hatinya untuk menerima kebenaran cahaya Islam. Namun juga kaum Muslim sendiri yang sudah Islam sejak lahir. 

Faktanya, jalan menuju iman memang beragam, ada yang diterima sejak lahir karena terlahir dari keluarga Muslim, ada karena mukjizat atau kejadian yang luar biasa dan ada yang melalui proses berpikir. Ketiganya membawa pengaruh masing-masing, yang menentukan adalah perjalanan pasca mereka menerima Islam itu sendiri. Disitulah hidayah berada. di fase yang butuh konsekwen dan konsisten inilah yang menentukan apakah Islam tetap menjadi poros hidup seseorang.

Oleh karena itu tak ada salahnya kita mengetahui tutorial mendapatkan hidayah. Memang bukan yang paten, ada banyak cara, namun ini melalui redaksi Alquran, yaitu firman Allah swt yang artinya,”Orang-orang yang tlah kami beri kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa ingkar kepadanya, merek itulah orang-orang yang rugi.” (Qs Al-Baqarah:121). Sungguh menarik untuk ditelaah lebih mendalam, ayat ini memang untuk kaum Yahudi dan Nasrani, namun jika tidak dihapus atau diganti setelah diutusnya Rasulullah saw artinya ayat ini juga berlaku untuk kaum Nabi Muhammad. 

Dan ternyata bagi Yahudi dan Nasrani perintahnya adalah sama, baca dengan baik dan benar setiap kata dalam ayat itu, dan kemudian imanilah. Jangan melenceng sehuruf pun, karena akan mengubah makna. Siapa pun yang mengingkari kebenaran sesudah membacanya maka mereka masuk dalam golongan orang yang merugi. Nerakalah tempatnya, nauzdzubillah. Simple! namun tidak pada praktiknya. Mereka ternyata mengingkari kebenaran akan datangnya nabi terakhir, nabi penutup. Yang lebih besar dari Nabi mereka dan bukan dari bangsa mereka. Kesombongan seketika muncul, sebagaimana yang ditunjukkan iblis ketika Adam diciptakan Allah swt dan dipilih menjadi Khalifah fil Ardh. 

Bukanlah hari ini faktanya juga banyak yang mengingkari kenikmatan yang mereka terima, dari setiap helaan nafas, dari setiap ruas tulang dan buku jari. Dari setiap kedipan mata, arus darah yang berkeliling tubuh, keluar masuk dari bilik-bilik jantung mereka? apa yang mereka ingkari? kebenaran bahwa Allah swt adalah Sang Pencipta dan Pengatur dunia berikut alam semesta. Ingkar bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw itu utusan Allah dan setiap pengikutnya diwajiban meneladani beliau setiap perkataan, perbuatan bahkan diamnya kecuali yang dikhususkan bagi Rasul saja dan terlaranfg bagi umatnya.

Pun ketika setiap persaksian di sumpah di bawah Alquran, setiap lisan dibasahi dengan bacaan Alquran, namun tetap mereka tegak berdiri dan mengatakan Islam buruk hukum selain Islam baik. Ironinya adalah mereka yang punya kekuasaan yang memiliki banyak kesempatan untuk mengubah setiap kemungkaran dengan kewenangan yang mereka miliki, namun mereka tunduk patuh pada kekuatan lain selain kekuatan Allah. mereka rela muysrik daripada dicela kaum Kafir laknatullah. Akibatnya, ketika pucuk pimpinan tak memegang teguh Islam, maka akar rumput pun mengikuti. Banyak kelompok pengajian, namun ketika amar makruf ditegakkan mereka menciptakan stigmatisasi buruk dan memecah belah keutuhan kaum Muslim. Dengan HAM, Inkonstisional, radikal, ekstrimisme. Terlebih menjelang Pemilu, banyak kamuflase dilakukakan. Tak penting bagi jamaah yang ia pimpin masih mengutamakan riba, tak risih tabaruj, zina, kholwat, ikhtilat bahkan musyrik sekalipun, asalkan jumlah anggota terus bertambah untuk tabungan suara pemilih. 

Pantas saja tutorial sederhana di atas tak pernah dipraktikkan karena memang tidak pernah dikenalkan secara sempurna. Dari kegiatan membaca secara benar, baik online maupun offline kelas-kelas membaca bertaburan, namun seringnya hanya berhenti pada kegiatan membaca, jika sudah lulus mereka lebih memilih mengulang dari awal dengan alasan supaya lebih menguasai, meski bisa jadi sertifikatnya sudah lebih dari satu. Tidak salah, namun tidak tepat jika tidak membersamai aktifitas membaca dengan mengkaji. sebab selain ia paham letak maqom setiap huruf bacaannya bagaimana, tentu ia juga harus paham bahwa rangkaian huruf yang membentuk kalimat dalam Alquran itu juga butuh dipahami, dipelajari, diterapkan sebagai pedoman hidup.

Kita hanya punya dua pilihan tempat kembali yaitu surga atau neraka, maka tak ada pilihan kita harus konsekwen menempuh syarat untuk menuju tempat kembali , jika surga, maka dari apa yang kita baca, kita imani selanjutnya kita terapkan artinya kita komitmen untuk sepanjang hidup kita terus menerus menghalalkan apa yang Allah halakan dan mengharamkan apa yang Allah haramkan. Menegakkan batas-batas hukumNYA sebagaimana menegakkan tanda baca dan pengucapannya dengan benar. Sebab makna tilawah dalam ayat 121 di atas makna syarinya adalah ittiba’ mengikuti, artinya tidak merubah apapun isi kitab yang berarti menjatuhkan diri dalam sikap kufur melainkan dengan penuh keimanan mengikuti hingga ruh terpisah dari jasad. Semoga kita semua dimudahkan dalam mengikuti kebenaran Alquran. Wallahu a’lam bishowab. 

Related Posts

1 of 32