POLITIK

Gen Z  dan Berkabutnya  Arah Pandang Kehidupan

Suara Netizen Indonesia–Data global dari Survei Deloitte Gen Z dan Milenial menunjukkan bahwa 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Angka ini dipicu oleh biaya hidup yang tinggi, sistem kerja gaji bulanan yang pas-pasan, serta kekhawatiran masa depan ekonomi. Dimana harga kebutuhan pokok dan tempat tinggal naik terus, banyak anak muda hidup dari gaji ke gaji tanpa sisa tabungan sementara krisis global dan inflasi membuat masa depan sulit diprediksi.

 

Dampaknya pada gaya hidup, sebagian besar memilih menunda pernikahan atau punya anak karena takut biaya, muncul tren frugal living atau hidup sangat hemat demi rasa aman hingga ketakutan soal uang mengganggu pikiran dan kualitas tidur (Deloitte.com, 26-11-2025).

 

Dan “ in this economy”  ternyata alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.

 

Sistem Kapitalisme Hancurkan Generasi

 

Semua fenomena di atas, tak mungkin tercipta begitu saja. Melainkan tersistem hingga tak ada satu pun yang bisa mengelak, inilah fakta sistem kapitalisme yang diterapkan negeri Indonesia tercinta ini, bukannya menyejahterakan namun justru  menciptakan tekanan ekonomi yang mengimpit Gen Z,  biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Sayangnya, dalam sistem kapitalisme ini, negara harus  lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Keikutsertaan negara, justru akan menghilangkan kemandirian rakyat, dan mengurangi  ketertarikan investor untuk berinvestasi di negeri  ini. Masih dalam pemahaman sistem ini, bahwa tanpa investor negara akan kesulitan membiayai seluruh biaya operasionalnya.  Sungguh teori yang sangat absurd.

 

Sistem kapitalisme juga sukses memperparah tekanan ekonomi dengan memunculkan  gaya hidup sekuler-liberal,  pemisahan agama dari kehidulan yang melahirkan bebas tanpa batas. Menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai “solusi” pelarian. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Tak hanya Gen Z, bahkan kebanyakan orang tak bisa lagi membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Hidupnya seolah berubah drastis menjadi hina dan tak berharga ketika opini massa lebih menghakimi daripada pemahaman terhadap pemikirannya pribadi.

 

Inilah krisis yang sesungguhnya ,lebih dalam dari apa yang tampak yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari rida Allah dan kemuliaan Islam. Sebenarnya mereka bisa merasakan betapa capeknya mengikuti apapun perkembangan hari ini baik terkait peristiwa dan bagaimana menyikapinya, namun seolah ada magnet lebih kuat untuk mereka abaikan daripada mereka tidak diterima sebagai “person utuh” oleh circle atau komunitasnya.

 

Daulah Khilafah Wujudkan Pemimpin yang Riayah

 

Jelas problem ini tak bisa disebut ringan, konsekwensinya jika tidak diatasi dengan baik, maka negara akan kehilangan para pemuda berkualitas yang siap membangun negara dan bangsa. Maka, tak ada jalan lain selain kembali kepada pengaturan Islam, yaitu dalam bentuk Negara Khilafah yang akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA yang berlimpah dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri.

 

Negara tidak hanya membuka job fair, tapi benar-benar menjadikan setiap individu rakyatnya, terutama pria baligh bisa memberi nafkah kepada keluarga tanpa rasa khawatir akan kekurangan yang tersistem. Seluruh kebutuhan dasar yang menyangkut sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan berada dalam jaminan negara. Tidak ada pungutan pajak dalam penghasilan mereka ,sehingga kesejahteraan bukan hanya isapan jempol. Melainkan nyata, dan sejarah mencatatkan sepanjang 1300 tahun, Islam memimpin dunia dengan aturan syariat.

 

Akidah Islam menjelaskan bahwa setiap perbuatan akan ada pertanggungjawabannya, maka Islam akan menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Ini hanya bisa dilakukan oleh sebuah negara yang tak sekadar besar tapi juga mandiri, tidak ada intervensi apapun dari negara non muslim.

 

Paradigma benar yang dibangun Islam tentang hakikat hidup manusia, yiatu untuk beribadah kepada Allah, bukan yang lain dan tidak ada disebut HAM sebagai hukum yang lebih tinggi daripada syariat, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Wallahualam bissawab. [SNI].

 

Related Posts

1 of 134