Suara Netizen Indonesia–Demo mahasiswa kembali datang bergelombang dari berbagai daerah dan universitas. Niatan mereka hendak menyampaikan aspirasi tapi zonk. Pemerintah yang diharapkan hadir mendengarkan, seolah mematenkan sikap tone deaft.
Bahkan acara diskusi Kopdar yang dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko dengan mengambil teman‘Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia’, malah berujung cheos. Hal itu karena lisan para pejabat itu samasekali tidak mencerminkan essensi Pancasila, seperti perkataan Nusron Wahid yang menyebut dirinya SPPG atau Satuan Pendukung Prabowo Gibran (CNNindonesia.com,17-6-2026).
Kemudian Nusron menambahkan dengan mengatakan telah mengalahkan capres dari lulusan UGM dan memenangkan Prabowo. Beliau lupa, Prabowo sempat kalah dalam pemilu dua kali yaitu 2004, 2009 dan 2019 dengan pemenangnya Jokowidodo yang alumni UGM. Mesa, Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, memiliki pendapat yang sama bahwa mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat.
Mesa menambahkan , saat ini mereka [pemerintah] tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki. Mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah. Kenyataannya memang pemerintah tak pernah mendengar suara rakyat. Bahkan demo dijaga berlapis oleh aparat, seolah berhadapan dengan musuh negara.
Menyampaikan pendapat memang dijamin konstitusi, apalagi ini negara Demokrasi yang salah satu pilarnya adalah bebas berpendapat, namun banyak pejabat yang justru mencela apa yang dilakukan para mahasiswa dengan turun ke jalan tersebut. Salah satunya, pendapat dari Menteri Agama Nasaruddin Umar yang meminta para pendemo menasehati pemerintah sebagaimana Nabi Musa menasehati Firaun. Ketika netizen menyebut Menag nyata-nyata menyamakan pemimpin negeri ini dengan raja lalim, Firaun, maka Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin pun pasang badan. Menurutnya, pernyataan Menag Nazaruddin tidak menyamakan siapa pun dengan Fir’aun.
Menurut Kamaruddin Amin, Menag memang mengimbau agar aspirasi apapun yang disampaikan kepada pemerintah harus dilakukan dengan mengedepankan akhlakul karimah. Ini sebagaimana Nabi Musa dan Nabi Harum diperintah untuk tetap santun saat akan memberikan nasihat kepada Fir’aun (kemenag.go.id,18-6-2026).
Sistem Kapitalisme Tak Pernah Benar-Benar Hargai Manusia
Menasehati adalah perintah syariat. Terlebih menasehati seseorang yang memegang kewenangan dan kekuasaan, yaitu pemimpin. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Zalim maknanya adalah tindakan bengis, kejam, tidak adil, atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Istilah ini merujuk pada perbuatan sewenang-wenang yang melanggar hak orang lain atau diri sendiri dan mendatangkan kerugian. Jika tindakan zalim ini dikerjakan oleh penguasa jelas dampaknya akan sangat luas.
Ketika kita melihat realita hari ini, hampir semua kebijakan penguasa rakyatlah yang jadi korban. Ketika Dollar naik misalnya, pemimpin mengatakan orang desa tak pakai Dollar. Memang benar, tapi ini adalah pernyataan menyesatkan. Sebab orang desa secara langsung memang dalam semua interaksinya tidak menggunakan Dollar langsung, tapi usaha mereka hampir semua berhubungan dengan kebijakan pemerintah impor yang itu menggunakan Dollar, mulai dari kedelai, pupuk, BBM, hingga plastik pembungkus. Walhasil, orang desa pun ikut menanggung sempitnya hidup akibat kenaikan bahan baku yang di luar nalar.
Bagaimana pula dengan Proyek Strategis Nasional Program MBG? Sudah jelas ada korupsi di dalamnya, jelas pula semua partai, pengusaha, anggota dewan hingga kepolisian dan TNI punya SPPG sehingga ketika akan diadakan efisiensi dan libur MBG karena siswa libur sekolah namun program tetap jalan, bukan rakyat yang lapar tapi para pengusaha itu khawatir dompet mereka kosong.
Islam Adalah Nasehat
Semua kesengsaraan hidup ini lebih kepada akibat tidak diterapkannya syariat Islam. Itu sudah pasti dan jelas, sebab senyatanya Islam hanya teronggok di buku-buku fikih dan qaul ulama dalam kajian-kajian hadis dan Sirah tapi bukan dalam kehidupan nyata. Padahal jelas pula, Islam adalah agama yang mengatur akidah dan syariat. Artinya, tak sekadar mengatur bagaimana cara beriman dan beribaga kepada Allah tapi sekaligus solusi bagi setiap persoalan hidup.
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “Agama adalah nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak (untuk) siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak (untuk) Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini dengan jelas menyebutkan salah satu nasehat dengan agama Islam adalah untuk pemerintah atau penguasanya. Menyampaikan jika memungkinkan di hadapannya, jika tidak maka boleh dilakukan dalam jumlah yang banyak.
Pada tahun ketiga kenabian setelah turunnya Surah Al-Hijr, kaum muslimin yang masih sedikit pernah melakukan pawai (masirah). Rasulullah SAW membentuk dua barisan: satu dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib dan satu lagi oleh Umar bin Khattab. Mereka melakukan thawaf secara beriringan dengan rapi dan tegas di depan Ka’bah untuk menunjukkan kekuatan Islam kepada kaum musyrikin Quraisy. Para ulama sebagai salah satu bentuk muzhaharah ( unjuk rasa damai) yang sah selama mematuhi koridor syariat (tidak anarkis, tidak merusak fasilitas umum, dan membawa maslahat).
Itu jika penguasa mau turun melihat rakyatnya langsung. Namun bagaimana jika bebal bahkan takabur sebagaimana Firaun? Nabi Musa tidak terus menerus memberi nasehat dengan cara yang lembut namun tegas, mengajak Firaun menyembah Allah. Dan ketika Firaun terus menerus menolak bahkan sampai pada titik menyatakan dirinya sendiri sebagai Tuhan yang patut disembah, Nabi Musa menggunakan mukjizat Allah bagi dirinya berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular besar serta tangan yang bercahaya. Mukjizat ini sukses mengalahkan para penyihir istana hingga mereka beriman kepada Allah.
Hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, bahwa menasehati penguasa itu dengan tauhid, sementara penguasa zalim itu harus didakwahi dengan lembut hingga keras. Sebagai hukuman Allah, Firaun tenggelam di dasar laut saat mengejar Nabi Musa dan rakyatnya. Semestinya, jika memang memberi nasehat yang baik adalah seperti Nabi Musa, lantas bagaimana dengan penguasa yang zalim? Tentulah bukan hanya dengan sopan santun dan kelembutan hati, karena itu tak akan mengubah apapun.
Maka, Islam menetapkan tiga pilar dalam sebuah negara, yaitu adanya Khalifah yang menerapkan Islam kâfah, rakyat yang amar makruf nahi mungkar dan kedaulatan atau pembuatan hukum hanya haknya Allah SWT. Maka, segala persoalan akan menemukan solusinya. Tak ada pemimpin zalim dalam Islam kecuali ia harus dinasehati. Apalagi hari ini penyebab kezaliman adalah akibat tidak diterapkannya hukum syara. Maka, sudah menjadi kewajiban kaum muslim untuk mulai menyadari mengubah keadaan ini menjadi tentram sentosa. Dan tidak terus menerus memilih pemimpin yang zalim, atau yang samasekali tidak mau menerapkan syariat Islam. Wallahualam bissawab. [SNI].










