POLITIK

Jika Allah Bertanya, Apa Jawaban Kita?

Tidak ada seorang pun yang dapat memikul dosa orang lain atau menyerahkan tanggung jawabnya kepada pihak lain.

Suara Netizen Indonesia-Sering kali kita berbicara tentang kebebasan. Kita ingin bebas menentukan pilihan hidup, bebas menentukan jalan yang akan ditempuh, bahkan bebas menentukan apa yang ingin kita lakukan hari ini dan esok hari. Dalam batas tertentu, itu memang benar. Allah menciptakan manusia dengan akal dan kehendak sehingga ia dapat memilih. Mau taat atau bermaksiat, mau mendekat kepada Allah atau menjauh dari-Nya, tidak ada paksaan yang menggerakkan tangan dan kaki kita. Kita sendirilah yang mengambil keputusan.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan kebebasan, yaitu pertanggungjawaban. Sebelum memutuskan sesuatu, seharusnya kita membiasakan diri bertanya, “Kalau nanti Allah menanyakan alasan di balik perbuatan ini, apa jawaban yang akan aku berikan?” Pertanyaan sederhana ini sebenarnya dapat mengubah banyak keputusan dalam hidup. Sebab seorang mukmin tidak hanya memikirkan apa yang ingin ia lakukan, tetapi juga apa yang akan ia pertanggungjawabkan.

Masalahnya, banyak orang merasa bahwa selama tidak ada manusia yang menegur atau menghukumnya, maka urusannya selesai. Padahal ukuran benar dan salah dalam Islam bukanlah apakah orang lain mengetahui atau tidak, melainkan apakah Allah ridha atau tidak. Dan yang lebih penting lagi, Allah telah menegaskan bahwa seluruh perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92–93)

Allah tidak mengatakan sebagian manusia akan ditanya, tetapi semuanya. Tidak ada satu pun amal yang lepas dari hisab-Nya. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari lembar pertanyaan. Tugas kita menjawab setiap soal pertanyaan itu.

Karena itu, ketika azan berkumandang lalu kita memilih untuk menunda atau bahkan meninggalkan shalat, sebenarnya kita sedang membuat sebuah keputusan. Kita memang bebas memilih keputusan tersebut. Akan tetapi, sudahkah kita menyiapkan jawaban jika suatu hari Allah bertanya mengapa perintah-Nya diabaikan? Kesadaran seperti inilah yang seharusnya membuat seorang muslim lebih berhati-hati dalam menentukan langkah hidupnya.

Hal yang sama berlaku dalam urusan menuntut ilmu agama. Banyak orang mengatakan dirinya tidak punya waktu untuk belajar Islam. Kesibukan pekerjaan, pendidikan, keluarga, atau aktivitas lainnya sering dijadikan alasan. Padahal setiap hari ada waktu yang dihabiskan untuk berbagai hal yang tidak terlalu penting. Jika suatu saat Allah bertanya mengapa kita begitu semangat mempelajari urusan dunia tetapi lalai memahami agama yang akan menjadi bekal menuju akhirat, jawaban apa yang akan kita sampaikan?

Hal yang sama saat kita keluar rumah dan belum menutup aurat sesuai tuntunan Rasulullah. Apa yang akan kita jadikan alasan saat Allah bertanya mengapa meninggalkan pakaian jilbab dan kerudung? Mungkin di dunia kita bisa membuat beragam alasan, tapi pastikan alasan itu sanggup kita ajukan nanti sebagai pembela dihadapan Allah. Sebab hakikatnya jawaban itu menentukan kita bisa dapat rahmatNya atau justru sebaliknya.

Begitu pula ketika kemungkaran terjadi di sekitar kita. Kita sering menyaksikan pelanggaran syariat, kezaliman, atau kemaksiatan, lalu memilih diam karena merasa itu bukan urusan kita. Memang benar bahwa kemampuan setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang mampu mengubah keadaan dengan tangan atau lisan. Namun paling tidak, Islam mengajarkan agar seorang mukmin tidak ridha terhadap kemungkaran yang terjadi. Maka sebelum memilih diam, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah alasan diam itu akan menjadi jawaban yang cukup ketika Allah meminta pertanggungjawaban?

Dalam perkara dakwah juga demikian. Tidak semua orang berdiri di atas mimbar, menulis buku, atau menyampaikan ceramah. Akan tetapi setiap muslim memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan yang dimilikinya. Ada yang berdakwah dengan ilmu, ada yang dengan tulisan, ada yang dengan dukungan tenaga, waktu, maupun harta. Termasuk ada yang share kebaikan lewat sosmed. Kita memang bebas memilih untuk terlibat atau tidak. Tetapi kebebasan itu tidak menghapus kenyataan bahwa kelak akan ada pertanyaan tentang apa yang telah kita lakukan untuk agama yang kita yakini kebenarannya.

Kesadaran untuk selalu menyiapkan jawaban inilah yang sebenarnya merupakan inti dari tanggung jawab. Orang yang memahami hakikat tanggung jawab tidak akan mudah berkata, “Ini hidupku, terserah aku.” Sebab ia sadar bahwa hidup ini adalah amanah. Setiap pilihan akan melahirkan konsekuensi, dan setiap konsekuensi akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)

Tidak ada seorang pun yang dapat memikul dosa orang lain atau menyerahkan tanggung jawabnya kepada pihak lain. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa manusia tidak akan dibiarkan begitu saja setelah menjalani hidup di dunia. Beliau bersabda:

 لَا تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara…” (HR. Tirmidzi)

Di antaranya tentang umur, ilmu, harta, dan tubuh yang telah Allah amanahkan kepadanya. Hadis ini mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar perjalanan yang berlalu begitu saja, tetapi perjalanan yang setiap bagiannya akan dimintai keterangan.

Memasuki bulan Hijriah ini, mungkin inilah saat yang tepat untuk membuat komitmen baru. Bukan hanya target pekerjaan, pendidikan, atau urusan dunia lainnya, tetapi juga target yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah. Barangkali kita tidak bisa langsung menjadi orang yang paling saleh, paling berilmu, atau paling banyak amalnya. Namun setidaknya kita bisa memulai dengan satu kebiasaan penting: menyiapkan jawaban sebelum bertindak. Sebab pada akhirnya, yang menentukan keselamatan kita bukan sekadar banyaknya pilihan yang pernah kita miliki, melainkan seberapa siap kita mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan itu di hadapan Allah SWT.

Wallahu’alam.[SNI]

Related Posts

1 of 134