PERISTIWA

Hadhanah: Khasanah Peradaban Islam

 

SuaraNetizenIndonesia_ Generasi adalah agen perubahan. Mereka didapuk mengemban amanah kebangkitan umat, dengan segala potensi yang mereka miliki. Tentu tidak mudah, karenanya tugas kita hari ini menyiapkan mereka agar siap memikul beban tersebut. Sebab anak-anak yang setiap harinya berada dalam buaian kita, merekalah yang kelak akan mewarnai peradaban.

 

Namun harapan tersebut tampaknya semakin sulit digapai, karena kini, bocah kecil pun harus menghadapi kenyataan pahit, berada dalam tatanan kehidupan sekularisme. Mereka tak mampu mengelak dari tekanan yang dihadapi setiap harinya, tak mampu mengeluh karena memang akal mereka belum bisa mencerna dan menyikapi sebuah peristiwa.

 

Itulah kondisi bayi-bayi malang yang berada di Day Care bermasalah. Mereka harus menghadapi kengerian yang luar biasa dahsyatnya sepanjang hari. Ayah dan ibu membayar mahal untuk sebuah jasa yang tak pernah mereka dapatkan. Malah berbalik menjadi teror, penelantaran dan penyiksaan. Kasus Day Care Little Aresha, di Sorosutan Yogyakarta ini, semakin menambah panjang daftar Day Care yang bermasalah.

 

Tak mudah memang mendirikan Day Care. Sejumlah syarat yang ketat, membuat banyak Day Care tumbuh tanpa izin. Rekrutmen pegawai bisa jadi tanpa melalui seleksi yang benar. Para ibu yang tinggal di sekitar Day Care menjadi pengasuh, meski tidak memiliki sertifikasi. Itu pun dengan jumlah terbatas, demi menekan pengeluaran. Akibatnya, pengasuh yang sedikit tadi, bisa saja hilang kesabaran saat menghadapi anak-anak.

 

Day Care hanya melihat anak-anak yang ada di sana, sebagai komoditi, sehingga rasa kasih sayang pun tak tumbuh dalam diri para pengasuh dan pengurusnya. Maka wajar jika perilaku mereka pun ala kadarnya terhadap anak-anak yang masih membutuhkan bonding ibu kandungnya. Di sinilah titik krusialnya, yakni terjadi pelepasan tanggung jawab. Meski Day Care bertebaran di banyak wilayah, tetapi sejatinya peran ibu tak bisa tergantikan olehnya.

 

Kasus ini mengakibatkan anak-anak mengalami trauma psikis dan fisik, yang perlu disembuhkan. Pemerintah menyediakan Pusat Pembelajaran Keluarga untuk pemulihan psikologis atau Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit untuk penanganan medis. Anak-anak dengan durasi panjang, artinya mereka lebih lama dititipkan di sana ketimbang lainnya, tentu akan mengalami trauma yang lebih dalam dan bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. Maka solusi tersebut akhirnya menjadi tidak efektif, sebab hanya bersifat reaktif saat terjadi kasus. Tidak mencegah munculnya masalah, pun tak mampu menjadi solusi yang mengakar.

 

Dalam kehidupan kapitalisme, persoalan manusia menjadi lahan bisnis. Hal yang dibebankan syarak kepada negara, malah diambil alih oleh swasta. Mereka menarik cuan untuk satu perkara yang sejatinya telah memiliki mekanisme tersendiri di dalam syariat. Solusi buah pikir manusia, mengandalkan logika dan untung rugi. Jauh dari keberkahan dan bertentangan dengan fitrah manusia.

 

Banyak Day Care berdiri, seiring kebutuhan yang pesat terhadap penitipan anak. Hal ini sejalan dengan program pemberdayaan perempuan yang mendorong para ibu berkarir di luar rumah. Di satu sisi tampak sebagai solusi, tetapi di sisi lain menjadi persoalan baru, sebab anak tercerabut dari limpahan kasih sayang ibunya, di rentang usia awal pertumbuhannya.

 

Hadhanah dalam Islam

Dalam Islam, tugas ayah adalah memastikan keamanan anak, melalui kepemimpinannya (qawam) di dalam keluarga. Sedangkan ibu adalah penjaga generasi (ummu ajyal) yang memastikan anak-anak tumbuh dalam pengasuhan yang baik.

 

Ibu berhak dan wajib mengasuh anak (hadhanah), terutama pada anak yang masih menyusui. Apabila ibu tidak ada karena sakit, hilang akal, fasik, meninggal dunia atau sebab lainnya, maka tanggung jawab tersebut bergeser ke jalur ibu. Jika seluruh jalur ibu terputus, karena tidak ada atau tidak mampu, maka pengasuhan beralih kepada ayah. Dan akan terus bergerak di jalur ayah, saat ayah tidak ada atau tidak mampu menjalankannya. Syara’ telah menetapkan jalur hadhanah, untuk menjaga anak dari kebinasaan.

 

Dalam Islam, ibu adalah sekolah pertama bagi anak (madrasatul uula). Ibu yang mengajarkan kata pertama, membimbing gerak dan langkah anak, serta cara mereka mengekspresikan perasaan dengan benar. Pada tahun-tahun berikutnya, ibu dan ayah bersinergi menanamkan pemahaman yang benar, sehingga anak memiliki kepribadian yang baik serta mampu memposisikan dirinya dengan tepat, di tengah kehidupan.

 

Kedua orang tua pun wajib memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti pangan, sandang dan papan. Mereka berhak atas kasih sayang, penjagaan terhadap keamanan jiwa dan raganya, jaminan kesehatan serta pendidikan yang benar untuk perkembangan kepribadiannya. Maka setiap orang tua harus memastikan hal tersebut diterima dengan baik oleh anak-anak mereka.

 

Masyarakat pun harus terlibat dalam penjagaan anak, melalui pengawasan terhadap penerapan hukum Allah. Apabila terjadi kelalaian terhadap penjagaan anak, maka masyarakat wajib menasehati, sebagai upaya perbaikan serta deteksi dini. Seiring dengan itu negara pun menegakkan persanksian yang tegas bagi pelaku pelanggaran.

 

Negara juga wajib mengelola seluruh urusan warganya dengan memenuhi seluruh kebutuhan pokok, termasuk lapangan pekerjaan, merata di setiap wilayah. Maka tak akan terjadi masyarakat urban, yang mengais rezeki di kota-kota yang jauh. Ketika para ayah dan ibu beraktivitas di ranah publik, mereka dengan mudah mendelegasikan amanah hadhanah sesuai jalurnya. Tak perlu merisaukan jarak tempat tinggalnya dengan kerabat, sebab semua dekat dan mudah dijangkau.

 

Dalam Islam, para ibu boleh berkontribusi di tengah masyarakat untuk meninggikan kalimatullah, mengembangkan ilmunya bagi kemaslahatan umat, berkontribusi di dalam gerakan perubahan, serta menebarkan dakwah. Hal itu tak akan sulit terealisasi saat ibu menitipkan anaknya sesaat, pada orang-orang yang memang diamanahi Allah untuk melakukan hadhanah.

 

Inilah kekayaan khasanah peradaban Islam yang meniscayakan generasi emas, yaitu anak-anak yang berada dalam pengasuhan ibu tangguh yang mempersiapkan anak-anaknya, dengan sungguh-sungguh, sebagai pemimpin peradaban. Generasi yang berkepribadian baik, beriman, sehat jiwa raganya, dan berilmu. Hal ini hanya akan terwujud dalam kehidupan Islam, yaitu saat setiap insan berjalan sesuai tuntunan Allah SWT. Allahumma ahyanaa bil Islam.

Related Posts

1 of 20