PERISTIWA

Kemuliaan Dzulhijjah dan Sepuluh Malam Yang Agung

Suara Netizen Indonesia-Kita telah tiba pada sepuluh malam yang agung, Allah Swt. Telah bersumpah dengannya, yaitu sepuluh malam awal dibulan Dzulhijjah.

وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ ۝٢

“Demi malam yang sepuluh” (TQS. Al-Fajr:2)

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan. Hal ini karena banyaknya peristiwa penting yang terjadi dibulan ini. Kata “Dzulhijjah” berasal dari bahasa Arab, “Dzul” yang bermakna ‘pemilik’ dan “Hijjah” yang bermakna ‘perkara’. Secara harfiah, “Dzulhijjah” dapat diartikan sebagai bulan yang memiliki perkara-perkara agung.

Merujuk pada kitab Durrat Al-Nasihin, Ibnu Abbas pernah meriwatkan sebuah hadits yang berasal dari Rasulullah Saw. Hadits tersebut memberitahukan mengenai berbagai peristiwa besar yang terjadi pada bulan Dzulhijjah diantaranya pembangunan Ka`bah, peristiwa Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, pengampunan Allah Swt. untuk Nabi Adam, Allah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan, lahirnya Nabi Isa, dikabukannya doa Nabi Zakaria, lahirnya Nabi Musa, pintu neraka ditutup dan pintu kebaikan dibuka. Oleh sebab itu memperbanyak ibadah dan amal shalih di bulan ini memiliki banyak keutamaan dan pahala.

Selain itu bulan Dzulhijjah menjadi momen puncak dari berbagai ibadah agung, di dalamnya umat Muslim menunaikan ibadah haji, melaksanakan wukuf di Padang Arafah, berlangsungnya perayaan besar umat Islam yang ditandai dengan shalat Id Adha dan penyembelihan hewan qurban sebagai wujud ketakwaan. Di dalam bulan ini juga terdapat Hari Tasyrik yaitu pada 11, 12, 13 Dzulhijjah yaitu hari di mana jamaah haji melontar jumrah.

Dari Abu Bakrah radhiyallahu`anhu, Rasulullah Saw. bersabda :

“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari Nomor 1912 dan Muslim Nomor 1089).

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan haram (asyhurul hurum), Rasulullah menganjurkan agar melaksanakan ibadah tertentu, terutama saat sepuluh hari pertama. Di dalam hadits riwayat Bukhari Nomor 969, Rasulullah Saw. bersabda :

“Tidak ada hari di mana amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Tidak pula ditandingi dengan jihad fi sabilillah?’ ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali jika orang tersebut keluar berjihad lalu sesuatu membahayakan diri dan hartanya lantas kembali dalam keadaan tidak membawa apa pun.”

Berikut ini amalan yang dianjurkan dilakukan pada bulan Dzulhijjah:

Berpuasa, Terutama di Hari Arafah

Sebagai seorang Muslim, kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah sejak memasuki hari pertama hingga hari ke-9 di bulan Dzulhijjah. Namun jika terhalang dari menunaikannya, dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah-nya saja yaitu pada 9 Dzulhijjah.

“Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. An-Nasai).

Memperbanyak Zikir

Memperbanyak zikir di bulan Dzulhijjah, khususnya pada 10 hari pertama, merupakan amalan yang sangat dicintai Allah Swt. Umat Islam dianjurkan melafalkan tahlil, takbir, tahmid dan tasbih sebagai bentuk pengagungan untuk meraih pahala yang berlipat ganda.

“Diantara hari-hari tidak ada hari yang lebih agung menurut Allah dan tidak ada hari yang paling dicintainya. dari pada hari sepuluh (sepuluh hari awal dzulhijjah), pada hari itu perbanyaklah membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir”. (HR. Ath-Thabarani).

Ahli tafsir menjelaskan bahwa hari-hari yang telah ditentukan tersebut salah satunya 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah.

Berhaji Jika Mampu

Bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari puncak dalam rangkaian musim haji. Rangkaian ibadah haji intinya berlangsung selama kurang lebih enam hari, dimulai sejak tanggal 8 hingga 13 Dzulhijjah.

Menyembelih Qurban

Keutamaan ibadah lainnya di bulan Dzulhijjah adalah melaksanakan satu amalan penting dalam Islam yang dilakukan pada hari raya Idul Adha, yaitu berqurban. Penyembelihan hewan qurban di bulan Dzulhijjah sah dilakukan pada tanggal 10 (hari raya Idul Adha) setelah shalat Id, serta pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik). Sabda Rasulullah Saw.

“Barangsiapa menyembelih (hewan qurban) setelah shalat (ied) maka ibadah qurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat.” (HR. Bukhari) [No. 5545 Fathul Bari] Shahih.

Setelah disembelih, daging qurban dibagikan kepada seluruh umat Islam, terutama kaum fakir dan miskin. Ibadah qurban ini diikuti amalan lain yaitu disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut sampai hewan qurban telah disembelih.

“Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (H.R. Muslim).

Memperbanyak Sedekah dan Amal Shalih

Sebagai Muslim kita dapat mengisi bulan ini dengan melaksanakan berbagai kebaikan dan amal shalih, karena ganjaran untuk amal-amal ini akan Allah lipatgandakan. Maka tidaklah patut sama sekali jika kita melewatkan kesempatan ini, berbahagialah bagi siapa saja yang berusaha untuk memperoleh keagungan ini.

Bayangkan jika seorang pedagang yang tamak pada keuntungan, di sisi lain ditumpuk oleh utang-utangnya, sehingga datang musim berdagang, kemudian ia tidur dimasa itu, membiarkan musim itu berlalu begitu saja, apakah kondisi tersebut logis?

Justru bulan Dzulhijjah ini adalah musim kita berniaga dengan Allah Swt. Musim bagi kita untuk meraih keuntungan di dalamnya dengan mendekatkan diri kepada Allah serta melunasi utang-utang dosa kita. Oleh sebab itu bersemangatlah wahai para perindu syurga, perbanyaklah shalat, membaca Al-Qur`an, puasa, menyambung silaturahmi, berbagi dengan orang-orang fakir, berdakwah, melakukan amal ma`ruf nahi mungkar.

Mengulang Sejarah Untuk Mengukir Sejarah Baru

Di bulan Dzulhijjah, seharusnya umat Muslim tidak hanya memusatkan perhatian pada ibadah-ibadah individu seperti puasa, salat, dzikir, sedekah, dan qurban, melainkan hari-hari ini juga menjadi pengingat salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam yaitu peristiwa Baiat Aqabah.

Pada hari-hari mulia ini, sekelompok orang dari Yatsrib berbaiat kepada Nabi Saw. dan menerima tanggung jawab untuk mendukung agama dan dakwah Islam. Baiat-baiat ini menjadi landasan bagi hijrah Nabi dan pembentukan pemerintahan Islam di Madinah.

Baiat Aqabah Pertama menandai awal penyebaran Islam di Madinah, dan Baiat kedua membuka babak baru di mana umat Muslim berjanji untuk membela dan menolong Nabi. Kaum Anshar tidak hanya puas dengan keimanan hati, melainkan dengan pengorbanan dan tanggung jawab, mereka memberikan pertolongan bagi agama, dan oleh karena itu mereka dipuji dalam Al-Qur’an.

Kita harus menyadari bahwa Islam bukan hanya kumpulan ibadah-ibadah individu, melainkan agama yang memperhatikan pembangunan masyarakat, persatuan umat, dan penegakan pemerintahan. Demikian pula, umat Muslim saat ini,  menghadapi masalah-masalah seperti perpecahan, kelemahan, dan ketercerai-beraian, membutuhkan penghidupan kembali semangat persatuan, pertolongan bagi agama, dan kerja kolektif untuk mengembalikan kekuasaan Islam.

Semoga Allah memberkahi kita dan mengumpulkan kita di tempat yang mulia sebagaimana gembiranya kita menjalani amal shalih di bulan yang mulia ini. [SNI]

Related Posts

1 of 21