Peran Pemuda dalam Kebangkitan

 

Berpuluh tahun yang lampau, para pemuda telah menorehkan tinta emas dalam lembar sejarah negeri ini. Pada berbagai peristiwa penting, seperti perjuangan melawan penjajah atau saat mereka menyampaikan aspirasi masyarakat kepada penguasa, para pemuda hadir menjadi yang terdepan.

 

Begitu pula halnya pada skala kepemimpinan dunia, pemuda telah menjadi sosok yang diperhitungkan. Seorang pemuda yang bernama Al-Arqam bin Abil Arqam (16 tahun) menjadikan rumahnya sebagai pusat dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut. Ada pula Zubair bin Awwam (15 tahun) yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah, yang kemudian diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya. Zaid bin Tsabit (13 tahun) menjadi seorang penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani, sehingga menjadi penerjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al-Qur’an.

 

Atab bin Usaid (18 tahun) adalah seorang pemuda yang diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai Gubernur Makkah. Serta Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun) pemuda belia yang telah membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada Perang Badar. Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun) adalah orang Arab yang berhati mulia. Ia bersedia mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

 

Masih banyak sosok pemuda sekelas negarawan, di masa kejayaan Islam. Nama mereka harum semerbak mewangi, dikenang, hingga berabad lamanya. Tetapi tentu saja mereka tidak lahir dari ruang hampa. Kepiawaian mereka pun tidak otomatis terjadi begitu saja. Tetapi dibentuk oleh sistem sahih yang datangnya dari Rabb, pencipta alam semesta, yang dapat menumbuhkan pribadi baik dalam diri mereka.

 

Akan tetapi hari ini, keistimewaan pemuda telah digerus oleh zaman. Pribadi kuat dan tangguh yang dahulu mereka tunjukkan, kini semakin memudar seiring berbagai problema yang berkelindan dalam kehidupan mereka. Alih-alih memimpin umat dan menyelesaikan permasalahan, kini bahkan label ‘generasi stroberi’ yang rapuh dan mudah hancur pun akhirnya disematkan kepada mereka. Tentu kita tidak berharap yang demikian, sebab umat tidak mungkin bergantung pada sosok yang lemah.

 

Kondisi ini disebabkan sekularisme, dengan landasan fashludin anil hayah, menjauhkan agama dari kehidupan. Manusia menegasikan peran Allah dan syariat-Nya, menggantinya dengan aturan buatan sendiri. Materi, menjadi tujuan kebahagiaan. Tolok ukur perbuatan, bukan lagi halal dan haram. Maka wajar jika kemudian muncul berbagai masalah, yang tidak dapat dipecahkan dengan kepandaian akal manusia. Apabila hal ini dibiarkan, kerusakan akan menggunung dan menghambat kebangkitan umat.

 

Kembalikan Peran Pemuda 

Pemuda adalah agen perubahan. Mereka menjadi tumpuan harapan umat. Di pundak merekalah diletakkan, beban kebangkitan. Maka perlu perubahan sistematis untuk mengembalikan posisi pemuda agar mampu mengemban tugas sebagai pemimpin umat. Sebab beragam kasus yang berkelindan dalam kehidupan pemuda saat ini, seperti tawuran, geng motor, begal, selfharm, bunuh diri, putus sekolah, perundungan dan sebagainya, akan mencederai dan menjadikan mereka tidak berdaya.

 

Mereka membutuhkan pertolongan dan kerja sama dari banyak pihak seperti keluarga, masyarakat, institusi pendidikan dan negara, agar tuntas permasalahan mereka. Mereka pun perlu didengar, diperhatikan dan diberi teladan baik yang datangnya dari Islam. Perlu banyak faktor, agar mereka mengerti posisi mereka di dalam sebuah peradaban dan memantapkan keberadaannya di tengah umat.

 

Keluarga sebagai instusi awal yang akan menjadi madrasatul uula atau sekolah yang pertama, untuk membentuk pondasi awal. Di sinilah periode yang krusial, tatkala para ayah dan ibu mulai memahat generasi. Karenanya kualitas kedua orang tua perlu dibenahi dengan penanaman akidah yang lurus serta berbagai ilmu dan kekayaan tsaqafah.

 

Ibu pun perlu pendampingan dari sosok ayah, yang merupakan qawwam (pemimpin) dalam keluarga. Ayah akan menjaga, mengayomi dan melindungi keluarganya. Peran ayah pun tak lepas dari kemampuannya menyiapkan finansial bagi keluarga.

 

Maka negara perlu turun tangan menciptakan kondisi ekonomi yang baik, serta pemeliharaan berbagai urusan masyarakat, agar terbentuk ketahanan keluarga. Dengan kekuatan yang dimilikinya, negara pula yang akan membentuk lingkungan sehat bagi tumbuh kembang generasi.

Seluruh pencetus timbulnya kasus kejahatan yang menimpa pemuda pun, harus dihilangkan, seperti kehidupan serba bebas, pornografi dan pornoaksi, penerapan ekonomi liberal, tayangan kekerasan, dan sebagainya. Negaralah yang memiliki perangkat dan wewenang terhadap hal ini, melalui bentuk-bentuk kebijakan, maupun persanksian.

 

Penjagaan yang seperti ini meniscayakan tumbuhnya generasi terpilih. Menancapkan nilai-nilai agama dan keimanan, dalam diri pemuda, agar mereka tumbuh sebagai pemuda takwa. Disertai edukasi kepada arah pandang kehidupan yang sahih, agar jelas gambaran kehidupan yang seharusnya mereka jalani.

 

Mereka pun perlu dilibatkan dan diajak memperhatikan masalah-masalah umat, sekaligus mencarikan solusi sahih. Harapannya para pemuda kembali menjadi jati dirinya sebagai pemimpin-pemimpin peradaban yang siap mengguncang dunia. Inilah mutiara umat yang siap menjadi pemimpin peradaban, dan kebangkitan umat. Allahumma ahyanaa bil Islam.

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Marak Perundungan Anak, Dimana Letak Masalah Utamanya ?

Kasus perundungan tidak akan menuai penyelesaian dengan seruan revolusi mental, pendidikan berkarakter ataupun kampanye anti bullying. Sesungguhnya akar utama masalah perundungan adalah sistem kehidupan sekuler liberal yang rusak dan merusak. Sebaliknya, permasalahan generasi saat ini akan menuai penyelesaian dengan mengembalikan peradaban Islam yang komprehensif dalam lingkup keluarga, masyarakat dan negara melalui institusi Khilafah. 

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *