Untukmu Ibu…

Menemui segenap Ibu di negerinya Ibu Pertiwi…

Ibu, adakah engkau menyimak berita-berita itu dan merasakan rambut di sekujur tubuhmu meremang? Bagaimana tidak, tiga bocah usia delapan tahun tega melecehkan gadis cilik yang baru duduk di bangku TK. Astaghfirullah.

 

Belum lama berselang, ratusan bahkan ribuan pelajar SMP di provinsi timurnya Pulau Jawa  ramai mengajukan dispensasi usia nikah. Tepatnya ada 15.212 permohonan dispensasi nikah di Jawa Timur sepanjang tahun 2022. Sebabnya tak lain karena sudah keburu hamil. (detik.com, 20/1/2023).

 

Wahai Ibu yang baik, kondisi negeri yang baru saja melalui pandemi memang sedang tidak baik-baik saja. Beban ekonomi yang berat tak jarang membuatmu enggan bila hanya berpangku tangan. Namun tiada terdengar sedikit pun keluhmu saat ikut menyingsingkan lengan  bekerja  demi ekonomi keluarga tetap tegak. Meski taruhannya, waktu untuk   membimbing buah hatimu berkurang.

 

Wajar kemudian bila engkau berharap pihak sekolah sedikit banyak mengisi celah kekurangan yang engkau tinggalkan. Namun apa daya, kurikulum yang kerap berganti membuat guru sebagai mitra kerjamu dalam membentuk kepribadian anak acap kali gelagapan. Alih-alih pendidikan karakter yang ditanamkan, tak sedikit tenaga pengajar yang keburu lelah dengan tugas administrasi demi memelihara sertifikasi.

 

Amboi… tersisa negara tempatmu  melabuhkan asa. Tidak salah kiranya, tapi ingat justru salah satu lembaga negara yang memberlakukan secara resmi apa yang disebut kurikulum merdeka. Di dalamnya, bahkan tujuan pendidikan nasional yang tersurat dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No.20/2003 sudah entah di mana gerangan berada. Jika sebelumnya, pendidikan ditujukan agar anak-anak kita menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, dan berilmu, lalu esok lusa akan dibawa ke mana? Tiada lagi jawaban pasti.

 

Duhai Ibu sayang…

Bila sejenak saja kita  jujur  untuk menjenguk lebih jauh  sumber dari segala keruwetan ini, maka akan kita temukan sekularisme di sana. Ya, dipisahkannya kehidupan dari norma  agama yang berlaku masif  membuat anak-anak kita memilih cara gaul bebas, tenaga pendidik kehilangan pijakan dan negara  disibukkan dengan  tuntutan dunia usaha dan industri.

 

Apalagi diopinikan di tengah kita, bahwa semua agama benar. Akibatnya satu agama dengan yang lainnya dilarang mengklaim paling layak diikuti kebenarannya. Padahal sejatinya hal ini absurd. Sebab ketika kebenaran tak bisa diklaim, di saat yang sama seseorang kehilangan alasan untuk beragama. Toh, semuanya sudah benar. Jelas ini berbahaya karena risikonya, cita-cita mencetak generasi yang shalih, cerdas dan berbakti pada orang tua bakal makin jauh dari kenyataan.

 

Lebih jauh,   memisahkan  agama  dari kehidupan baik di level individu, masyarakat maupun negara sungguh di luar nalar. Terutama bagi kita, umat Islam. Sebab tunduk pada aturan atau syariat Islam secara totalitas tak lain panggilan dari sebuah keimanan.

 

Firman Allah swt.,

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(QS. An Nisa:65).

 

Dalam hal pendidikan, syariat Islam menugaskan negara untuk menaruh perhatian lebih besar. Karena sektor ini merupakan investasi paling berharga bagi sebuah bangsa.

 

Maka seluruh daya dan upaya dilakukan secara sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis oleh negara  guna membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam, yaitu yang berpegang teguh pada keimanan, taat syariat, menguasai ilmu Islam, sains dan ketrampilan. Di sisi lain, semua sarana yang mengarah pada hal yang kontra produktif macam media hiburan berikut pornografi mau pun porno aksi terlarang keberadaannya di tengah masyarakat.

 

Tengoklah sejarah di masa kekhilafahan Islam, negara memberikan jaminan pendidikan secara cuma-cuma  dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan  sarana dan prasarana   optimal. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan  negara dan seluruh anggaran operasionalnya diambilkan dari Baitul mal.

 

Dari Madrasah Al-Mustanshiriah yang didirikan  Khalifah Al-Muntashir di Baghdad salah satunya. Kehidupan keseharian siswa dan guru dijamin sepenuhnya, fasilitas sekolah  lengkap, terpisah antar laki-laki dan perempuan,  perpustakaan, rumah sakit, serta asrama untuk  siswa sekaligus perumahan bagi staf pengajar. (M. Ismail Yusanto dkk, Menggagas Pendidikan Islami, 2018).

 

Maklum jika hasilnya sederet panjang nama muslim yang masyhur  ke seluruh dunia  hingga kini. Sebut saja, bapak kedokteran dunia, Ibnu Sina, penemu angka nol, Al Khawarilzmy, dan masih banyak lagi yang tidak kalah cemerlangnya. Tidakkah kita menginginkan buah hati cahaya mata kita mengikuti jejak generasi emas muslim terdahulu?

 

Ibu,  saatnya  kita  bersama meniti kembali jalan  yang ditempuh Rasulullah Saw. dan para sahabat dan sahabiyah. Mari mengkaji Islam dan menyampaikannya ke seluruh keluarga, kerabat dan tetangga hingga dunia menyadari indahnya hidup di bawah naungan syariah yang kafah sesuai tuntunan Al-Qur’an, pedoman hidup juga surat cinta Sang Pencipta untuk segenap makhluk-Nya.

 

Salam sayang untukmu Ibu… dari penulis yang juga seorang ibu.

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Marak Perundungan Anak, Dimana Letak Masalah Utamanya ?

Kasus perundungan tidak akan menuai penyelesaian dengan seruan revolusi mental, pendidikan berkarakter ataupun kampanye anti bullying. Sesungguhnya akar utama masalah perundungan adalah sistem kehidupan sekuler liberal yang rusak dan merusak. Sebaliknya, permasalahan generasi saat ini akan menuai penyelesaian dengan mengembalikan peradaban Islam yang komprehensif dalam lingkup keluarga, masyarakat dan negara melalui institusi Khilafah. 

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *