Hidup Hanya Sekali

Hidup Hanya Sekali

 

   “Hidup hanya sekali, nikmatilah rokokmu!” Begitu kata yang sering Danu ucapkan pada rekan-rekan kerjanya.

   Buruh lepas di sebuah pabrik kerupuk dengan gaji di bawah UMK itu termasuk pria yang rajin. Semangat kerjanya menyala karena dorongan Ratih sang istri. Senyum mengembang akan Ratih persembahkan jika Danu bisa membawa pulang uang tambahan hasil lemburnya. 

   “Dik, ini buat beli susu Dara, sudah seminggu dia tidak minum susu.” Ratih mengangguk senang.

   Diam-diam dia membelikan susu kemasan kecil untuk Dara. Sisa uangnya dia pakai untuk membeli gincu yang lagi trend. Mahal memang harganya, 50 ribu rupiah. Ratih bahagia akhirnya bisa menggenggam gincu yang diidamkan sejak dua bulan lalu. 

   “Mas, mbok berhenti merokoknya, lumayan kan uangnya bisa buat tambahan beli beras!” Hardik Ratih suatu hari.

   “Hidup hanya sekali, Dik, uang beras kan sudah aku kasih,” jawab Danu santai.

   “Mbok pikirkan kesehatanmu, Mas, rokok itu isinya racun!”

   “Halah, merokok enggak merokok ya sama saja, nanti mati juga! Hidup hanya sekali, nikmati selagi bisa!” Sanggahan Danu membungkam mulut Ratih.

   Danu tidak peduli rokok telah membelenggunya. Tubuhnya terus menagih aroma rokok jika Danu berhenti. Panggilan untuk mengisap batang rokok saat lembur tak terelakkan. Satu hingga tiga bungkus habis untuk menemani aktifitasnya menggoreng kerupuk. Mungkin sejatinya dia sadar akan bahaya rokok, namun rokok sudah berhasil memperbudaknya. Bagaimana tidak? Uang hasil jerih payahnya, lebih banyak dia habiskan untuk membeli rokok. Memuaskan raganya yang tidak bisa lepas dari aroma rokok. Nikotin dalam rokok benar-benar ampuh membuat ketagihan.

   Dalam diam Ratih sering menahan pilu. Terkadang hanya ingin menikmati opor ayam saja tidak mampu. Uang belanja dari Danu suaminya sering hanya cukup untuk membeli beras, bumbu dapur dan tahu. Apalagi untuk membeli gincu? Dia harus memotong dari jatah membeli susu.

   Gincu, sederhana tapi dia penentu. Mulut tetangga mengacaukan nalar. Ratih yang tidak suka dandan, terpaksa membeli gincu demi tampil beda di hadapan mereka. Meski dia harus mengambil jatah sebagian uang untuk beli susu. Ratih tak peduli, yang penting dia tidak dianggap sebelah mata karena terlihat kucel berwajah polos tanpa pemerah bibir. “Kalau sudah menikah itu harus dandan, biar enggak kelihatan kayak orang susah!” Begitu kata Bu Susi tetangganya yang terus berputar di otak Ratih.

   “Uhuuk, huuk, uhuuk, huuuk ..” suara batuk Danu memecah hening malam gulita.

   “Dik, tolong ambilkan minum,” pinta Danu lemah.

   Bergegas Ratih mengambil segelas air putih dan disodorkan ke arah Danu.

   “Kok makin parah batukmu, Mas, besok periksa ke Puskesmas, ya?” Ratih terlihat panik.

   “Enggak usah, aku baik-baik saja.” Tolak Danu sambil menarik selimut untuk melanjutkan tidur.

   Ratih menghela napas panjang. Mata sulit kembali terpejam, hati gelisah mengkhawatirkan kesehatan suaminya.

   Sudah seminggu, Danu selalu terbangun tengah malam karena terganggu batuk yang kian menjadi. Ratih iba namun hanya getir tersisa di hatinya, tak kuasa melawan keras kepala sang suami. Ratih teringat kata Bu Bidan saat penyuluhan kader posyandu di balai RW bulan lalu. “Dalam sebatang rokok ada lebih dari 4000 bahan kimia. Setidaknya, 60 dari bahan kimia tersebut mampu menyebabkan kanker. Rokok juga bisa menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, atau stroke. Bahaya merokok yang bisa dirasakan sehari-hari adalah batuk-batuk, sesak napas, lebih mudah lelah, lebih rentan terhadap infeksi, atau mengalami gangguan tidur yang ditandai dengan sulit bernapas pada malam hari kemudian merasa kelelahan di pagi hari.”

   “Persis Mas Danu akhir-akhir ini,” gumam Ratih diselimuti rasa khawatir.

   Pagi itu, saat asyik merampungkan ulekan sambalnya. Ratih dikagetkan suara Yanto teman kerja Danu berteriak di depan rumah.

   “Tih, Ratiih! Danu, Tih!”

   “Kenapa Mas Danu, Yan?” Ratih berlari membuka pintu.

   “Dibawa ke rumah sakit, Tih, tadi batuk-batuk terus sesak napas,” ucap Yanto tersengal.

   “Ya Allah, Mas Danu! Anterin aku ke rumah sakit, Yan!”

   Setelah menitipkan Dara pada tetangganya, Ratih bergegas menuju rumah sakit membonceng motor Yanto. Panik menjalar memenuhi sukma. Airmata tak terbendung.

   “Sabar, Tih,” suara Yanto dari depan kemudi mencoba menguatkan hati Ratih.

   Sesampainya di IGD, Ratih langsung disambut oleh dokter jaga yang meminta persetujuannya untuk menangani Danu lebih lanjut.

   “Ibu, ini harus segera dilakukan trakeostomi karena saluran pernapasan Bapak Danu terganggu, jika tidak segera ditangani bisa mengancam jiwa pasien.” 

   “Apa itu, Dok?” Ratih meminta informasi lebih lanjut.

   “Pembuatan lubang di leher untuk membantu melancarkan saluran napas pasien, Bu.” Keterangan dari dokter yang membuat tulang sendi Ratih melemas, pasrah. “Ya Allah, biayanya dari mana?”

   “Yan, kamu ada uang enggak?” Tanya Ratih memelas.

   “Coba nanti tak tanyain biayanya bisa BPJS atau tidak, yang penting Danu bisa ditangani dulu sama dokter, darurat, Tih.” Meski sebenarnya Yanto bingung, namun dia berusaha menenangkan Ratih soal biaya.

   15 hari dirawat, biaya Rumah Sakit pun kian membengkak, karena sakit yang diakibatkan oleh hobi yang membahayakan diri sendiri tidak ditanggung BPJS. Hutang menumpuk semakin membuat Ratih terpuruk. Jangankan memikirkan mengoles gincu di bibir. Sekedar memuaskan lidah dengan ayam goreng saja dia tak mampu. Nasi berteman tempe goreng, sambal terasi dan kerupuk menjadi santapan harian Ratih. Kerupuk juga dia dapatkan dari Yanto. Pecahan-pecahan kecil kerupuk yang tidak layak jual dari pabrik tempat Danu dan Yanto bekerja. 

   Kondisi kesehatan Danu yang sudah tidak bisa beraktifitas seperti biasa, otomatis PHK dijatuhkan padanya. Ratih kalang kabut mengais rupiah dengan menjadi buruh cuci di tetangga sekitar rumahnya. Lima puluh ribu rupiah sehari upah yang lumayan bagi Ratih. Dua puluh lima ribu rupiah untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sisanya dia pakai untuk mencicil hutang biaya pengobatan Danu.

   Sesal tiada guna. Danu kini hanya bisa menghabiskan waktunya berbaring atau duduk-duduk saja. Semua keperluan, makan, minum, mandi, BAK, BAB dibantu, disiapkan dan dilayani oleh Ratih. Napasnya akan tersengal-sengal jika terlalu banyak bergerak.

   Hiburan Danu hanya gawai buatan China miliknya. Laman Facebook menjadi tempat favorit bersosialisasi. Hingga suatu hari, dia tergelitik untuk membuka link berita yang dibagikan Yanto yang lewat di beranda facebook-nya. Pikiran Danu menerawang jauh. Marah, kecewa, juga sesal mengobrak-abrik hatinya.

   “Kurang ajar, aku terperdaya selama ini! Ya Allah, ampuni hamba, maafkan aku Ratih, istriku ..” gerutu penyesalan Danu.

   Airmata mengalir deras sejurus dia membaca berita tentang Bos perusahaan rokok kesukaannya. Baru-baru ini pemilik perusahaan rokok itu merayakan ulang tahun yang ke-80. Meski sudah berumur dia kelihatan masih bugar. Senyum bahagia mengembang terpancar dari fotonya. Menikmati masa tua damai tentram ditemani anak cucu kesayangan dengan berlimpah kekayaan. Rahasia hidup sehat kakek tua itu ternyata salah satunya adalah “Tidak Merokok!” Danu tercengang membacanya. Iri melihat kebahagiaan Bos rokok tersebut. Menua, sehat dengan posisi sebagai orang terkaya di negeri Indonesia ini. “Dan aku, salah satu penyumbang kekayaannya itu, terduduk di sini tak berdaya dengan lubang di tenggorokan menelan getir pahitnya kehidupan dalam sunyi sendiri, hidup hanya sekali, telah aku sia-siakan!”

   Benar-benar efek kapitalisme dan sekularisme kian nampak nyata. Segelintir orang mengejar keuntungan setinggi-tingginya tanpa memikirkan dampak buruk produk edarannya. Sekumpulan orang yang ber-KTP Islam tapi tidak menerapkan ajarannya dalam keseharian. Hidup sekadar menjalani hidup. Mereka lupa bahwa ada kehidupan akhirat yang kekal. Tempat kembali semua makhluk. Tempat segala amal harus dipertanggungjawabkan.

Malang, 10 Desember 2019

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *