POLITIK

Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram

Kegagalan dalam implementasi peta jalan pendidikan telah melahirkan generasi yang mengalami krisis kepribadian yakni cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis

Suara Netizen Indonesia-Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati dengan berbagai seremoni dan slogan penuh harapan. Namun, di balik perayaan tersebut, fakta dunia pendidikan justru menunjukkan wajah yang kian buram dan memprihatinkan. Alih-alih menjadi ruang aman dan tempat tumbuhnya generasi beradab, sekolah dan kampus kini diwarnai berbagai kasus kekerasan, kecurangan, hingga degradasi moral yang mengkhawatirkan.

Berbagai peristiwa tragis menegaskan kondisi ini. Kasus pengeroyokan pelajar hingga berujung kematian di Bantul (kumparan.com, 21/04/2026), kematian pelajar SMA di Bandung yang melibatkan sesama pelajar (kompas.id, 21/04/2026), hingga penyiraman air keras terhadap siswa di Bogor (detik.com, 22/04/2026) menunjukkan bahwa kekerasan di kalangan pelajar bukan lagi kasus yang sesekali terjadi, melainkan fenomena yang semakin mengakar. 

Data bahkan menyebutkan ratusan kasus kekerasan terjadi dalam waktu singkat di dunia pendidikan (kompas.id, 14/04/2026). Di sisi lain, ruang akademik pun tak luput dari krisis integritas. Praktik joki dalam UTBK-SNBT dengan bayaran fantastis hingga ratusan juta rupiah (kompas.com, 24-04-2026) menjadi bukti nyata bahwa budaya curang telah merambah hampir semua jenjang pendidikan. Fenomena plagiat dan manipulasi nilai pun kian dianggap biasa.

Tidak berhenti di situ, keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam penyalahgunaan narkoba juga terus meningkat. Ditambah lagi dengan perilaku sebagian pelajar yang semakin berani merendahkan bahkan melecehkan wibawa guru, hingga menyeret mereka ke ranah hukum ketika diberi sanksi pendidikan. Semua ini memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem pendidikan kita.

Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh elemen bangsa. Ini bukan sekadar momentum refleksi simbolik, melainkan saat yang tepat melakukan evaluasi mendasar terhadap arah pendidikan nasional. Kegagalan dalam implementasi peta jalan pendidikan telah melahirkan generasi yang mengalami krisis kepribadian yakni cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis sehingga jauh dari predikat intelektual yang bermoral dan beradab. Nilai keberhasilan dilihat hanya dari capaian materi dan status semata.

Lebih jauh, sistem pendidikan yang bercorak sekuler kapitalistik ini telah menghasilkan orang-orang yang hanya ingin sukses secara instan tanpa usaha serius. Orientasi pada hasil instan dan keuntungan material inilah yang mendorong sebagian pelajar menghalalkan segala cara, termasuk menyontek, menggunakan joki, hingga terlibat dalam praktik ilegal. Di sisi lain, lemahnya penegakan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan pelajar, dengan alasan masih di bawah umur, seringkali justru menumbuhkan toleransi terhadap kriminalitas yang dilakukan seolah itu hanyalah kenakalan biasa.

Akar persoalan lainnya adalah minimnya penanaman nilai-nilai agama yang benar dalam sistem pendidikan sekuler hari ini. Hal ini berakibat pada melebarnya ruang kebebasan yang mengikis moral dan kepribadian. Akibatnya, pelajar mudah terjerumus pada perilaku menyimpang dan kehilangan arah hidup yang benar.

Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan pembentukan manusia seutuhnya. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam akan menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan. 

Sistem Pendidikan Islam juga menekankan pembentukan syakhsiyah Islamiyah, dimana kepribadian manusia harus selaras antara pola pikir dan pola sikapnya dengan syariat Islam. Dengan demikian pelajar tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga berintegritas.

Selain itu, Islam juga menetapkan sistem sanksi yang tegas terhadap pelanggaran, tanpa mengabaikan aspek keadilan. Hal ini penting untuk menjaga ketertiban dan mencegah berkembangnya kriminalitas. Negara juga wajib membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan, sehingga akan mendorong individu untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kecurangan atau pelanggaran.

Sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara menjadi kunci dalam membangun sistem pendidikan Islam. Ketiganya harus berpijak pada nilai-nilai akidah dan syariat Islam agar mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Sudah saatnya kembali pada aturan dari Sang Pencipta untuk melakukan perubahan yang baik terhadap pendidikan. Sebab, tanpa perubahan mendasar, kita hanya akan terus merayakan pendidikan di atas krisis yang semakin dalam.[]

Related Posts

1 of 134