POLITIK

Sistem Sekuler Kapitalisme Hilangkan Wibawa Guru

Suara Netizen Indonesia–Dunia pendidikan kembali terguncang dengan beredar video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah siswa mengejek gurunya dengan mengacungkan jari tengah. Berdasarkan informasi, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat. Aksi tidak pantas itu menuai kecaman dari khalayak, karena dinilai krisis etika dan penghormatan kepada guru di lingkungan sekolah. 

 

Menanggapi kasus tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengaku prihatin dan mengatakan dirinya telah menerima laporan atas kronologi kejadian tersebut. KDM menuturkan para orang tua siswa telah dipanggil ke sekolah, dan kini pihak sekolah telah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Selama masa itu siswa diminta menjalani pembinaan di rumah. 

 

Meski demikian, KDM mengaku sanksi yang diberikan belum maksimal dalam membentuk karakter siswa. Perlu bentuk hukuman lain yang bersifat edukatif dan berbasis aktivitas agar berdampak langsung pada perubahan perilaku. Ia mengusulkan para siswa diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu tiap hari, serta membersihkan toilet. Bahkan ia menyarankan durasi pembinaan diperpanjang, sesuai perkembangan siswa. Menurutnya itu akan lebih efektif menanamkan nilai disiplin dan rasa hormat (Detik.com, 18-4-2026).

 

Masalah Sistemik, Akibat Sistem Sekuler Kapitalisme  

 

Kasus ejekan, hingga kekerasan yang dilakukan murid terhadap guru sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, kasus yang sama selalu terulang. Pada tahun 2018 seorang guru di Madura pernah dikabarkan tewas setelah dianiaya muridnya. Pada 2019, seorang guru dikeroyok siswa dan kakaknya. Masih di tahun 2019, seorang guru di Aceh dianiaya wali murid menjelang Hari Guru Nasional. Di awal Tahun 2026 seorang guru di Jambi ditegur muridnya dengan kasar ketika sedang mengajar hingga berujung adu jotos antara keduanya. 

 

Kenyataan ini mencerminkan bahwa generasi muda telah mengalami krisis adab akut, sekaligus menunjukkan hilangnya wibawa guru. Maka, rasanya skeptis dapat terselesaikan tuntas jika sanksi yang diberikan hanya menitikberatkan pada skorsing, pembinaan di rumah, maupun membersihkan halaman sekolah. Jika pun berhasil, sanksi-sanksi itu cuma akan bersifat pragmatis/pendisiplinan sementara, tetapi tidak mampu menyentuh akar masalah. Sebagaimana program penguatan ‘Profil Pelajar Pancasila’ yang selama ini digaungkan pemerintah. Sudah hampir 5 tahun program ini berjalan, namun tak jua mampu membentuk pelajar berkarakter luhur secara sempurna. Ejekan serta hinaan terhadap guru masih terus ada. 

 

Hakikatnya kekerasan yang dilakukan murid terhadap guru adalah masalah sistemik. Akibat sistem pendidikan yang dibangun di atas asas sekuler kapitalisme yang menihilkan peran agama (Islam) dalam kehidupan. Agama hanya diajarkan sekali dalam seminggu. Alhasil, generasi menjadi kehilangan pondasi utama dalam berpikir, karena rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku tidak ada. 

 

Proses pendidikan yang dilandasi sekuler kapitalisme mengaburkan tujuan akhir pendidikan. Bukan lagi sebagai tempat meningkatkan kualitas diri dan meraih rida Allah, melainkan hanya sebatas proses teknis. Ukuran keberhasilan pendidikan berpatokan pada capaian nilai ujian, ijazah, serta kesiapan mencari kerja, bukan terciptanya generasi bersyaksiyah Islam. Akibatnya lahirlah generasi minim akhlak, emosional, dan membangkang tatkala dinasehati. 

 

Ini diperparah dengan maraknya tontonan yang semakin bebas dan merusak pemikiran. Disadari atau tidak, tontonanlah yang secara signifikan mempengaruhi pola pikir, perilaku, dan otak manusia. Sebab otak cenderung meniru/menginternalisasi apa yang dilihat. Sementara sanksi bagi pelaku kejahatan sangatlah minim, apalagi jika menyangkut anak di bawah umur biasanya hanya diselesaikan dengan kekeluargaan. 

 

Sistem Kapitalisme pun hanya memandang guru sebelah mata. Guru diposisikan sebatas pekerja administratif dan penyedia jasa, bukan sebagai aset negara yang krusial dan harus dihormati serta ditaati. Alhasil guru kehilangan wibawanya. Meskipun memiliki hak memberikan sanksi mendidik, namun nyatanya hari ini tindakan itu berisiko dituntut dan dipolisikan. 

 

Maka, senyatanya Sistem Kapitalisme sekulerlah muara dari masalah krisis adab. Sistem ini harus ditumbangkan agar penanganan krisis adab dapat berefek signifikan, tidak hanya bersifat administratif di atas kertas. Lalu, negara harus menerapkan kurikulum pendidikan yang output-nya membentuk generasi berkepribadian Islam. Di samping itu, negara harus menyaring konten digital agar bersih dari tayangan yang merusak pemikiran. Kemudian memperkuatnya dengan sistem sanksi yang bisa memberi efek jera. Namun tentu itu semua membutuhkan sistem yang sahih yang berasal dari wahyu Allah (Islam).

 

Islam Solusi Tuntas Atasi Krisis Akhlak

 

Islam adalah agama berikut aturan sahih yang diturunkan Allah untuk menjadi solusi bagi semua masalah kehidupan. Dalam Islam ilmu dan adab berkorelasi kuat, keduanya tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, kekerasan hati, serta kerusakan. Bahkan, atas hal ini Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya menuju surga. Namun jalan ke surga tersebut mensyaratkan adab.” (HR. Muslim).

 

Karena itu, sebagai representasi dari hal ini sistem Islam akan menempatkan akidah sebagai sebagai landasan dalam pendidikan dan berpikir. Dari akidah inilah akan tercipta output pendidikan yang bukan hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga bersyaksiyah Islam serta beradab. Sebagaimana tujuan diutusnya Rasulullah yaitu menyempurnakan akhlak. 

 

Islam juga memosisikan guru sebagai sosok istimewa. Guru adalah pendidik, pelita ilmu, dan penyemai benih generasi penerus bangsa. Karena itu ia sangatlah dimuliakan, dilindungi, dan dijamin kesejahteraanya oleh negara agar wibawa mereka tetap terjaga. Murid wajib memuliakan guru. Sebab dikatakan dalam banyak hadis, tidak akan memperoleh ilmu orang yang tidak memuliakan gurunya/ulama. 

 

Di samping itu, Islam pun memiliki sistem sanksi yang tegas bersifat memberi efek jera (jawabir dan jawabir) bagi setiap pelaku kejahatan. Selain itu, Islam juga melarang segala tontonan yang merusak akal dan pikiran ada di tengah kehidupan masyarakat. Karenanya berbagai tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan, ataupun kekerasan akan diblokir dan dihilangkan secara permanen. Hanya tontonan yang memupuk keimanan dan semangat jihad fii sabilillah yang ditayangkan. 

 

Begitulah berbagai mekanisme yang dimiliki sistem Islam untuk menjaga generasi dari perilaku krisis adab, maupun berbagai tindak kejahatan. Hanya Islam solusi atas seluruh masalah kehidupan. Cuma sistem Islam yang bisa melahirkan generasi yang tak hanya faqih dalam ilmu namun juga berakhlak mulia. Sungguh rugi jika sistem sempurna ini hanya dijadikan dongeng masa lalu, bahkan ditakuti karena dianggap sudah tidak relevan dengan zaman. Wallahu a’lam bi ash-Shawwab. [SNI].

 

Related Posts

1 of 137