“Falsafah satu Keluarga” Kacamata Skala Global Dunia

 

Pembahasan yang apik lagi menawan sengaja dikemas dengan design elegan, disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat mengikuti sesi kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 India yang digelar di Bharat Mandapam, IECC, Pragati Maidan, New Delhi, India, Sabtu, 9 September 2023.

 

Penyampaian ide apik, porsi kalimat yang seakan melanggengkan perdamaian dunia, dengan menyatakan bahwa saat ini dunia membutuhkan rumah yang aman. Selain itu juga disampaikan konsep “falsafah satu keluarga”, tidak ada sekat penjulukan negara maju dan negara berkembang.

 

Kontradiktif pernyataan tersebut, dengan mengindra banyak realita terjadi di rumah atau negara dirasakan tidak aman dan nyaman, bukan saja negara yang terjadi perang, namun dengan berbagai kebijakan pemerintah yang cukup mengiris-iris tatanan masyarakat menjadi rusak, tatanan rumah tangga menjadi hancur, dengan problem global turunan dari ide sekuler kapitalis mengenai politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan interaksi sosial, plus pertahanan keamanan.

 

Dampak besar sangat dirasakan oleh berbagai kalangan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat tidak memihak rakyat. Semisal problem kemiskinan yang semakin merata, padahal problem kemiskinan tersebut sangat fundamental yang harus terselesaikan, mengingat kebutuhan dasar manusia harus terpenuhi, tidak bisa ditunda. Belum bicara problem pendidikan yang semakin mahal ditengah harga bahan pokok yang kian naik, bbm naik, pajak, dll.

 

Seharusnya bila ingin mengangkat isu “falsafah satu keluarga”, maka totalitas problematika harus diselesaikan, yakni dengan membuka catatan sejarah kegemilangan Islam selama 1400 tahun yang mampu menyejahterakan umat yang bernaung dan berlindung di bawah satu kepemimpinan, yakni Khilafah.

 

Khilafah sangat memperhitungkan urgensi dalam melakukan futuhat, bukan seperti imperialisme dalam menjajah dan menjarah hasil bumi negara lain. Namun, daulah Islam memfutuhat ke wilayah lain dalam rangka dakwah dan memasukkan wilayah lain ke dalam daulah untuk diriayah dengan sistem Islam, yang sungguh menyejahterakan umat yang berlindung di bawahnya.

 

Membuka catatan sejarah, hijrahnya Rosul ke wilayah madinah, senantiasa membangun perekonomian internal dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshor, mereka saling belajar mengajar berladang juga berdagang. Setelah wilayah semakin meluas rakyatnya semakin sejahtera, sebagai bukti dalam masa Daulah Abbasiyah banyak lahir ilmuwan-ilmuwan besar yang mendedikasikan karyanya untuk diamal sholihkan untuk negara bahkan penemuannya digunakan hingga saat ini, karena situasi negara sangat mendukung akan sistem pendidikan, ekonomi, dan lain-lainnya.

 

Secara nyata “falsafah satu keluarga”, hanya layak disematkan dalam naungan Daulah Khilafah, tanpa sekat nasionalisme, tidak ada lagi neo-neo imperialisme barat, yakni dengan sistem Islam yang Allah telah turunkan melalui Rosulnya untuk totalitas menggunakan aturan hidup Islam yang akan menaungi umat Islam dan sejahtera dunia dan akhirat.
Wallahu’alam bishshawab

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *