Suara Netizen Indonesia-Nama Sheikh Farouk Ramadan mendadak menghiasi berbagai media dunia. Pria pemberani dari Tepi Barat, Palestina, ini dicap “teroris” oleh Israel setelah membela diri dalam konfrontasi dengan pemukim Yahudi bersenjata di Desa Tal, wilayah Tepi Barat yang diduduki. Pada Jumat, 24 Juli 2026, ia ditembak mati dalam keadaan tidak bersenjata — begitu hasil analisis video profesional yang dilakukan +972 Magazine dan Local Call.
Dalam insiden itu, dua warga Israel dan empat warga Palestina — termasuk tiga kerabat Ramadan — tewas. Menariknya, media Israel sendiri melaporkan bahwa dua tentara yang tewas kemungkinan besar terkena tembakan dari pasukan mereka sendiri (gazamedia.net, 26/7/2026).
Desa Tal, Potret Kecil dari Pola yang Lebih Besar
Serangan brutal pemukim Israel terhadap Desa Tal, yang berdekatan dengan Kota Nablus di utara Tepi Barat, bukan insiden yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari kebijakan pendudukan yang bertujuan mengusir warga Palestina dari tanah mereka sendiri, cerminan penjajahan berkepanjangan yang terus memburuk seiring kebijakan Yahudisasi Israel dan meningkatnya kekerasan pemukim dari hari ke hari.
Hingga kini, Desa Tal masih mencekam pasca insiden. Akses ke desa hanya dibuka satu jam setelah tengah malam, sekadar untuk memungkinkan jenazah para syuhada dibawa dan dimakamkan. Setelah itu, tentara Israel menggerebek rumah-rumah warga, menangkap puluhan penduduk, dan membawa mereka ke pos pemeriksaan di kawasan Al-Lahf.
Pengetatan militer juga merambah ke Provinsi Nablus dan desa-desa sekitarnya. Para pemukim menyerang wilayah selatan Nablus — Urif, Madama, Jit, dan Tal — hampir tanpa jeda. Data Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina mencatat 11.074 serangan oleh tentara dan pemukim Israel terhadap warga Palestina beserta harta benda mereka sepanjang paruh pertama 2026 saja.
Pada 29 Juli 2026, WAFA melaporkan pemukim menyerbu dan merusak properti warga di Kota Beit Dajan dan Beit Furik. Pola ini sudah menjadi rutinitas di Tepi Barat: kejahatan pemukim nyaris tak pernah ditindak hukum oleh otoritas Israel — sebaliknya, tentara Israel justru kerap menjadi pelindung di baliknya.
Aneksasi yang Berjalan Diam-diam
Otoritas Israel telah menyita sekitar 200 dunum (setara 20 hektare) tanah dari kota-kota di Provinsi Jenin. Saat ini, sekitar satu juta pemukim Israel menetap di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sebuah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Sudah dua tahun berlalu sejak Mahkamah Internasional menyatakan pendudukan Israel di Tepi Barat tidak sah. Namun alih-alih surut, kejahatan pemukim justru kian menjadi, diiringi aneksasi wilayah yang terus memburuk. Kantor Hak Asasi Manusia PBB bahkan melaporkan bahwa serangan pemukim dan pendirian pos-pos terdepan telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa, tren yang berpotensi mengubah Tepi Barat menjadi “Gaza yang lain”.
Dua masjid dilaporkan dibakar pemukim Israel di wilayah ini. Di saat yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz justru meminta pasukan IDF memperluas serangan di Tepi Barat, dengan target menghancurkan lebih banyak kamp pengungsian Palestina.
Tanah Suci yang Terlupakan
Tepi Barat, seperti halnya Gaza, adalah tanah suci yang perlahan dilupakan dunia. Sejak pecahnya konflik Iran–Amerika Serikat dan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan itu, perhatian publik teralihkan. Di tengah hiruk-pikuk itu, rakyat Palestina yang telah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan dan penindasan justru semakin terpinggirkan dari perhatian dunia.
Padahal bom terus dijatuhkan setiap hari, merenggut nyawa bayi, anak-anak, dan orang tua. Sementara itu, dunia menonton siaran bencana kemanusiaan ini seperti tontonan biasa. Dunia diam. Para pemimpin negeri-negeri Muslim pun ikut membisu:
- Erdogan menggelar pertemuan NATO sembari bergandengan tangan dengan Trump.
- Ahmad al-Shara — yang dulu lantang menyerukan penghancuran Israel — kini memilih menjaga jarak dan menghindari konfrontasi.
- Pakistan sibuk menjadi penengah antara Iran dan Amerika, sembari diam-diam membuka jalan bagi kemenangan Amerika dan tunduknya Iran.
- Penguasa negara-negara Arab tetap bergantung pada Amerika demi mempertahankan kursi kekuasaan mereka.
Indonesia pun tidak luput dari sorotan ini. Di tengah seruan publik yang terus menguat untuk memboikot Israel akibat genosida di Gaza, sejumlah pihak justru dituding menutup mata terhadap lobi-lobi tersembunyi dengan Israel, termasuk membuka ruang bagi lebih banyak turis dan komunitas asal Israel masuk ke Indonesia.
Data perdagangan pun berbicara: nilai impor Indonesia dari Israel melonjak dari sekitar $22 juta pada 2023 menjadi lebih dari $54 juta pada 2024, meskipun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Yang Dibutuhkan Bukan Belas Kasihan
Tanah suci Palestina kini berdiri sendirian, tanpa penolong yang benar-benar berpihak. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah persatuan umat Muslim — dan runtuhnya sekat-sekat beracun yang selama ini memisahkan hati dan pikiran mereka, sekat yang justru dijaga rapat oleh para penguasa negeri-negeri Islam sendiri.
Saat anak-anak di banyak belahan dunia tertidur lelap di tempat yang hangat, anak-anak Palestina justru berjuang keras untuk tetap terjaga di garis depan perjuangan. Saat komunitas Muslim lain menjalani hidup dengan tenang, saudara-saudara mereka di Tepi Barat dan Gaza hidup dalam ketakutan yang tak kunjung usai.
Mereka tidak butuh iba kita. Yang mereka butuhkan adalah perlindungan, martabat, dan kesempatan untuk lepas dari penjajahan.[SNI]










