POLITIK

Generasi Terjerat Narkoba: Buah Pendidikan Sekuler

Sistem Islam dalam naungan Khilafah akan menutup celah terjadinya kejahatan. Pendidikan dalam Islam akan melahirkan individu yang bertakwa sehingga dia akan berusaha meninggalkan keharaman. Penerapan sistem islam akan melahirkan masyarakat yang saling peduli dimana amar makruf nahi mungkar menjadi kebiasaan. Sehingga orang akan  berbuat maksiat. Terakhir penerapan sistem sanksi dari sisi negara, hukumannya bersifat mencegah (zawajir) dan menebus dosa (jawabir), sehingga tidak hanya memberikan efek jera tetapi juga menjadi penghapus dosa bagi pelakunya.

Suara Netizen Indonesia–Dua pria berinisial SH (26) dan KF ditangkap polisi di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, karena diduga terlibat peredaran narkoba jenis sabu. SH diketahui tidak bekerja, sedangkan KF masih berstatus pelajar. Penangkapan dilakukan oleh tim Satresnarkoba Polres Bima Kota di rumah SH pada malam hari.

 

Dalam penggerebekan tersebut, polisi menemukan sabu seberat 3,07 gram yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Selain itu, diamankan pula sejumlah barang bukti seperti alat isap, plastik klip, handphone, dan uang tunai. Dari hasil pemeriksaan sementara, sabu tersebut diduga diperoleh dari seseorang berinisial MH yang kini masih diburu. Kasus ini masih dalam proses pengembangan oleh pihak kepolisian (Detiknews.com,01-04-2026).

 

Narkoba Musuh Nyata Generasi

Sungguh miris, seorang pelajar yang seharusnya fokus menuntut ilmu dan membangun masa depan justru terseret dalam tindak kejahatan. Pendidikan yang semestinya menjadi jalan perubahan menuju kebaikan malah tidak mampu membentengi generasi muda dari kerusakan moral yang nyata.

 

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan sekuler yang menjauhkan anak dari akidah Islam. Ketika agama tidak dijadikan fondasi utama, maka rasa takut terhadap dosa semakin menipis dan nilai ketakwaan tidak tumbuh kuat dalam diri pelajar.

 

Sistem sekuler juga memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Sekolah akhirnya hanya menjadi tempat mengejar nilai dan prestasi akademik, tanpa membentuk kepribadian Islam. Ilmu tidak lagi diarahkan untuk diamalkan, melainkan sekadar menjadi alat meraih dunia.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, masa depan negeri akan berada dalam ancaman serius. Generasi yang seharusnya menjadi penerus kepemimpinan justru akrab dengan kejahatan. Lalu bagaimana mungkin cita-cita Indonesia emas dapat terwujud jika fondasi generasinya rapuh secara moral dan spiritual?

 

Islam Wujudkan Generasi Cemerlang

Dalam pandangan Islam, narkoba termasuk dalam kategori yang diharamkan karena merusak akal. Allah SWT. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan undian nasib adalah perbuatan keji dari perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung” (TQS. Al-Ma’idah: 90). Para ulama menjelaskan bahwa segala sesuatu yang memabukkan dan merusak akal, termasuk narkoba, masuk dalam keharaman tersebut.

 

Islam juga menegaskan bahwa ilmu harus diamalkan dan mengantarkan pada ketakwaan. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia bertakwa, bukan sekadar cerdas secara akademik.

 

Di sisi lain, arus moderasi beragama yang berkembang hari ini justru berpotensi semakin menjauhkan generasi dari pemahaman Islam yang utuh. Dampaknya, kerusakan di kalangan pelajar semakin meluas, mulai dari narkoba, pergaulan bebas, hingga berbagai bentuk penyimpangan lainnya. Padahal, solusi perbaikan generasi adalah dengan mendekatkan mereka kepada agama secara menyeluruh. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Sejarah membuktikan bahwa penerapan Islam secara kaffah mampu melahirkan generasi unggul yang faqih dalam agama sekaligus menguasai ilmu pengetahuan. Tokoh seperti Ibnu Sina dikenal sebagai ulama sekaligus dokter, sementara ilmuwan lain seperti Jabir bin Hayyan di bidang kimia dan Al-Khwarizmi dalam matematika juga lahir dari peradaban Islam. Ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis Islam mampu melahirkan generasi yang beriman dan menguasai ilmu.

 

Sistem Islam dalam naungan Khilafah akan menutup celah terjadinya kejahatan. Pendidikan dalam Islam akan melahirkan individu yang bertakwa sehingga dia akan berusaha meninggalkan keharaman. Penerapan Sistem Islam akan melahirkan masyarakat yang saling peduli dimana amar makruf nahi mungkar menjadi kebiasaan. Sehingga orang akan berbuat maksiat.

 

Terakhir penerapan sistem sanksi dari sisi negara, hukumannya bersifat mencegah (zawajir) dan menebus dosa (jawabir), sehingga tidak hanya memberikan efek jera tetapi juga menjadi penghapus dosa bagi pelakunya. Penerapan hukum dalam Islam tidak pandang bulu karena bersumber dari hukum syara, bukan dari aturan buatan manusia. Dengan demikian, jika menginginkan generasi yang bersih, kuat, dan bertakwa, maka penerapan sistem Islam secara menyeluruh adalah solusi yang harus diambil. Wallahu’alam. [SNI].

Related Posts

1 of 137