Suara Netizen Indonesia-Kebiadaban Zionis terhadap Palestina terus berlanjut, meski telah ada gencatan senjata. Hingga kini mereka tak henti melakukan berbagai upaya keji demi mewujudkan ambisinya merampas tanah Palestina. Tidak cukup dengan melakukan genosida, bangsa Yahudi itu secara diam-diam membangun tembok tanah raksasa sepanjang lebih dari 23 km yang membelah jalur Gaza.
Tembok tersebut melintasi permukiman-permukiman Palestina yang hancur dan mencaplok sebagian wilayah Gaza, yaitu dengan memundurkan penanda garis kuning hingga 1300 meter di Rafah, serta 400 meter di Khan Yunis. Dengan demikian kini zionis menguasai sekitar 65% dari total wilayah jalur Gaza. Fakta ini terungkap dalam sebuah investigasi dan laporan citra satelit yang diterbitkan oleh harian Zionis ‘Haaretz’. Pasukan pertahanan Israel (IDF) berdalih pembangunan tembok tersebut bertujuan untuk peningkatan keamanan serta mencegah upaya infiltrasi kelompok bersenjata ke kota perbatasan Israel.
Keberadaan tembok itu semakin mempersempit ruang gerak dan memperdalam krisis tempat tinggal warga Gaza. Lebih dari dua juta di antaranya kini terjebak di area pesisir yang sempit dan padat. Mereka hidup bernaungkan tenda darurat di tengah 92% bangunan hancur, dengan kondisi yang memprihatinkan berupa kesulitan mengakses air bersih dan layanan dasar. (kompas.id, 21/7/2026)
Bukti Zionis Ingin Menguasai Palestina
Fakta di atas adalah bukti betapa Zionis sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Palestina hingga tak tersisa. Pembangunan tembok raksasa yang membelah jalur Gaza bukan sekadar penghalang keamanan, namun cara licik Zionis untuk mengubah peta, merampas, dan mempersempit ruang hidup warga Palestina. Secara teritorial, penambahan atau pengurangan daerah baik darat maupun laut, akan secara langsung mengubah garis batas yang digambar pada peta. Ketika peta wilayah Zionis lebih luas, secara otomatis wilayah Palestina akan semakin kecil. Kondisi ini nantinya akan membuat mereka kehilangan hak atas tanahnya.
Zionis adalah penjahat perang yang penuh manipulatif. Sejak konflik 7 Oktober 2023 pecah, ia berkali-kali menyebarkan klaim bahwa operasi militer di Gaza dan Tepi Barat ditujukan demi keamanan. Namun, nyatanya itu semua hanya akal-akalan untuk mengeliminasi pejuang Palestina dan membumihanguskan warganya. Karena itu, umat muslim tidak boleh terkecoh dengan alasan klise mereka yang berdalih ingin ‘membangun tembok demi keamanan’. Padahal semua itu hanya menjadi alat legitimasi Zionis untuk menguasai Palestina secara mutlak.
Berbagai upaya yang dilakukan Zionis selalu sarat akan satu tujuan yakni mengukuhkan hegemoninya atas wilayah bumi Syam. Mereka tidak akan pernah rela berbagi tanah dengan rakyat Palestina. Karena itu, umat muslim terutama penguasa Islam dituntut untuk mengambil tindakan nyata guna menghentikan upaya Zionis menguasai Palestina. Namun tentu, umat tidak boleh bergantung pada berbagai resolusi yang lahir dari Barat, baik itu gencatan senjata maupun solusi dewan perdamaian Board of Peace (BoP). Karena sang pemegang kendali adalah AS dan sekutunya yang merupakan pelindung utama Zionis.
BoP sejak awal dibentuk tidak ditujukan untuk solusi perdamaian dan menyelesaikan Israel-Palestina. Karena buktinya hingga kini Palestina sama sekali tidak dilibatkan dalam BoP. Padahal jelas-jelas mereka adalah pihak korban yang seharusnya ada dalam forum tersebut. BoP tidak lebih sekadar alat untuk mengontrol Gaza, memastikan keamanan Israel, dan menjaga kepentingan strategis AS.
Melalui BoP, AS pun ingin mengusir penduduk setempat dengan pembangunan ‘Gaza Baru’ yang berisi gedung-gedung pencakar langit, pariwisata, pelabuhan, apartemen, dan Bandara. Hal ini terungkap pada saat penandatanganan BoP oleh menantu Trump, Jared Kushner di Davos Swiss. Di mana saat itu terlihat peta rencana pembangunan Palestina menjadi kompleks, industri, menara apartemen, pelabuhan laut, dan bandara dekat perbatasan Mesir. (republika.id, 21/2/2026)
Islam Solusi Hakiki atas Palestina
Senyatanya, kebiadaban Israel atas Palestina yang terus menerus-menerus diakibatkan adanya dukungan penuh sang adidaya (AS). Maka, solusi atas semua ini adalah melawan hegemoni AS dengan sistem kepemimpinan yang kuat, yakni Khilafah Islamiah. Sistem pemerintahan yang pernah menguasai dunia selama 13 abad. Khilafah (imamah ‘uzma) merupakan kepemimpinan umum bagi kaum muslim untuk menerapkan syari’at Islam kafah dan mengurusi umat. Khilafah satu-satunya institusi pembela serta pelindung umat muslim sedunia. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (khalifah) adalah pelindung….” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Makna pelindung di sini dikarenakan khilafahlah yang akan berperan menghalangi musuh dari menyakiti kaum muslimin. Perlindungan negara ini salah satunya terlihat di masa Khalifah Abdul Hamid ll. Waktu itu, pernah datang seorang Yahudi bernama Theodore Herzl berniat membeli tanah Palestina, namun khalifah menolaknya dengan tegas. Ia mengatakan tak akan melepaskan tanah Palestina walaupun sejengkal.
Khilafah akan melakukan jihad fii sabilillah untuk membumihanguskan musuh-musuh Islam dan melawan segala bentuk penjajahan atas kaum muslimin. Dalam Islam jihad adalah satu-satunya cara mengusir penjajah. Sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan perangilah siapa saja kalian menemui mereka. Dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian….” (QS. Al-Baqarah: 191).
Khilafah adalah institusi yang tidak pernah melakukan kompromi atau berdamai dengan entitas yang memerangi umat muslim. Allah Swt. telah melarang kaum muslim memberikan loyalitas, dukungan, ataupun perlindungan kepada pihak yang memerangi Islam dan kaum muslim. Hal tersebut tercantum dalam Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 1 yang artinya: “Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuh-mu sebagai teman setia….”
Di bawah payung khilafah para musuh-musuh Islam gentar. Bahkan pada abad ke-18, AS pun pernah tunduk dan membayar jizyah kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa berlayar melintasi Afrika Utara (Aljazair, Tripoli, dan Tunisia). Hal ini diakui AS sendiri secara resmi dalam perjanjian internasional Treaty of Tripoli, Frank Lambert, dan The Barbary Wars.
Karena itu, sungguh menegakkan kembali khilafah merupakan hal mendesak dan harus menjadi agenda utama bagi kaum muslim. Persoalan Palestina adalah bukti betapa pentingnya khilafah bagi umat. Tanpa kehadirannya umat akan terus menderita di bawah kendali penjajah.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh umat untuk mengembalikan khilafah dan menyelamatkan Palestina, seperti bergabung dengan jamaah dakwah Islam kafah, membangun kesadaran politik publik tentang persatuan juga urgensi jihad dan khilafah, memobilisasi kekuatan riil dengan pengiriman militer ke Gaza, menghentikan segala bentuk perjanjian batil, memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan Zionis serta sekutunya, juga melakukan diplomasi internasional dengan negara-negara muslim agar tercipta kesolidan dalam penyelesaian Palestina.
Wallahu a’lam bi ash-Shawwab. [SNI]










