POLITIK

Pendidikan Karakter, Modal Generasi Emas 2045

Suara Netizen Indonesia–Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meluncurkan 40 Sekolah Berintegritas pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter dan budaya kejujuran siswa (antaranews.com, 5-5-2026).

 

Peluncuran ditandai dengan penekanan sirene bersama lima kepala sekolah perwakilan, yakni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Talun Blitar, SMAN 2 Jombang, SMAN 1 Kalianget Sumenep, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Jember, dan SMAN 1 Ngadirejo Pacitan.

 

Khofifah mengatakan keberadaan Sekolah Berintegritas diharapkan menjadi laboratorium karakter bagi siswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki moral dan tanggung jawab sosial. Khofifah yakin penguatan integritas sejak bangku sekolah menjadi investasi jangka panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045, di antaranya memiliki pemimpin-pemimpin bangsa yang amanah dan visioner dari Bumi Majapahit.

 

Kepala Dinas Pendidikan . Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan 40 Sekolah Berintegritas tersebut tersebar di 38 kabupaten/kota dan menjadi proyek percontohan pengembangan pendidikan karakter. Sekolah-sekolah tersebut memiliki sejumlah program yang diterapkan di antaranya kantin kejujuran hingga kelas tanpa penggunaan gawai untuk membangun budaya disiplin dan tanggung jawab siswa.

 

Mungkinkah Karakter Tangguh Dibangun Dalam Sistem Kapitalisme?

Pepatah lama mengatakan, kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimanapun. Memang benar, namun ketika kita hidup dalam sistem aturan yang sekuler yaitu adanya pemisahan antara kehidupan dan agama, maka kejujuran adalah sesuatu yang mustahil. Sebab, sejak asas sistem ini sudah menormalisasi ketidakjujuran.

 

Sistem Kapitalisme, menjadikan kapital sebagai standar, siapa kuat dia dapat, bagaimana pun caranya. Tak ada halal haram. Dari sejak pemilihan pemimpin, asas jujur sudah hilang, karena siapa yang bakal memimpin sudah ditentukan, yaitu mereka yang mau tunduk patuh kepada hegemoni negara kapitalis terbesar hari ini yaitu Amerika. Pemilu sejatinya hanyalah kamuflase agar penentuan siapa pemimpin yang dikehendaki tidak transparan.

 

Kemudian bagaimana sistem ekonominya, Kapitalisme tidak mengharamkan praktik pasar bebas, praktik riba, muamalah yang membawa mudharat seperti penimbunan, patok harga dan lain-lain. Bahkan pajak menjadi satu instrumen pokok dalam anggaran negara. Bagaimana sistem sosialnya yang asasnya liberal, tak ada pemisahan antara pria dan wanita, tidak ada kewajiban menutup aurat sempurna, bahkan perilaku seks menyimpang disebut Hak Asasi Manusia.

 

Di bidang peradilan, banyak kasus muncul tanpa putusan peradilan yang mencerminkan keadilan. Seorang kakek mencuri singkong karena lapar jauh lebih tinggi sanksi yang diterimanya dibandingkan dengan kasus anak pejabat yang membunuh kekasihnya gara-gara gaya hidup

 

Dalam sistem pendidikannya, masih hangat beredar kasus pelecehan seksual secara verbal di beberapa kampus favorit di Indonesia. Ironi bukan? Bisa jadi tak perlu dibangun kantin kejujuran, tapi bagaimana pula memasukan kurikulum berbasis sekuler mampu membuat para mahasiswa meredakan syahwatnya? Perempuan dianggap memiliki value ketika mampu menghasilkan uang, sementara profesi ibu rumah tangga dianggap rendah, padahal, ibu rumah tangga adalah wanita yang rela menjadi pioner awal pembangunan peradaban mulia.

 

Islam Wujudkan Karakter Khas

Maka, terlalu ironi jika target mencetak generasi berkarakter hanya didapat dari kebijakan mengatur makan, minum, kantin kejujuran dan yang lain dalam sebuah program sekolah berintegritas. Sebab akar masalahnya belum dicabut, yaitu sistem aturannya, yaitu Kapitalisme.

 

Karakter berkualitas hanya didapat jika asas pendidikanya adalah akidah Islam, bukan yang lain. Karakter Islam adalah karakter terbaik, yang memadukan antara pola pikir dan pola sikap, didasarkan kepada keimanan atau logika akal. Sehingga ia senantiasa mengingat hubungan antar dirinya dengan Allah SWT.

 

Pendidikan adalah soko guru peradaban, maka negara Khilafah justru akan mendorong setiap anak untuk bisa menulis dan membacanya, belajar berbagai disiplin ilmu dan semuanya gratis dengan pembiayaan negara.

 

Negara memiliki Baitulmal, yang terdiri dari 3 pos, pertama kepemilikan umum seperti minyak, batu bara, uap bumi, nikel, emas dan lainnya. Kedua pos kepemilikan negara seperti jizyah, fa’I, usyur dan lainnya. Ketiga pos zakat, yang penyerapannya hanya pada 8 ashnaf (golongan).

 

Pembiayaan yang mandiri, kurikulum berasal akidah, masyarakat yang peduli amar makruf nahi mungkar dan negara yang memiliki ketakwaan tinggilah inilah yang dibutuhkan hari untuk menjadikan karakter bangsa tak sekadar seremonial. Wallahualam bissawab.. [SNI]. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

1 of 126