POLITIK

Daycare Tercanggih Itu Bernama Ibu

Islam menempatkan ibu mulia bukan karena karier, gelar, atau prestasi dunia lainnya, tetapi semata karena pengorbanannya sebagai ibu dan pengasuh anak.

Suara Netizen Indonesia–Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memfasilitasi pembangunan daycare untuk kelas pekerja atau buruh. Saat ini, daycare tersebut telah berdiri di Ungaran, Kabupaten Semarang, dan Batang.

 

“Kenapa ada daycare ini? Agar tenaga buruh bisa kerja maksimal, anak-anaknya yang dititipkan bisa mendapat pola asuh dan asih,” kata Luthfi, Jumat (1/5/2026), di Rusunawa Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, saat peresmian Daycare Yayasan Anugerah Tripartit Serasi (Kompas.com, 1-5-2026). 

 

Ilusi Ibu Berdaya

Setelah kasus penelantaran anak yang dilakukan oleh daycare Little Aresha di Yogyakarta, kini pemerintahan seolah hadir untuk membantu para ibu yang bekerja dengan cara meresmikan daycare yang diklaim lebih terjangkau biayanya dan lebih baik perlakuannya. Ini sejalan dengan pandangan feminis bahwa ibu itu dipandang berharga selama ia produktif dan berdaya, meski pada akhirnya anak jadi korban.

 

Lebih dari itu, jaminan keamanan seorang ibu pun saat kerja tidak ada. Lihatlah bagaimana kecelakaan berulang terus terjadi. Terbaru, kecelakaan kereta api di Bekasi, yaitu tabrakan beruntun antara taksi, KRL Commuter Line, dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek. Ini juga telah mengorbankan nyawa para ibu yang bekerja membantu nafkah keluarga.

 

Ini sejalan dengan Sistem Japitalisme. Perempuan diposisikan sebagai bagian penting dari tenaga kerja dan pasar. Kapitalisme melihat setiap individu, termasuk perempuan, sebagai “sumber daya ekonomi” (human capital) yang bisa meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam dunia kerja didorong, baik sebagai pekerja, konsumen, bahkan simbol pemasaran. Ini, pada akhirnya, menjadikan kaum ibu menjadi tumbal ekonomi.

 

Akhirnya, kita menemui banyak ibu bekerja karena dipaksa oleh keadaan. Alasan membantu ekonomi keluarga membuat ibu akhirnya meninggalkan anak. Anak pun cukup dititipkan di daycare.

 

Ibu Mulia Bukan Sebab Karir

Ketika ibu sibuk dengan karier dan pekerjaan, tentu materi yang dia dapatkan sangat tidak sebanding dengan masa depan anak yang ia korbankan. Sebab, kita harus mengakui bahwa daycare tercanggih itu tidak lain adalah ibu. Tidak ada orang yang lebih baik perlakuannya terhadap anak melebihi seorang ibu. Tidak ada orang yang lebih sabar dengan semua tingkah anak melebihi ibu. Tidak pula ada orang yang lebih lembut kepada anak melebihi ibu. Daycare apa pun pasti tidak akan mampu memberikan pelayanan menyamai seorang ibu.

 

Tingginya dedikasi dan pengorbanan ibu terhadap anak, inilah satu-satunya alasan Islam memberikan penghormatan yang tinggi pada sosok ibu. Hingga saat ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan baktinya anak, maka jawaban Islam tidak lain adalah ibu.

 

Islam menempatkan ibu tiga kali lebih utama dari bapak karena amanah pengasuhan dan kesulitan yang dialami ibu sejak mengandung, melahirkannya, dan menyusui. Menyusui sepaket dengan pengasuhannya. Bahkan, Al-Quran menyampaikan penyusuan yang sempurna hingga anak genap dua tahun.

 

Islam menempatkan ibu mulia bukan karena karier, gelar, atau prestasi dunia lainnya, tetapi semata karena pengorbanannya sebagai ibu dan pengasuh.

 

Butuh Dukungan Sistem

Mengembalikan peran ibu di rumah menjadi hal urgen. Sebab, ibu akan mampu secara maksimal menjalankan peran sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak. Seharusnya negara hadir bukan dengan mendirikan daycare atau melakukan sertifikasi dan pengawasan ketat pada daycare. Sebab, itu tidak menyentuh akar persoalan.

 

Seharusnya negara hadir dengan menyediakan lapangan kerja yang luas bagi para bapak dengan gaji yang layak sehingga tidak ada alasan ibu bekerja karena tuntutan ekonomi keluarga. Untuk mampu membuka lapangan kerja yang luas, negara harus mengelola kekayaan alam dengan benar sesuai tuntunan syariat.

 

Di sinilah peran negara seharusnya hadir. Hari ini, semua kekayaan alam diprivatisasi dan diserahkan pada swasta. Padahal, seharusnya negara menggunakan kekayaan alam ini untuk kesejahteraan rakyat. Sebab, kekayaan alam pada hakikatnya milik semua rakyat. Rasulullah Saw  bersabda: kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. ” (HR. Ahmad).

 

Ini maknanya bahwa kekayaan alam ini menjadi hak setiap individu rakyat. Tugas negara hanya mengelola dan memberikan hasil pengelolaan ini kepada rakyat dalam bentuk pelayanan publik. Fasilitas publik seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan pun pada akhirnya bisa disediakan secara gratis. Pengelolaan kekayaan alam dengan benar ini juga akan menjadi sarana yang mampu membuka lapangan kerja yang luas.

 

Sistem Kapitalisme yang mencengkeram negeri ini telah menjadikan kemiskinan terjadi secara struktural. Meski sudah bekerja keras, rakyat tetap miskin. Bahkan, saat semua anggota keluarga terjun untuk bekerja pun tidak ada jaminan akan sejahtera. Sebab, biaya hidup yang mahal, pajak yang beragam, hingga mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan. Semua ini menjadikan rakyat tetap dalam lingkaran kemiskinan.

 

Mengembalikan ibu pada peran utamanya butuh penerapan Islam secara kaffah. “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan” (TQS Al-Baqarah: 208).Wallahu a’lam. [SNI].

Related Posts

1 of 126