SuaraNetizenIndonesia_ Sungguh selayaknya negeri ini berduka saat menyaksikan 630 siswa SMA Cimarga mogok sekolah selama dua hari. Siswa berseragam abu yang sudah terkena beban hukum (taklif), ternyata tak mampu menyikapi fakta yang berkelindan di dekat mereka, dengan benar. Bukti bahwa sekularime telah memasung pemahaman individu. Akibatnya, usia tak berbanding lurus dengan kapasitas diri seseorang.
Satu demi satu peran yang terlibat di kota itu, pun akhirnya kita telusuri untuk mengetahui duduk permasalahannya. Hanya karena aktivitas merokok, akhirnya terbuka hasil pendidikan yang berjalan selama ini. Jika perkara yang mubah saja, begitu menggemparkan masyarakat negeri ini, lalu bagaimana dengan penegakan syariat lainnya yang sifatnya wajib? Apakah pembentukan karakter telah sesuai seperti yang kita harapkan atau tidak. Atau jangan-jangan kita memang tak memiliki harapan yang benar terhadap kemuliaan generasi?
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten telah menegaskan bahwa sekolah merupakan lingkungan bebas rokok, karenanya siswa yang merokok di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, akan dikenai sanksi. Sejalan dengan hal tersebut ada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah secara tegas melarang semua pihak merokok di dalam lingkungan sekolah. (Detiknews.com, 15/10/2025)
Namun peraturan tadi seolah tak bertaji. Bahkan saat terjadi polemik dengan Kepala SMAN 1 pun, keberpihakan orang tua, penguasa setempat, dan rekan guru, malah membuat masyarakat bingung. Sementara bagi masyarakat yang telah mengkaji Islam, kebenaran telah tampak sangat terang benderang, namun masyarakat lain yang jauh dari kehidupan Islam tak mampu melihatnya, seolah samar, bahkan bersifat relatif dan boleh ditawar.
Hal ini menjadi alarm penting perlunya memiliki tolok ukur yang benar, bahwasanya benar atau salah, baik atau buruk, bersandar pada Allah semata. Dari sini maka akan melahirkan aktivitas yang benar yang akan melahirkan kebaikan. Islam memiliki seperangkat aturan yang mengikat manusia. Alhasil tidak ada seorang pun yang boleh menyelisihi syariat.
Sedangkan sekularisme menegasikan peran Al-Mudabbir, karenanya wajar muncul sengkarut permasalahan akibat rokok. Dengan tolok ukur materi, untung rugi menjadi sandarannya. Alhasil tindakan mendisiplinkan siswa pun dapat berujung jeruji. Kini tampak betapa tak mudahnya seorang pendidik dalam kehidupan sekularisme. Namun demikian, tindakan kekerasan terhadap siswa pun tak dapat dibenarkan. Sebab sanksi adalah langkah akhir setelah langkah awal penyadaran, dilakukan.
Begitu pula sebaliknya, para siswa yang hidup di alam sekularisme, menganut ide kebebasan yang sama, sehingga sudi berbuat apapun meski melanggar adab. Dengan hukum buatan manusia, rasanya sah saja memperkarakan seorang guru. Lupa bahwa mereka harus melunakkan hati kepada guru, yang sedang bekerja keras merajut kebaikan dalam karakter seorang siswa.
Sistem liberal tak akan mampu melahirkan generasi taat. Kehidupan serba bebas tanpa kendali ini, tentu akan mengakibatkan kerusakan, sebab setiap orang memiliki kepentingan masing-masing yang berpeluang menimbulkan friksi. Ruang kebebasan yang digadang-gadang mampu mengakodir semua perbedaan, ternyata gagal mencetak pribadi takwa dan berakhlak mulia.
Solusi Islam
Sistem pendidikan membentuk syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Aqliyahnya dibentuk, nafsiyahnya pun dibangun. Maka akan lahir generasi yang berilmu sekaligus beradab.
Seluruh komponen dalam 3 pilar yakni individu, masyarakat dan negara, akan senantiasa menopang tegaknya syariat. Tidak hanya melahirkan individu yang bertakwa, namun juga akan terbentuk masyarakat yang senang menasehati, menjaga saudaranya sesama muslim dengan aktivitas amr ma’ruf nahy munkar, mengingatkan yang bersalah, memperbaiki kerusakan, hingga tak ada satu pun kemungkaran ada di dalam masyarakat Islam.
Guru bukan hanya gudang ilmu namun pendidik yang sedang menunaikan amanahnya terhadap Allah SWT. Karenanya ia akan senantiasa memiliki kepribadian yang baik, taat dan tunduk kepada Allah SWT dan menjadi teladan bagi orang di sekitarnya. Guru akan mengutamakan pendekatan secara personal, mengayomi, hingga siswa mampu menyerap kebaikan dengan benar. Sebaliknya siswa pun bersikap santun, menghormati, dan memuliakan guru.
Sejarah mencatat Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris) yang dikenal sebagai salah satu pendiri mazhab fikih, juga sangat menghormati guru-gurunya. Ia mengajarkan pula kepada para muridnya untuk memiliki akhlak mulia dan adab yang tinggi dalam menuntut ilmu.
Begitu pula Khalifah Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai guru penyabar dan pemaaf. Ia sering berbagi ilmu kepada para muridnya dan tidak pernah membeda-bedakan status sosial mereka.
Ada pula Imam Malik bin Anas (guru Imam Syafi’i) seorang guru paling dihormati di masanya. Ia dikenal sebagai pengajar yang sabar dan sering mengulang pelajaran berkali-kali, untuk muridnya yang lambat memahami.
Imam Abu Hanifah (An-Nu’man bin Tsabit) juga merupakan guru yang sangat dihormati. Banyak muridnya yang kelak menjadi ulama besar dan berjasa dalam menyebarkan mazhabnya. Sebaliknya beliau pun merupakan murid yang baik, saat menggali ilmu kepada Imam Atha bin Raba’ah dan Imam Nafi’ Muala Ibnu Umar.
Abdullah bin Abbas, sepupu sekaligus sahabat Nabi juga merupakan murid yang senantiasa haus ilmu. Dikisahkan ia pernah memegang tali kekang hewan tunggangan Zaid bin Tsabit, sahabat yang lebih tua. Ketika Zaid menolak, Ibnu Abbas berkata, “Demikianlah kami diperintahkan untuk memuliakan ulama.”
Khalifah Harun al-Rasyid di masa Abbasiyah, juga sangat menghormati guru. Beliau pernah mengundang seorang ulama hadits ternama di masanya, Abu Muawiyah al-Dharir. Kemudian ia memasangkan sendal dan menuangkan air minum untuk sang guru.
Muhammad Al Fatih adalah contoh lain yang sangat menghormati gurunya, yaitu Ahmad Al-Kurani dan Syekh Aq Syamsuddin. Ia mematuhi didikan mereka, menerima nasihat mereka dan menganggap mereka sebagai ayah ideologis yang berperan membentuk kepemimpinan visioner untuk menaklukkan Konstantinopel.
Pendidikan Islam telah terbukti mampu membentuk manusia unggulan, khairu ummah, yang layak memimpin peradaban. Tugas tersebut tentu tak akan dapat direalisasikan oleh pendidikan sekuler. Tsumma takuunu khilaafatan ala minhajin nubuwwah.










