Maafkan Ibu, Nak

 

Seorang ibu mencium kening anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun. Matanya sembab tampak telah menangis dalam waktu yang lama. Ia mengucapkan kalimat singkat pada telinga anak itu yang nampak seperti tertidur.

 

“Maafkan ibu, Nak,” ucapnya pelan.

 

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan kepada anak sulungnya sebelum wajah sang anak ditutup kain putih.

 

Namanya Rafi. Anak laki-laki kelas 4 SD. Rafi terkonfirmasi TBC saat penyakit ini menimpa di kota Bantul bersama dengan ratusan anak lainnya.

Begitu lemahnya tubuh Rafi, membuat ia harus beraktivitas di rumah saja dan mengenyam pendidikan dengan mengikuti home schooling dan sekolah kejar paket.

 

Upaya medis dan herbal selalu diusahakan orang tua Rafi untuk menyembuhkannya. Namun, karena faktor ekonomi, maka Rafi tidak bisa mendapatkan penanganan yang terbaik.
…..

Hari itu suasana berkabung masih menyelimuti rumah Rafi. Mereka adalah para takziyah dari warga sekitar dan juga dari rekan kerja ibu Rafi.

Mereka turut berduka atas meninggalnya Rafi karena tak mampu bertahan dengan kondisi kesehatannya. Ibu Rafi nampak tegar meski ada rasa kecewa karena di waktu terakhir hidup Rafi, ia tak dapat membawanya ke rumah sakit.

 

Ya, efek dari pandemi Covid-19 membuat usaha ayah Rafi bangkrut. Ayahnya menjadi pengangguran. Ibunya terpaksa mencari kerja di luar rumah.

Meski Rafi sudah diberi obat dan herbal, tubuh Rafi semakin kurus dan rapuh hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Inilah kondisi yang terjadi di keluarga kurang mampu seperti keluarga Rafi. Ibu Rafi harus berusaha ikhlas terhadap semua yang terjadi.

Pernah ibu Rafi ingin membawanya ke rumah sakit. Tapi karena keluarganya tidak memiliki kartu jaminan kesehatan bagi orang miskin, maka ia harus membayar biaya yang mahal.

Karena tak mampu membayar dan tak memiliki asuransi kesehatan, Rafi terpaksa dibawa pulang. Begitulah kondisi Rafi dan juga keluarga lain yang bernasib sama dengannya.

 

Dalam kondisi berkabung ibu Rafi berharap akan ada perubahan sistem yang akan menyejahterakan orang-orang sepertinya. Agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

 

Artikel Lainnya

Marak Perundungan Anak, Dimana Letak Masalah Utamanya ?

Kasus perundungan tidak akan menuai penyelesaian dengan seruan revolusi mental, pendidikan berkarakter ataupun kampanye anti bullying. Sesungguhnya akar utama masalah perundungan adalah sistem kehidupan sekuler liberal yang rusak dan merusak. Sebaliknya, permasalahan generasi saat ini akan menuai penyelesaian dengan mengembalikan peradaban Islam yang komprehensif dalam lingkup keluarga, masyarakat dan negara melalui institusi Khilafah. 

Teroris Musiman yang Tak Berkesudahan

Jelaslah agenda WoT adalah sarana AS untuk melawan Islam dan kaum muslimin serta untuk kepentingan hegemoninya di negeri-negeri Islam. Bagian paling menyedihkan adalah dukungan penguasa negeri Islam yang berkhianat terhadap umatnya. Tidak ada keuntungan sedikitpun dari gerakan ini karena serangkaian penangkapan terduga teroris dan framing berita di media massa selama ini selalu menyudutkan Islam. Hari ini terorisme selalu diidentikkan dengan Islam.

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *