Jangan Sembunyikan Kebenaran

“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”(QS Al- Baqarah :42). Ayat ini sangat menggugah hati, ada dua kalimat penting di dalamnya. Pertama larangan mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. Kedua ada perintah untuk tidak menyembunyikan kebenaran.

Alquran selain berisi kabar gembira dan peringatan juga berisi perintah dan larangan. Dan asbabul nuzul ayat ini adalah kecaman bagi sikap Bani Israil yang menyembunyikan ayat yang memberitahu akan datang Nabi penutup dari semua Nabi. Dengan jelas dalam kitab mereka memberitakan kebenaran ini, namun mereka mendustai hanya karena sifat iri dengki mereka.

Mereka tahu, nabi penutup ini adalah pembawa Rahmat, dengan sifat-sifat yang dimilikinya. Ia adalah manusia pilihan yang orang Yahudi ( Bani Israil) sendiri membencinya karena berharap nabi datang dari bangsa mereka. Jika dikatakan penutup, artinya tidak ada harapan bakal terwujud apa yang mereka inginkan dan yakini.

Namun, jika ayat ini diperuntukkan bagi Nabi Muhammad Saw tanpa ada ilat atau penjelasan di ayat yang lain sebagai pengkhususan, maka ini juga berlaku bagi pengikut Nabi Muhammad. Kita, hari ini. Di saat masih hangat peringatan Maulid Nabi Muhammad, maka tepat kiranya jika kita jadikan sebagai momentum muhasabah. Sudahkah kita menjadi pengikut beliau dengan benar?

Jangan-jangan hawa nafsu kita masih merajai, dan mengikuti Nabi hanya pada perbuatan yang “mudah” sementara perbuatan yang rumit enggan. Jangan-jangan pula kita setipe dengan Bani Israil dalam ayat di atas. Mencampur adukkan kebatilan dengan kebenaran. Karena alasan kekuasaan, jabatan, ekonomi, circle pertemanan, eksistensi, konten, follower dan lain sebagainya sehingga tanpa ragu mengambil jalan pintas agar tujuan tercapai meski caranya salah.

Setan sangat lihai mengintai kita setiap saat dan siap menggelincirkan kita ke dalam perbuatan dosa kapanpun. Sehingga kita memandang setiap perbuatan kita benar dan kemudian mencukupkan pada itu saja. Padahal secara keilmuan kosong, apalagi secara dalil.

Supaya kita terhindar dari mencampurkan yang batil dan Haq memang butuh ilmu. Musuh Islam sangat paham ini, maka digagaslah berbagai program agar Kaum Muslim terus menerus berada dalam keadaan buta agama. Kalaulah tahu yang biasa dilakoni nenek moyang saja. Muncullah moderasi beragama, dai bersertifikat , Islamopobia, UU pelarangan pemakaian atribut keagamaan hingga perintah berjilbab menjadi kontroversi karena dianggap membelenggu kebebasan perempuan. Dan masih banyak lagi.

Tujuannya jelas agar Islam menjadi samar bagi pemeluknya, di ujungnya agar Islam bercampur dengan sistem aturan batil, jika hari ini ya demokrasi. Yang sejatinya bertentangan tapi dipaksa untuk menyatu secara homogen, tidak terlihat masing-masing dari kedua unsur. Ini dampaknya sangat fatal, akibatnya kesengsaraan beruntun, mulai dari ketidaksejateraan, kesenggsaran, kehinaan dan lain sebagainya.

Harus ada langkah perubahan, dengan cara perintah kedua dalam ayat di atas, yaitu jangan sembuyikan kebenaran. Berbeda dengan menyembunyikan kebaikan ,sebab berbuat baik berbeda dengan berbuat benar, berbuat baik, kafirpun bisa melakukannya, tapi belum tentu benar. Sebar benar salah standarnya adalah syariat.

Maka, kebenaran memang harus dizhahirkan. Berupa amar makruf nahi mungkar, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dari hal yang sepele, hingga kepada urusan berat hukum misalnya. Menunjukkan kebenaran, artinya melaksanakan apa yang dilarang dan diperintahkan Allah. Semisal perintah untuk mengucapkan salam ketika berjumpa dengan saudaranya, atau tersenyum di hadapannya, atau tidak menyusahkan saudara seakidah baik dengan lisan maupun tangannya, semua adalah perintah, jika kita benar-benar beriman ,maka akan kita terapkan ( zhahirkan) kapanpun, dimanapun.

Kita butuh ilmu agar bisa senantiasa menunjukkan kebenaran, maka menjadi wajib untuk mendorong diri bergabung dengan orang-orang yang sepemikiran dalam sebuah jamaah. Pertama agar bisa menerima ilmu, kedua untuk konsisten menerapkan ketiga agar senantiasa memiliki kekuatan berjamaah di saat kita mulai lemah.

Kendalanya, hari ini, menuntut ilmu asal-asalan, padahal kita tak banyak waktu, lagi-lagi sistem kapitalisme-demokrasi telah sukses menjadikan manusia bersifat egois. Hanya mengamankan kepentingannya sendiri. Menuntut ilmu harus yang mampu mendorong kita untuk mengadakan perubahan, sehingga kita siap menjadi pribadi yang tak segan menunjukkan kebenaran, bahkan bak pelita di kegelapan bagi manusia lainnya yang membawa terang cahaya petunjuk.

Tidakkah kita fastabikul khairat sejak dari sekarang? Sebab hitungan amal tak pernah berhenti dan terus menghitung hingga kita menghembuskan nafas terakhir. Wallahu a’ lam bish showab.[]

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *