Qatar dan Piala Dunia 2022, Berbeda dari Sebelumnya?

Piala dunia 2022 di Qatar resmi dibuka Minggu, 20 November 2022. Meski penunjukkan Qatar sebagai tuan rumah perhelatan besar persebakbolaan dunia setiap 4 tahun sekali banyak menuai kontroversi, namun tak mengurangi antusiasme penggemar olahraga bola sepak ini. Bahkan cukup mengejutkan khalayak dengan kehadiran Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di acara pembukaan dan pertandingan perdana turnamen hari itu menunjukkan seberapa jauh pemulihan hubungan antar kedua negara, setelah perselisihan politik bertahun-tahun. 

Perselihan yang dipicu sikap Qatar yang mendukung kelompok Islamis  Mesir yang naik ke kursi kekuasaan dan negara-negara lain pasca Arab Spring tahun 2011. Qatar juga menghadapi kritik Barat karena mendanai kelompok ekstremis dalam perang saudara di Suriah. Al Qaeda juga mengeluarkan komunike yang mengecam Qatar karena menyelenggarakan pertandingan yang mengundang orang-orang tidak bermoral, homoseks, korupsi dan atheisme. Namun Qatar tetap menjalankan seluruh schedule pertandingan. Pembukaan yang dihadiri banyak pemimpin negara, terutama ketika Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al Thani, salah satu penguasa Qatar,  yang berhasil memenangkan proses pemilihan lokasi Piala Dunia pada tahun 2020. 

Banyak pihak mengatakan bahwa Piala Dunia di Qatar ini banyak membawa perbedaan di banding sebelumnya. Selain diberitakan Piala Dunia ini yang termahal, sebab Qatar telah menghabiskan USD 220 M atau setara Rp 3.344 T, mengalahkan Rusia sebesar USD 11,6 M. Nasser Al Khater, SEO of FIFA Worldcup 2022 mengatakan, 12 tahun terakhir ini negaranya benar-benar sibuk membangun ekonomi terlebih setelah adanya piala dunia yang mendatangkan manfaat hingga 20 tahun ke depan. Sebab lain yang menjadi pembeda, Piala Dunia berlangsung di tengah-tengah musim kompetisi liga dunia, bahkan beberapa liga harus menghentikan pertandingannya karena tidak banyak waktu lagi untuk mempersiapkan berlaga di Piala Dunia, ajang bergengsi sepak bola terbesar dunia. 

Dari segi waktu, juga ada perubahan, yang biasa diadakan sekitar Juni-Juli yang musim panas, menjadi November, sebab meski Qatar sudah memasuki musim dingin, namun udara Qatar masih cenderung hangat. Yang juga berbeda, Qatar melarang LGBT dan peredaran bir di stadion. Padahal sudah menjdi tradisi bagi penonton khususnya Inggris dan Jerman untuk menonton sambil minum bir. Sementara sponsor utama FIFA adalah produsen bir asal AS, Budweiser, yang telah mengucurkan dana USD75 juta. Pemerintah Qatar hanya menyediakan satu tempat untuk boleh minum di Al Bidda Park ( Fans area).

Dunia gegap gempita mengikuti Piala Dunia dan setia mengikuti jadwal kesayangan tim bolanya. Tentulah dalam setiap sudut terdapat banyak kesempatan bagi siapa saja untuk mengais rezeki mulai dari transportasi, akomodasi, makanan, pakaian, souvenir dan lain sebagainya. Lantas siapa yang paling diuntungkan dari diadakannya acara ini? yang pertama tentulah FIFA sendiri sebagai pemegang satu-satunya hak lisensi acara, dengan meraup keuntungan sebesar USD 7,5 miliar atau sekitar Rp117,5 triliun.  Di beritakan Detik.com, 22 November 2022, keuntungan itu didapat dari  tiga sponsor baru yaitu Youtube dan Visit Las Vegas dari Amerika Serikat, Fine Hygienic Holding dari Timur Tengah. Pendapatan FIFA ini juga tak lepas dari dukungan perusahaan Qatar Energy sebagai sponsor tingkat atas serta Bank QNB dan Ooredoo sebagai sponsor tingkat tiga.  Selain itu Qatar mendapat sokongan dana dari platform keuangan  Crypto.com terkait hak siar Piala Dunia 2022. Bahkan kontrak sudah ditanda tangani sejak ketua FIFA masih Sepp Blatter.

Piala Dunia Antara Ajang Olahraga, Intreupreuner, Industri dan Politik

Pembukaan resmi sekaligus pertandingan awal yang unik berbeda dari sebelumnya karena dikutipnya ayat Alquran surat Al Hujurat ayat 13 yang dibacakan Ghanim Al Muftah penderita Caudal Regression Syndrome sebagai pesan kepada dunia bahwa Piala Dunia Qatar 2022 membawa cinta untuk seluruh penghuni bumi, tetap saja perhelatan akbar ini membawa misi yang lain kepada dunia, terutama saat dunia tak baik-baik saja karena cengkeraman sistem kapitalisme yang dipaksakan oleh barat. Pemilihan Qatar sebagai tuan rumah tanpa perlawanan berarti dari negara maju lainnya sebenarnya sinyal yang memberitahu siapa penguasa sesungguhnya. Faktanya sebagai ajang olahraga, Piala Dunia juga membawa aroma liberalisme ke Qatar, salah satu negeri dengan penduduknya mayoritas beragama Islam. Dari mulai cara berpakaian, makan, minum dan perilaku atau kebiasaan sehari-hari dari semua yang hadir di sana telah memutar roda perekonomian berputar lebih kencang dari biasanya. Menciptakan ekstravagansa Intreupreuner besar-besaran. banyaknya produksi alat-alat pemuas kesenangan jasadiyah khas liberalisme tak bisa dibendung kemunculannya. Sebab, Qatar pun membebaskan perilaku ini meski juga banyak larangan resmi. 

Ada permintaan jelas ada penawaran, muncullah industri-industri yang melayani hajat liberalisme dan berujung pada politik pembiaran demi sebuah manfaat. Banyak pihak yang menganalisa secara terbuka bagaimana Qatar sebagai negara Arab pertama yang menyelenggarakan Piala Dunia menunjukkan eksistensinya. Secara ekonomi menurut PWC, lembaga riset internasional Piala Dunia menjanjikan pertumbuhan sekitar 8,7% dalam 3 hingga 5 tahun ke depan.  Arab sejak awal. Memposisikan Piala Dunia sebagai kesempatan untuk membangun jembatan antar dunia Arab dan dunia Barat. Selain itu, Piala Dunia akan meningkatkan soft power Doha, ibukota Qatar dan menambah keberpengaruhan politik. Qatar telah mempromosikan kampanye Piala Dunia sebagai pertunjukkan persatuanKepala Program Power Vacuums di New Lines Institut di Whasington, Caroline Rose mengatakan perhelatan ini akan memberikan keuntungan ekonomi terutama di sektor pariwisata khususnya akomodasi dan penginapan, dengan perkiraan keuntungan USD 17 M atau Rp265,5 triliun. 

Bagaimana Pandangan Islam Terkait Olahraga sebagai “Jembatan” Antara Dunia Barat dan Arab?

Dari analisa di atas nampak jelas berputarnya ideologi kapitalisme sangat kental. Apa yang dimaksud dengan membangun “jembatan” antara dunia Barat dengan Arab sudah tidak pada tempatnya lagi. Sebab meski simbol-sombol Islam turut diperkenalkan di berbagai tempat namun secara prinsip Qatar sudah menjelma menjadi negara Barat sebagaimana yang selam ini sudah menjadi kiblatnya. Maka mengharapkan munculnya perubahan revolusioner dari pertandingan dunia ini adalah ilusi. Yang ada, dunia Islam tetap langgeng dalam cengkeraman dunia barat, dan kita tetap diminta untuk tunduk kepada ideologinya yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat. 

Masalah dunia bukan hilangnya persahabatan antar dunia Arab dan Barat sehingga dibutuhkan sebuah bangunan penghubung (jembatan). Namun perekonomian yang tak berkeadilan, penyerangan terhadap agama Islam melalui penyematan istilah radikalisme, terorisme dan sebagianya, kriminalitas tinggi, zina dan korupsi marak, eksploitasi kekayaan alam negeri-negeri kaum Muslim atas nama kerjasama atau investasi, kemiskinan, kelaparan dan lainnya. Palestina dan Israel pun tak masuk bahasan padahal keduanya menjadi masalah tak berujung ya karena sistem kapitalisme menguasai keberanian kaum Muslim untuk membela agamanya.

Olahraga sendiri dalam islam mubah, dasarnya adalah untuk persiapan jihad. Maka tubuh harus terbiasa sehat dan bugar agar mudah bergerak. Rasulullah saw pernah berlari dengan aisyah dalam sebuah lawatan, Rasulullah juga pernah mengadakan latihan pedang di halaman Masjid Nabawi dan membolehkan Aisyah menonton. Berikutnya Rasulullah juga sering bertanding gulat dengan para sahabat dan Rasul yang terbaik. Menunggang kuda sambil memanah, berenang pun pernah dilakukan beliau. Namun semua dalam rangka menguatkan fisik untuk jihad fi sabilillah. Sebab, Jihad berhubungan dengan dakwah dan syiar Islam yang tak akan pernah berhenti. Demikian pula allah mewajibkan melatih fisik dan apapun yang berhubungan dengan jihad sebagaimana firman allah swt yang artinya,” Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kaum tidak akan dianiaya (dirugikan)“. (Qs Al-anfal:60).

Hanya saja, Islam membatasi olahraga hanya pada kegiatan melatih kebugaran tubuh, jika pun melombakannya tentu bukan sebagai ajang kapitalisasi seperti saat ini terutama jika berkaitan dengan kerjasama antar negara. Sebab syariat mengharamkan bekerjasama dengan negara yang memerangi kaum Muslim bahkan menjajah harta kekayaan alamnya. Dan kapitalisme menyulap olahraga menjadi sebuah industri untuk mewujudkan kesenangan diri dan materi juga popularitas. Atletnya berubah menjadi selebritas yang makin menjerumuskan manusia dalam kelalaian beribadah kepada Allah. Khalifah Al Amin pengganti Khalifah Harun Ar Rasyid membangun lapangan sepakbola, difungsikan sebagai tempat olahraga bagi rakyat yang merupakan fasilitas umum. Dan memang kapitalisasi olahraga hari ini untuk melemahkan kaum muslim dan tidak lagi fokus pada perubahan hakiki. Bahkan cenderung dikuasai oleh Ashobiyah (kesukuan) dan wathaniyyah (Nasionalisme), sehingga taklagi peka dengan maslahat hakiki bagi Umat Islam. Wallahu a”Lam bish Showab.

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *