POLITIK

Super Intelligence Forse dan Upaya Kuasai Dunia

Suara Netizen Indonesia—Presiden Amerika Serikat Donald Trump membentuk badan baru dan menamainya Super Intelligence Force (SIF) serta menunjuk Direktur Intelijen Nasional AS Jay Clayton sebagai pemimpinnya. Badan itu bertugas mengoordinasikan kebijakan pemerintah AS terkait kecerdasan buatan (AI) (kompas, 5-10-2026).

 

Pembentukan badan baru itu merupakan langkah lanjutan Trump, setelah sebelumnya para pemimpin perusahaan teknologi AI dikumpulkan di Gedung Putih. Trump mengatakan SIF dibentuk untuk mengoordinasikan upaya pemerintah federal agar Amerika Serikat tetap menjadi pemimpin dunia dalam pengembangan “super intelligence”, istilah yang kini digunakan pemerintahannya untuk menyebut AI.

 

Dengan kata lain, tugas SIF sebagai penghubung pemerintah AS dengan sejumlah pihak di luar pemerintahan, termasuk konsumen, kelompok kepentingan publik, organisasi keagamaan, penyedia infrastruktur kritis, dan perusahaan AI. Kemudian mengevaluasi risiko dan peluang yang muncul dari perkembangan teknologi AI. Intinya, SIF tidak hanya bertugas mendorong pengembangan AI, tetapi juga memetakan risiko yang muncul ketika teknologi tersebut semakin canggih.

 

Karena SIF juga mendapat mandat untuk menyusun rencana menghadapi ancaman yang muncul akibat penggunaan super intelligence baik berupa dampak terhadap keamanan nasional, infrastruktur penting, keamanan siber, hingga masyarakat secara luas. Pemerintah AS ingin dapat merespons ancaman yang muncul tanpa menerapkan regulasi berlebihan yang dianggap dapat menghambat inovasi dan persaingan perusahaan AI. Jelas ini berlawanan dengan kekhawatiran masyarakat tentang dampak negatif AI, Trump mengatakan perkembangan AI tidak bisa dihentikan. Ia bahkan menyebut kekhawatiran tersebut sebagai hoaks.

 

Dua Mata Pisau AI

 

Sebuah riset berjudul “Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?” melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai bapak AI modern. Melihatkanpula satu pendiri Anthropic Jack Clark dan kepala ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki.Riset ini diterbitkan di jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) yang isinya mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali dari teknologi AI. 

 

Para penulis mengungkapkan keprihatinan tentang “ledakan kecerdasan” yang mereka gambarkan sebagai percepatan drastis kemajuan AI akibat AI itu sendiri dalam proses recursive self-improvement (RSI) atau penelitian dan pengembangan (R&D) AI secara otomatis, bahkan memicu perkembangan yang sangat cepat dari sistem yang sangat mumpuni atau superhuman AI system.

 

AI memang memberikan dampak positif seperti di bidang medis dan teknologi lainnya, namun di sisi lain, ledakan kecerdasan membawa tiga risiko termasuk ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, serta ancaman perang antarnegara. Para peneliti itu pun mendesak pembuat kebijakan (dalan hal ini pemerintah) untuk segera bertindak melalui transparansi progres, pembatasan kecepatan pengembangan, kerja sama penghentian proyek dengan pusat data, isolasi sistem otomatis, serta membuat rencana tanggap darurat ledakan kecerdasan buatan tersebut (cnnindonesia, 30-9-2026).

 

Perkembangan AI Tanpa Idiologi yang Sahih, hanyalah Bom Waktu Masalah

 

Apapun itu sebetulnya mengandung dua hal, dampak baik atau dampak buruk. AI pun demikian, ia adalah produk kecanggihan teknologi yang berasal dari akal manusia, namun, kini manusia ketakutan sendiri ketika menyadari salah satu dampak yang tak bisa mereka hindari adalah perkembangan yang cepat atau Superhuman AI system yang bahkan akal manusia pun belum mampu menjangkau. 

 

Dampak terburuknya ledakan kecerdasan AI yang tanpa kendali sistem dari sebuah idiologi yang sahih bisa berisiko hancurnya kehidupan manusia. Bagaimana bisa sedemikian mengerikannya? Bukankah akal manusia diciptakan Allah swt. untuk berpikir, membedakan mana salah dan benar juga sebagai penentu solusi bagi setiap masalah manusia? AI salah satu produk akal manusia, apakah artinya penemuan AI ( dengan seizin Allah) artinya salah karena merugikan umat manusia?

 

Jika kita kaji lebih mendalam, ledakan kecerdasan buatan (AI) ini kini tak hanya menjadi komoditas, melainkan alat untuk melegitimasi dominasi sebuah negara kepada negara lain. Dalam hal ini, AS yang menolak penghentian atau pembatasan pengembangan AI, karena menurutnya lagi, menghentikannya sama dengan memberikan pada pihak lain untuk mengendalikan. Padahal dunia ini jika mampu harus tunduk dan patuh kepada AS sebagai pemimpin dunia. 

 

Kedua, ketika perkembangan teknologi ini sedemikian masiv, namun dalam kendali akidah sekuler dan sistem aturan liberal alias memberikan kekuasaan kepada akal manusia tanpa kendali akidah dan syariat Islam maka memang risiko hancurnya kehidupan manusia akan benar-benar terwujud.

 

Kemajuan Teknologi Wajib Berbasis Akidah Islam

 

Akal manusia memang diciptakan mampu memikirkan segala sesuatu termasuk teknologi, karena sejatinya manfaat teknologi untuk memudahkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, namun akal bukan tempat untuk memutuskan sebuah perkara atau dengan kata lain akal bukan tempat untuk membuat hukum, memilah hukum bahkan menjadikan standar perbuatan manusia bukan halal dan haram.  

 

Apalagi sebagai seorang muslim, maka wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah adalah aturan baku untuk setiap persoalan hidupnya. Manusia diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah fiil ardhi. Sebagaimana firman Allah SWT. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (TQS Al-Baqarah: 30).

 

Makna ayat di atas bahwa manusia adalah wakil atau pemimpin dari Allah SWT di bumi yang diamanahkan untuk mengelola, merawat, dan memakmurkan alam semesta dengan adil dan bijaksana. Maka, dalam Islam ditetapkan hukum yang tegas untuk segala bentuk hasil pemikiran manusia, yaitu hanya ada dua jenis, pertama hadarah, yaitu sebuah ide dalam sebuah produk teknologi yang dipengaruhi oleh pemikiran mendasar tertentu atau ideologi. Kedua madaniyah, bentuk fisik saja dan sifatnya netral. 

 

AI secara fakta adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia, namun karena hari ini dunia dikuasai oleh sistem kapitalisme demokrasi maka dalam pengembangannya banyak dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi sekuler itu yang kemudian diproses menjadi satu keputusan. Akan ada perbedaan mencolok, ketika seseorang yang memegang ideologi kapitalisme, sosialisme dan Islam. 

 

Ketika AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, AI di tangan manusia kafir akan mendatangkan bahaya dan kerusakan akibat dianggap sekadar komoditas atau benar-benar dimanfaatkan untuk politik hegemoni dari negara adidaya kepada negara-negara lainnya.

 

Islam memandang, kehidupan manusialah yang harus diatur dengan syariat Islam agar selamat. Tak ada lagi yang ditakutkan ketika kemajuan teknologi seoalah “ melampaui” kecerdasan manusia itu sendiri, karena sistem dan regulasinya tetap serta sanksi hukumnya adil dan menjerakan. Islam tidak menolak teknologi, bahkan ketika Sultan Muhammad Al Fatih hendak menyusun stategi menaklukkan Konstantinopel yang kala itu berada di bawah kekuasaan imperium Romawi. Ia sengaja mencari ahli persenjataan sekaligus inovatif untuk memperkuat strategi perangnya. Dengan strategi itulah Al Fatih mampu mewujudkan bisyarah Rasulullah 800 tahun sebelumnya. Wallahualam bissawab. [SNI].

 

 

 

Related Posts

1 of 141