POLITIK

Cukupkah Sumber Minyak di Negeri Kita?

Beberapa kegunaan minyak mentah Ada lah sebagai bahan bakar transportasi (bensin, solar, avtur), pembangkit listrik, pelumas mesin, serta bahan baku utama industri petrokimia, seperti produk turunannya adalah plastik, aspal, pupuk, serat sintetis, hingga pelarut kimia yang menopang hampir seluruh sektor kehidupan modern. 

Suara Netizen Indonesia–Dikutip dari Antara.com (08/04/26), Konflik Iran versus koalisi AS–Israel berdampak serius, dalam hal ini di kawasan Timur Tengah. Berdampak pula pada pasokan ke sejumlah negara importir, salah satunya di Indonesia.
Harga minyak dunia melonjak tajam melampaui 100 dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh kisaran 116-119 dolar AS per barel untuk jenis Brent, setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran.

 

Terlepas dengan konflik yang terjadi. Yang perlu dipertanyakan apakah sumber daya minyak bumi di negeri kita tidak mencukupi, sehingga harus bergantung dengan minyak dari luar? Adapun berapa kebijakan yang diambil melihat dampak konflik yang terjadi adalah diplomasi dan negosiasi, ketahanan energi, dan evakuasi WNI.

 

Terkait diplomasi, perwakilan Indonesia, Bapak Jusuf Kalla, intens melakukan upaya diplomasi dan akhirnya bisa melewati selat Hormuz. Ketahanan energi, Kementerian ESDM, menginstruksikan mitigasi atas potensi gangguan pasokan dan memaksimalkan cadangan BBM nasional (21–28 hari) dan mencari alternatif impor dari negara non-konflik. Evakuasi WNI dilakukan oleh KBRI untuk melindungi warga negara disana.

 

Diharapkan dengan tiga kebijakan tersebut bisa mengantisipasi kecukupan dan keamanan dalam negeri. Walaupun begitu, konflik yang berkepanjangan membuat negeri kita harus memikirkan langkah kedepannya.

Negara Kaya Minyak, Mengapa Susah Minyak?

Indonesia memiliki banyak daerah penghasil minyak bumi. Badan Pusat Statistik berhasil memproduksi 223.532,5 barel minyak bumi pada tahun 2022. Lebih lanjut, International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa negara kita memproduksi 1.312.331 terajoule minyak bumi pada tahun 2023. Secara regional Asia Pasifik, Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Tiongkok dan India. Secara global, Indonesia berada pada peringkat ke-26 setelah Azerbaijan yang memproduksi 1.335.798 terajoule minyak bumi di tahun 2023. 

 

Dengan banyaknya jumlah minyak mentah, sebenarnya apa yang menyebabkan kita harus tetap mengimpor minyak dari luar. Ada 7 alasan tetap melakukan impor bagi kita, yaitu, Pertama, kapasitas kilang minyak yang terbatas. Kilang-kilang minyak yang ada saat ini, seperti di Cilacap, Balikpapan, dan Balongan, sebagian besar dibangun pada era 1970-an hingga 1990-an. Teknologi yang digunakan pun sudah cukup tua, sehingga kapasitasnya terbatas untuk memenuhi kebutuhan. Kilang minyak nasional hanya mampu mengolah sekitar 700-800 ribu barel minyak mentah per hari. Padahal, kebutuhan BBM dalam negeri mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

Kedua, konsumsi BBM yang terus meningkat. Sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar konsumsi BBM. Ketiga, penurunan produksi minyak mentah. Berkurangnya cadangan di sumur-sumur minyak yang sudah tua, terutama di wilayah seperti Riau, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan.   

Keempat, keterbatasan infrastruktur energi. Infrastruktur pendukung seperti pipa distribusi dan fasilitas penyimpanan BBM belum mencukupi. Kondisi ini menyebabkan distribusi BBM dari kilang ke konsumen tidak efisien, sehingga impor menjadi solusi jangka pendek yang lebih praktis.

Kelima, ketergantungan pada BBM bersubsidi. Untuk masyarakat menengah ke bawah. Hal ini mempersulit transisi ke energi alternatif atau penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Dikatakan subsidi ini juga membebani APBN negara.

Keenam, keterlambatan dalam diversifikasi energi. Pengembangan bioenergi, gas alam, dan listrik sebagai alternatif BBM masih menghadapi banyak tantangan, seperti infrastruktur yang belum siap dan tingginya biaya investasi awal. Akibatnya, ketergantungan pada BBM impor tetap tinggi.  
Ketujuh, harga minyak mentah global. Ketika harga minyak dunia naik, beban impor BBM menjadi lebih berat, tetapi ketergantungan tetap tidak berkurang karena kebutuhan domestik yang besar.

 

Melihat ini semua, semua bermuara pada kebijakan yang tidak berfokus pada ketahanan suatu negara. Kita tidak menjadi kan itu sebagai focus utama. Pada hal di dalam sistem islam sebuah ketahanan negara dalam menjamin kesejahteraan masyarakat menjadi fokus utama. Bahkan menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

 

Beberapa kegunaan minyak mentah appdalah sebagai bahan bakar transportasi (bensin, solar, avtur), pembangkit listrik, pelumas mesin, serta bahan baku utama industri petrokimia, seperti produk turunannya adalah plastik, aspal, pupuk, serat sintetis, hingga pelarut kimia yang menopang hampir seluruh sektor kehidupan modern. 

 

Selain itu semua bahan dasar tersebut nantinya menjadi bahan untuk memproduksi alat alat berat, persenjataan yang sangat penting untuk kekuatan dalam negeri. Setelah kita melihat pentingnya kegunaan minyak mentah ini harusnya menjadi PR besar bagi kita agar menggunakan sebaik-baiknya produksi minyak dan mempercanggih peralatan dan pengadaan kilang minyak sehingga produksi bisa optimal. Selain itu, perlu dilakukan pengembangan penelitian agar ada pengganti sumber energi yang lain. Sehingga ada cadangan pengganti jika minyam mengalami kelangkaan atau penurunan pasokan.

 

Sistem Islam Solusi Kemandirian Energi

Semua ini bergantung pada sistem yang berlaku dalam sebuah negara. Karena kebijakan untuk itu semua ada di tangan penguasa. Dalam Islam penguasa harus memaksimalkan untuk memperkuat kemandirian negara. Maka tidak heran jika negeri ini memakai sistem Islam pastinya penguasa akan membuat kebijakan tidak sesuka hati atau bahkan di dikte oleh negara penjajah seperti hari ini. Bahkan untuk pengadaan alat alat berat saja kita harus bergantung pada negara asing.

 

Apalagi jika produksi minyak dunia yang faktanya adalah Timur Tengah dimana mayoritas adalah umat Islam. Begitu pula negeri Asia salah satunya Indonesia, memakai sistem islam, maka negeri kaum muslim yang bersatu dalam satu kekhilafahan tidak perlu mengimpor karena mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri nya sendiri. Wallahu a’lam bishshawwab. [SNI].

Related Posts

1 of 134