Suara Netizen Indonesia-Sekurangnya 150.000 orang meninggal dunia dan 14 juta orang mengungsi, dengan 24 juta orang menderita kelaparan di Sudan dalam perang yang berlangsung sejak April 2023. Angka tersebut terus bertumbuh dan bertambah berlipatganda seiring dengan meningkatnya eskalasi kejahatan yang dilakukan kelompok bertikai.
Laman kompas pada 5/11/2025 melaporkan Universitas Yale AS, melalui foto citra satelit mendapati 31 lokasi yang diduga menjadi ladang pembantaian massal. Dari angkasa terlihat tanah padang pasir dipenuhi semburat merah penanda darah yang membentuk genangan meluas di beberapa tempat, seperti markas militer, universitas, dan rumah sakit di kota Al-Fashir.
Perang Sudan kini disebut tragedi kemanusiaan terburuk abad ke-21. Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang banyak diisi mantan milisi Janjaweed yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), baru saja menguasai Al-Fashir, pada 26 Oktober 2025. Jaksa Penuntut Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda pada Senin, (3/11/2025) mengumumkan pihaknya menemukan bukti dugaan terjadinya pembantaian, pemerkosaan massal, dan berbagai kejahatan mengerikan di Al-Fashir.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres di tengah KTT Pembangunan Sosial di Qatar mengatakan perang di Sudan sudah tidak terkendali. Dari 65.000 pengungsi yang meninggalkan Al-Fashir menuju kota Tawila pekan lalu, hanya 5.000 pengungsi yang sampai dengan selamat. Selebihnya diperkirakan dibunuh RSF saat berupaya meloloskan diri dari kepungan paramiliter.
Pembantaian dan Pengkhianatan Dalam Diam
Sementara dunia bergulir, Sudan telah bertahun-tahun berdarah dalam diam. Sudan pernah memiliki pemerintahan Islamis yang stabil di bawah Omar al-Bashir yang berlangsung selama 30 tahun (1989-2019). Namun di sisi lain Omar juga memerintah secara represif menyebabkan konflik. Pada 2018-2019 Omar digulingkan pasukan keamanannya sendiri dibantu tentara paramiliter RSF.
Sudan telah lama menjadi target negara-negara besar yang serakah seperti AS, Inggris dan Prancis. Balakangan Israel pun merintis jalan menguasai Sudan melalui Uni Emirat Arab. Semua ini bukan semata-mata karena kekayaan alam, atau karena letaknya yang strategis, atau karena tanahnya yang subur membentang. AS dan negara-negara penjajah tidak akan dapat menikmati semua itu selama mereka belum dapat menemukan cara untuk menundukkan keislaman rakyat Sudan.
Meski di lapangan terdapat penggiringan konflik Sudan ke arah perang saudara, antara paramiliter RSF dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), namun kondisi ini bukanlah kondisi yang alami melainkan perang yang didesain oleh tangan-tangan iblis yang bekerja untuk Amerika, Inggris bahkan Israel. Perang terhadap Sudan adalah konflik yang didesain untuk memerangi Islam melalui proxy Uni Emirat Arab maupun Mesir.
UEA yang dijuluki Kekaisaran Gurun, tengah mempererat cengkramannya di Laut Merah dengan tujuan mengendalikan setiap jalur kehidupan dari Afrika hingga Arab. Duta Besar Sudan untuk India, Mohammed Abdalla Ali Eltom, menuding UEA sebagai pemasok utama senjata kepada milisi iblis RSF yang telah membantai ribuan warga sipil di kota Al-Fashir, Darfur.
“Sudan tidak menghadapi perang saudara. Kami menghadapi konspirator aktor non-regional. RSF bertindak sebagai proxy kekuatan asing, dan beberapa negara di kawasan ini bertindak sebagai koridor pasokan senjata ke RSF. Milisi ini mengancam akan mengacaukan seluruh kawasan dari Laut Merah hingga kawasan Afrika Tengah.”
Mr Eltom menjelasakan bahwa senjata UEA disalurkan melalui Libya dan Chad.
Jejak Berdarah UEA di Sudan
Sudan terletak di timur laut benua Afrika, merupakan negara yang indah dan dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa. Sebelum referendum yang memisahkan Sudan menjadi dua bagian, Sudan merupakan negara ketiga terluas di Afrika. Uni Emirat Arab mengincar Sudan karena negara ini menyimpan apa yang tidak dimiliki Teluk, yaitu tanah yang subur dan urat air yang tak berujung.
Raksasa Emirat seperti International Holding Company dan Jenaan Investment telah memiliki lebih dari 50.000 hektar lahan pertanian di Sudan. Sementara proyek Abu Hamed meliputi 162.000 hektar lainnya. Ini bukan investasi namun sebuah proyek untuk mengontrol Sudan dalam rangka mengamankan rantai pangan UEA.
Jumlah emas yang diambil oleh UEA dari Sudan dengan bantuan pasukan RSF diperkirakan sekitar satu triliun dolar, jumlah yang setara dengan nilai ekspor minyaknya selama 13 tahun berturut-turut. Sumber Sudan menunjukkan bahwa UEA telah menjadi eksportir emas terbesar kedua di dunia meskipun tidak memiliki tambang emas alami di negaranya, yang menegaskan bahwa sebagian besar emas ini merupakan hasil jarahan dari Sudan dan sumber daya rakyatnya.
Pada tahun 2023, majalah Time menyebut Dubai sebagai “pusat pencucian emas darah Afrika.” Emas yang ditambang di bawah kondisi kekerasan atau eksploitatif diselundupkan keluar Afrika dan dicuci ulang di kilang-kilang minyak Dubai. Setelah dimurnikan, emas tersebut tak terlacak dan memasuki rantai pasokan global secara legal, diekspor ke AS, China, India dan Eropa.
Proyek Israel di Sudan
Laporan sumber terbuka mengonfirmasi bahwa Israel telah berupaya menjalin hubungan diam-diam dengan kedua faksi Sudan selama bertahun-tahun guna mendorong normalisasi hubungan demi mengamankan jalur Laut Merah. Kesepakatan ini difasilitasi oleh AS dan UEA. Harapan Israel dapat mengontrol Sudan, bersahabat maka nantinya sangat bermanfaat dalam memperpendek rute perdagangan serta membatasi pengaruh yang didukung Iran dari Yaman.
Impian jangka panjang Israel adalah Proyek Israel Raya yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Misi mereka adalah menguasai koridor Laut Merah, menyusup ke Sudan dan melemahkan Mesir. Setiap perang regional, setiap kesepakatan milisi, setiap “Pakta Perdamaian” merupakan bagian dari desain ini.
Bagi para ahli strategi Tel Aviv, koridor Laut merah sama pentingnya dengan pengendalian dunia maya yang menjamin kelangsungan dukungan kehidupan bagi negara Israel. Di sisi lain kaum Okultis mencoba memenuhi ramalan. Sudan terletak di persimpangan Hijaz, Mesir dan Abyssinia yang-disebutkan dalam eskatologi sebagai wilayah penuh gejolak sebelum munculnya Al-Mahdi.
Perebutan Sudan adalah peperangan melawan akidah Islam dan kebangkitan Islam. Konflik ini merupakan bagian dari papan catur yang terbentang sebelum bangkitnya peradaban baru.
Konflik Sudan adalah Upaya menggambar Ulang Peta Dunia
Sudan merupakan persimpangan strategis di jantung Afrika dan wilayah Laut Merah, anggota Liga Arab dan Uni Afrika, menjadikan Sudan sebagai jembatan antar wilayah penyangga bagi migrasi perdagangan dan keamanan. Siapa pun yang menguasai Sudan dapat mempengaruhi politik Afrika Utara dan perdagangan Laut Merah sebagai salah satu jalur perairan terpenting di dunia.
Laut merah merupakan titik sempit global yang baru, siapa pun yang mengontrolnya dapat mengontrol pangan dunia. Hal itulah yang menyebabkan Rusia mengincarnya karena emas. Bayangan Wagner tidak pernah meninggalkan Afrika, melalui M Invest dan Meroe Gold, agen Rusia telah menambang tanah Sudan selama bertahun-tahun, menukar bijih besi dengan senjata dan intelijen. Kremlin menginginkan pelabuhan air hangat di Laut Merah dan jalur emas untuk melewati sanksi Barat.
AdapunTiongkok memiliki kepentingan minyak dan militer di Sudan, Israel karena letak geografi dan ramalan, UEA karena mengandalkan diri sebagai proxy Israel dan Barat termasuk AS karena rute militer dan kekayaan alam.
Setiap anak yang meninggal di Darfur merupakan koin dalam perbendaharaan global, demikian pula ribuan jiwa yang dibantai secara kejam. Orang-orang kelaparan, kota-kota hancur sementara warga sipil menjadi jaminan dalam perang memperebutkan mineral dan rute laut.
Sudan menjadi medan pertempuran ideologi berpadu dengan perang proxy menjadi ladang uji coba bagi penyelarasan kekuatan yang akan datang. Setiap konflik mendekatkan kita kepada sistem kontrol tunggal, sistem dajjal yang diramalkan dalam eskatologi; pengawasan, monopoli perdagangan dan hati yang dikeraskan oleh kekayaan.
Kini Agenda AS adalah memisahkan Darfur dari Sudan, setelah mereka berhasil memisahkan Sudan dengan Sudan Selatan sebelumnya. Darfur merupakan daerah sumber kekayaan emas Sudan yang berarti Sudan akan kehilangan kendali atas kekayaan alamnya dan AS mengamankan cengkramannya di jantung Afrika. Langkah selanjutnya adalah mengerat-erat Sudan dalam potongan yang lebih kecil dari Kordofan, Blue, Nile bahkan Khartoum. Gong besar dari agenda AS ini adalah memisahkan Islam dari hati rakyat Sudan.
Inilah peta yang sedang digambar ulang dengan membakar Sudan di atas emas, minyak dan darah.[]










