Keamanan Pangan dan Kesehatan Anak, Dimana Peran Negara ?

Kesehatan merupakan hal penting yang senantiasa diupayakan dalam diri setiap manusia, dan juga sebagai salah satu faktor utama yang sangat vital dalam perkembangan, pertumbuhan anak. Ketika kondisi kesehatan anak kurang sehat tentunya akan berdampak pada berbagai hal yang berhubungan dengan aktifitas dan perkembangan yang akan anak lakukan. Hal utama untuk menjaga kesehatan anak adalah dengan memperhatikan dan menjaga gizi dan makanan yang akan dikonsumsi oleh anak.

 

Pola makan serta jenis makanan yang dikonsumsi anak harus diperhatikan sejak dini, karena akan mempengaruhi dan bahkan menjadi pola makan yang akan dibawa hingga anak dewasa nanti. Oleh karena itu pengetahuan dan kemampuan orang tua, orang dewasa yang ada di sekitar anak senantiasa membantu mengelola, memilih makanan sehat sangatlah penting dan juga utama. Sekarang ini marak sekali jenis makanan junk food atau instan yang lebih digemari oleh anak-anak. Hal ini kian membuat anak sulit untuk diarahkan dan diperkenalkan untuk memilih makanan sehat yang mengandung banyak vitamin dan gizi. Justru lebih memilih jenis makanan yang rentan dengan penyakit.

 

Dilansir dari Liputan6.com, Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Muhammad Faizi, SpA (K) mengatakan, bahwa meningkatnya prevalensi kasus diabetes pada anak sebesar 70 kali lipat pada Januari 2023. Jumlah tersebut dibandingkan dengan jumlah diabetesi anak tahun 2010. Per Januari 2023 kasus diabetes pada anak mencapai 2 per 100.000 jiwa . Kasus diabetes yang banyak ditemukan Pada anak adalah tipe 1. Sedangkan diabetes tipe 2 pada anak sebanyak 5-10 persen dari keseluruhan kasus diabetesi anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat, ada 1.645 anak dengan diabetes melitus yang tersebar di 13 kota di Indonesia yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Makanh, Semarang, Solo, Yogakarta, palembang, Denpasar, Medan, Padang, Manado dan Makassar. Menurut data IDAI, Jakarta dan Surabaya merupakan wilayah yang terkena kasus diabetes pada anak terbanyak. Kasus diabetes lebih banyak ditemukan pada anak perempuan (59,3 persen) dibandingkan pada anak laki-laki. kasus diabetes juga dialami usia balita bukan pada anak di atas usia 5 tahun.

Menurut dr. Piprim, selaku ketua IDAI , tren kenaikan kasus diabetes tipe 2 pada anak, berkaitan erat dengan pola makan di tengah masyarakat saat ini. Menurutnya jika anak-anak kita diberi makanan yang tinggi glikemik indeksnya berupa snack-snack junk food itu, maka gula darah mereka cepat naik kemudian turun drastis. Insulin akan terus diproduksi jika anak mengulangi pola makan yang sama. Piprim juga mengingatkan bahwa gaya hidup mager akan mempercepat terjadinya penyakit generatif.

 

Meningkatnya jumlah penderita diabets pada anak hingga 70 kalilipat disinyalir dari konsumsi makanan yang kurang sehat. Penyakit Diabetes Melitus (DM) sudah sejak lama menjadi hal menakutkan bagi masyarakat. Bahkan penyakit ini mendapat julukkan silent killer karena sering tidak disadari oleh para penderitanya. Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal yang terjadi secara kronis. Hal ini dikarenakan adanya gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas.

 

Merupakan pemandangan sehari-hari, anak-anak mengonsumsi jajanan yang dibelinya di warung atau di tempat bermain yang banyak menjual jajanan anak. Berbagai jajanan yang bisa dibeli sehingga hanya dengan selembar uang 1000-an kebanyakan tidak jelas kandungan gizinya, warnanya yang mencolok, dan rasanya sangat manis. Pastinya mengandung kadar gula yang tinggi dan dapat memicu munculnya penyakit diabetes pada anak.

 

Hal tersebut ternyata berkaitan dengan data yang disampaikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait peningkatan angka kasus diabetes pada anak di Indonesia. Diabets ini bukan saja dari pola makan dan makanan yang dikonsumsi tetapi juga karena gaya hidup yang kurang gerak seperti bermain gawai, turut memengaruhi kesehatan anak. Tidak heran, jika diabetes yang biasanya dialami oleh orang dewasa berusia 40 tahun ke atas, saat ini banyak menyerang remaja bahkan anak-anak sampai usia balita.

 

Segala sesuatu tidak begitu saja terjadi, ada proses panjang dan penyeban kenapa penyakit diabetes pada anak begitu sangat meningkat. Seolah ada pembiaran atau ketidakpahaman yang menjadi penyebabnya. Selain orang tua yang harus memperhatikan anak terkait makanan yang dikonsumsi juga peran negara sangat penting dalam periayahan kepada rakyatnya terkait dengan makanan yang sehat dan thayib.

 

Abainya negara dalam memberikan keamanan pangan kepada rakyat seolah negara lepas tangan terhadap jenis pangan yang beredar di masyarakat. Dalam sistem kapitalis sekuler saat ini, kecenderungan hanya pada keuntungan sehingga menjadikan para pedagang disengaja maupun tidak disengaja mengabaikan kaidah-kaidah keamanan pangan. Selain itu, ketidaktahuan konsumen juga menjadi faktor pendukung rentannya keamanan pangan pada pangan jajanan anak sekolah. Masalah ini menjadi sangat penting dan serius karena konsumsi pangan jajanan anak yang tidak aman secara terus menerus dalam waktu yang lama akan mengakibatkan dampak negatif bagi kesehatan konsumennya, dalam hal ini ialah anak sekolah dan anak balita.

 

Faktor kemiskinan pun menjadi pemicu diabetes pada anak, tidak dipungkiri kekurangan ekonomi menyebabkan anak membeli jajanan murah yang tidak jelas adanya kandungan bahan yang membahayakan kesehatannya. Kapitalisme menyebabkan kemiskinan ekstrem yang memunculkan berbagai kerusakan termasuk merusak kesehatan rakyat. Memberikan peluang usaha sebesar – besarnya bagi para pemodal pangan tanpa mempertimbangkan kemaslahatan terhadap kesehatan.

 

Jaminan Kesehatan Pangan Dalam Islam

 

Islam dalam setiap kebijakannya berbeda dengan kapitqlisme, di mana penguasa mampu menjadi pengurus rakyatnya. Bersaman dengan jajarannya senantiasa memberikan perhatian atas keselamatan dan kesejahteraan warga negara. Semua itunmerupakan tanggung jawab yang harus ditunaikan, yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

 

Makanan merupakan urusan publik yang vital, karena itu keberadaan negara harus hadir dalam mengambil peran sentral terhadap pengawasan mutu dan keamanan pangan. Sebagaimana yang dicontohkan pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab beliau senantiasa berpatroli untuk memastikan bahwa susu yang beredar di masyarakat tidak dicampur dengan air.

 

Adanya pejabat berwenang atas keamanan pasar di masyarakat adalah qadhi hisbah bersama para syurtah (polisi) yang ditunjuk negara akan melakukan inspeksi pasar, bukan hanya di pasar yang menjual bahan pangan rumah tangga, tetapi juga berbagai produk makanan, kosmetik, jajanan hingga obat-obatan. Inspeksi dilakukan di pasar tradisional, kaki lima, mal atau supermarket hingga pusat-pusat pengolahan makanan. Proses distribusi bahan pangan dilakukan merata hingga ke berbagai pelosok desa dan kota. Negara hadir dalam hal sanksi jika ada pelanggaran yang dilakukan yang hukumannya diserahkan kepada qodhi atau hakim dalam sistem peradilan Islam.

 

Kepemimpinan dalam Islam melindungi keamanan pangan, penyimpangan yang akan merugikan rakyat akan segera diselesaikan. Perintah Allah yang mewajibkan hamba-Nya untuk memilih makanan yang thayib dan halal akan terpenuhi. Perlindungan masyarakat merupakan hal yang utama daripada hanya keuntungan bisnis semata. Persoalan keamanan pangan hanya bisa terjaga dengan baik manakala aturan yang diterapkan adalah dari Islam. Bukan saja hanya persoalan makanan namun juga seluruh permasalahan hanya bisa tuntas jika Islam diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan. Wallahu a’lam bi sawwab

Artikel Lainnya

Marak Perundungan Anak, Dimana Letak Masalah Utamanya ?

Kasus perundungan tidak akan menuai penyelesaian dengan seruan revolusi mental, pendidikan berkarakter ataupun kampanye anti bullying. Sesungguhnya akar utama masalah perundungan adalah sistem kehidupan sekuler liberal yang rusak dan merusak. Sebaliknya, permasalahan generasi saat ini akan menuai penyelesaian dengan mengembalikan peradaban Islam yang komprehensif dalam lingkup keluarga, masyarakat dan negara melalui institusi Khilafah. 

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *