Surga Untuk Orang Beriman (saja)?

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. (TQs al-Baqarah :214). Kutipan terjemah ayat ini menarik untuk dicermati, terutama bagi mereka yang merasakan beban berat seolah tak ada habisnya juga bagi mereka yang berakhir dengan menghujat Allah SWT. 

Capek? Iya, hidup itu berat membuat kita lelah, namun ternyata, mati pun “capek”. Berada di dunia yang berbeda dengan dunia yang kita tinggali, menunggu waktu dikumpulkan dan tidak bisa berbuat apapun kecuali menunggu, padahal belum tahu kemana tempat kembali kita yang abadi, surga atau neraka?

Banyak ayat yang difirmankan Allah SWT untuk menggambarkan betapa besarnya penyesalan orang-orang yang mengabaikan peringatan ketika masih di dunia. Ketika mereka masih bisa berbuat apapun, namun semuanya sia-sia karena mereka lebih memilih mengikuti apa yang bukan berasal dari Allah SWT. 

Dan, ternyata, masuk surga juga tak cukup beriman, hal itu ditunjukkan dari firman Allah berupa pertanyaan, ” Apakah kamu mengira akan masuk surga?”. Dengan kata lain, Allah ingin meminta keyakinan kita, apakah sudah layak kita menginginkan surga, sementara yang kita punya hanya keimanan? Belum mengalami ujian dan berbagai goncangan, cobaan sebagaimana orang-orang terdahulu?

Allah kembali meyakinkan kita, Cukupkah? Padahal kita belum menunjukkan kualitas kita, yang setiap saat menyandingkan keimanan dengan amal salih. Ya, hanya itu, Allah hanya ingin melihat kesabaran kita menghadapi setiap ujian dengan mengaitkan setiap perbuatan dengan solusi syariat. 

Hingga digambarkan sekelas para sahabat, mereka yang beriman dan selalu bersama Rasulullah, tak diragukan lagi loyalitas mereka kepada Islam, perjuangan dan kontribusi mereka untuk Islam sebagai pancaran keimanan mereka yang kokoh akhirnya diujung habis kesabaran mereka dan bertanya kepada Rasulullah Saw, ” Kapan datang pertolongan Allah?”

Ujian mereka tak seberat kita, mereka adalah orang-orang pertama yang mengimani Islam dan turut mendakwahkan, di tengah gempuran kekufuran yang keji. Bagaimana Bilal ditindih batu besar di tengah Padang pasir, bagaimana orangtua Ammar Bin YAssir disiksa oleh Abu Jahal karena menyatakan keIslaman mereka dan lain sebagainya.

Meski kini kita masih menghadapi kekufuran, tapi masih ada celah kita untuk hidup normal tanpa boikot sebagaimana yang diterima para sahabat, hingga ibunda Siti Khadijah saat menyusui Fatimah yang keluar darah bukan air susu. 

Tanpa kesabaran maka tak akan pernah kita raih surga. Sabar yang dimaksud bukan sekadar diam menerima nasib bahkan malu memegang identitas muslimnya. Namun, kesabaran disini adalah tidak merutuki nasib, menyesali rencana-rencana yang tidak berjalan mulus, berdiam diri tanpa berbuat sesuatu apapun. 

Sabar adalah produktif, menghasilkan kebaikan ditengah gempuran persoalan. Menumbuhkan sabar adalah dengan ilmu, itulah pentingnya mengkaji Islam. Sehingga tak hanya menggugurkan kewajiban menuntut ilmu, tapi mengazamkan diri untuk komitmen dan konsisten menerapkan setiap ilmu yang didapat. 

Ngaji adalah untuk meninggikan taraf berpikir sekaligus membenahi pola berfikir yang benar, sehingga harapannya setelah mengaji sikap dan perilaku berubah. Dan itulah esensi mengkaji, berani ngaji harus berani menanggung risiko yaitu taat dan tunduk untuk diatur syariat. 

Berilmu dengan mendatangi kajian bukan kemudian persoalan akan lenyap, sebaliknya akan bertambah banyak. Ibarat pohon, sema Ki in tinggi menjulang maka angin akan semakin kencang menggoyang. Namun, dengan mengkaji, maka akan berubah mindset kita, yang semula mudah strees karena seolah tak terpecahkan berubah menjadi lebih enteng karena mengaji Islam membuat kita bisa lebih mudah mengidentifikasi persoalan, mana yang berat mana yang ringan. Mana yang bisa ditangguhkan mana yang bisa harus disegerakan. 

Maka, cara pandang terhadap persoalan hidup ini harus juga berubah, bahwa cobaan dan ujian adalah ladang pahala. Sebagaimana pendapat, jika daging babi haram, mengapa Allah ciptakan hewan babi? Sebab, dari penciptaan babi ada banyak hikmah yang bisa diurai oleh kaum Muslim. Kita harus yakin bahwa di setiap penciptaan Allah tentu selain ada ukuran juga ada maksud, keterbatasan akal manusia saja yang belum bisa menguak. 

Maka, bagaimana cara kita menyikapi setiap ujian yang datang? Pertama yakin bahwa Rahmat Allah lebih besar dari murkaNya, hal ini sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya,”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah 5-6).  Ada janji Allah bahwa di setiap satu kesulitan ada dua kemudahan. Maka, tak ada masalah besar kecuali kecupetan berfikir kita.

Kedua, Allah SWT tidak mungkin membebani kita dengan persoalan yang kita tak akan mampu menanggungnya. Allah SWT berfirman,” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Artinya Allah Maha Tahu kita pasti mampu keluar dari setiap kesulitan, kuncinya tentu dengan yakin bahwa Allah tak mungkin salah memberi cobaan. Kita pun harus kreatif dan tak lelah menuntut ilmu. Sebab, tanpa ilmu kita tak akan bisa selamat. Juga banyak berdoa meminta untuk dikuatkan. 

 

Ketiga, kita harus yakin bahwa setiap persoalan tidak ada solusi terbaik selain syariat Islam. Sebagaimana firman Allah SWT berikut yang artinya, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah :50).  Kalau ada iklan orang pintar minumnya sidomuncul, maka kitapun bisa katakan orang yakin pakainya syariat. 

Islam sungguh menciptakan keadilan, ketika datang perintah untuk masuk Islam secara Kaffah, tidak boleh pilih-pilih ayat, Islam sekaligus telah menjelaskan caranya. Sehingga tak akan terlewat satupun ayat yang kemudian malah mendatangkan dosa jariyah hanya karena kita tak bisa melaksanakannya secara individu. 

 

Disinilah pentingnya institusi Islam yang akan menjadi wakil dari seluruh kaum muslimin menerapkan ayat yang tak mungkin dikerjakan secara individu, semisal qisos. Demikian pula tak akan ada pendapat yang mengatakan persoalan pelik tak ada solusi yang bisa dikulik, sebab ada negara yang menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu manusia. Inilah sebenarnya ujian terbesar kita, yaitu ketika banyak orang memeluk agama Islam, beriman kepada Allah dan RasulNya namun menjalankan hukum jahiliyah yang bukan dari Allah, demokrasi. Demokrasi adalah puncak segala persoalan, sebab landasannya adalah sekuler, pemisahan agama dari kehidupan. Jika demokrasi telah tercabut, maka persoalan apapun yang muncul akan terselesaikan dengan hakiki, sebab hukumnya berasal dari Allah SWT.  Wallahu a’lam bish showab. 

 

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *