Berserah Diri Siapkan Surga

Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati“. (QS Al-Baqarah : 112).

 

Ayat ini didahului oleh kata ” Bala” yang bernada tegas dengan makna ” tidak demikian”. Ayat 112 ini memang untuk membantah perkataan bangsa Yahudi yang di ayat sebelumnya, 111, yang mengatakan hanya Yahudi dan Nasrani yang dijamin masuk surga. Di ayat yang lain Yahudi juga menisbatkan diri mereka dan Nasrani sebagai anak-anak Allah. Jelas ini hanya angan-angan mereka, Allah melanjutkan penolakannya dengan penjelasan siapa penghuni surga itu.

 

Ternyata setiap orang, tak peduli latar belakangnya, bangsanya, warna kulit dan bahasanya asalkan ia menyerahkan diri, tunduk, patuh, taat ikhlas sepenuhnya kepada Allah SWT. Kemudian, dari keimanan itu diiringi dengan berbuat baik, membenarkan dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
Hasilnya, mereka tidak ada rasa takut terhadap hari akhirnya juga tak ada rasa sedih karena ia beroleh surga dan kekal di dalamnya. Artinya, iman yang tidak direalisasikan dalam amal saleh tidak menjamin tercapainya kebahagiaan. Banyak ayat Alquran yang menyandingkan iman dengan amal saleh. “Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun“. (QS An-Nisa:124).

Atau firman Allah SWT dalam ayat yang lain yang artinya,” Barangsiapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya“. (QS Al-Anbiya: 94). Kedua ayat ini sungguh jelas dan gamblang, tanpa perlu tambahan ayat lain sebagai penguat.

Baik laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk menjadi penghuni surga. Mungkin ada yang teracuni dengan pemikiran kaum feminis bahwa dalam Islam derajat perempuan lebih rendah dari pria, sungguh merugi jika benar-benar perkataan yang demikian dituruti tanpa Tabayyun bahkan tanpa berniat untuk belajar lebih dalam tentang Islam.

 

Sebab, sekali Allah menjamin maka tak akan meleset, terlebih Allah SWT jelas-jelas berfirman bahwa Alquran adalah petunjuk. Bukankah sebuah kesia-siaan ketika mengikuti perkataan yang lemah, berasal dari sesama makhluk ciptaan Allah. Bukankah lebih baik sedari detik ini mengazamkan diri untuk belajar dan mengkaji Islam guna menata diri, bersiap menjadi orang yang hanya mau diatur Allah untuk bisa masuk surga?

Coba perhatikan, kita shalat tak mungkin lebih dari 10 menit, namun direntang waktu yang pendek itu setan tak berhenti menggoda kita, bahkan semakin getol dan kreatif menggunakan cara menggelincirkan kita ke dalam dosa, dengan menghilangkan kekhusyukan shalat, sehingga lupa rakaat dan bacaan.

Padahal setan adalah makhluk yang dilaknat Allah dan tidak dijamin masuk surga, sementara kita, yang memiliki segala kelebihan lebih suka mengulur waktu dan bermain-main saja, seolah memiliki waktu panjang untuk mengadakan perbaikan. Sangat gengsi untuk memulai berserah diri sepenuhnya kepada pengaturan Allah SWT.

Sungguh merugi! Demi waktu, sungguh manusia banyak yang merugi, Allah pun tahu sifat ini, sebab manusia adalah ciptaannya. Syarat amal adalah ikhlas karena Allah dan benar, sesuai petunjuk Rasulullah, dan hari ini banyak ide atau pemikiran yang tidak sesuai dengan Islam namun kaum Muslim justru mati-matian memperjuangkannya dan berharap ada perubahan dari sana. Contohnya kapitalisme-demokrasi dan sosialisme-komunisme.

 

Jika ada yang tidak sependapat seketika dilabeli dengan istilah yang juga bukan dari Islam. Maka ini berbicara tentang kepercayaan, jika yang kita percayai adalah sesuatu yang salah dan bukan bersumber dari Wahyu Ilahi, tentulah akan termakan hasutan murahan dan kemudian menganggap Islam rendah. Nauzdubillah.

Mendalami Islam artinya kita juga belajar membuat prioritas hidup, apakah akan meninggalkan Islam demi atribut dunia, atau menjadikan dunia sebaik-baiknya tempat berbekal untuk perjalanan ke kampung akhirat. Jelas tak bisa hal ini dilakukan sendiri. Harus ada jamaah yang menjadi wadah terwujudkan perubahan.
Sebab jamaah itu tak sekadar wadah berkumpulnya individu, namun juga sarana untuk edukasi, silahturahmi, penguatan dan melestarikan ruh jamaah beramat makruf nahi mungkar. Sehingga muncul dari jamaah itu sosok berkepribadian Islam, bertanggungjawab terhadap taklif syariat yang ada pada dirinya dan sekaligus peka dengan persoalan umat.

Jangan sampai kita sebagaimana para kaum Kufar yang digambarkan Allah dalam firman-nya,” Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. Kemudian Allah menjelaskan tentang nasib dari amal kebajikan yang telah diperbuat oleh orang kafir di akhirat nanti“. (QS Al-Furqon: 23). Hanya karena kita mencukupkan diri dengan mengkaji Islam tanpa ada niatan merubah diri menjadi lebih baik dari hari ke hari. Wallahu a’lam bish showab.

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *