Ritual Tahunan, Taruhan Nyawa Jadi Kebiasaan

Suara Netizen Indonesia–Setiap Hari Raya Idul Fitri, cerita selalu berulang, bukan hanya tentang mudik yang mengular, silahturahmi dan halal bihalal di kampung halaman yang meriah tapi juga berita duka banyaknya kecelakaan lalu lintas, hingga macet yang menimbulkan kematian. Ironinya, tak hanya arus mudik tapi juga arus mudik.

 

Seolah pemerintah tak pernah berbenah, sebab masalahan ini selalu berulang setiap tahun. Kemacetan dan kecelakaan saat mudik telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Tahun ini yang terparah adalah kemacetan dan penumpukkan kendaraan roda dua dan roda empat di Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang- Banyuwangi, hingga 31 kilometer.

 

Antrean kendaraan mengular hingga Pura Tirta Segara Rupek atau delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk (suara.com, 19-3-2026). Dan ada seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan saat mengantre berjam-jam di dalam bus untuk keluar dari Bali. Sebelumnya, sebanyak 17 pemudik juga tumbang akibat kelelahan dan paparan cuaca panas saat mengantre masuk kapal.

 

Penguasa Sudah Bergerak, Hanya Saja Lambat

PT ASDP Indonesia Ferry, dalam keterangan resminya, mengakui antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya adanya lonjakan mobilitas masyarakat menjelang penutupan sementara layanan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang dan sebaliknya pada Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 18-20 Maret 2026.

 

Alhasil muncul tekanan besar terhadap kapasitas layanan. Berdasarkan data Posko Gilimanuk selama 24 jam terakhir atau pada 17 Maret 2026, sebanyak 25.105 unit kendaraan menyeberang dari Bali ke Jawa. Kenaikan signifikan terjadi pada kendaraan roda dua sebanyak 16.909 unit. Sedangkan total perjalanan kapal mencapai 243 kali penyeberangan, dengan jumlah penumpang 74.263 orang. Secara kumulatif, sejak H-10 sampai H-4, jumlah penumpang mencapai 383.398 orang dan jumlah kendaraan sebanyak 122.892 unit.

 

Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Yossianis Marciano, mengklaim telah melakukan langkah-langkah taktis yang diklaim berdampak langsung di lapangan, seperti pengerahan kapal perbantuan KMP Prima Nusantara milik PT Jembatan Nusantara ke lintasan Ketapang-Gilimanuk.

 

Deddy Herlambang, Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), mengatakan Kemenhub semestinya sudah mengantisipasi lonjakan arus mudik Idulfitri yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Artinya, para perantau di Bali yang kebanyakan berasal dari Jawa Timur bakal pulang ke kampung halamannya sebelum pintu pelabuhan ditutup jelang Nyepi. Mitigasi yang dirancang Kemenhub maupun pengelola pelabuhan, menurut Deddy sangat kurang. Karena faktanya, kapal Ferry justru terkonsentrasi di tiga Pelabuhan Merak-Bakauheni. Yakni Ciwandan, BJJ Bojonegoro, dan Merak. Yang seharusnya bisa diperbantukan ke Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk.

 

Pendapat Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, persoalan mendasar antrean panjang di Pelabuhan Gilimanuk bukan sekadar lonjakan volume kendaraan, seperti yang diklaim PT ASDP Indonesia. Namun terletak pada sistem kedatangan ke pelabuhan yang belum tertata, serta penambahan armada kapal yang tak dibarengi dengan pembangunan dermaga. Penyediaan zona penyangga (buffer zone) yang memadai sebelum kendaraan memasuki area utama pelabuhan juga kurang, padahal keberadaannya bisa menampung antrean kendaraan agar tidak meluber dan macet.

 

Perbandingan antara pelabuhan Jawa-Bali, lintasan Jawa-Sumatra yang memiliki tiga pelabuhan, memiliki fleksibilitas tinggi berkat banyaknya pilihan pelabuhan operasional. Sementara penyeberangan Jawa-Bali hanya mengandalkan poros tinggal Ketapang-Gilimanuk sehingga risiko lebih tinggi.

 

Kekecewaan Rakyat

Hanya kata maaf yang mampu diucapkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi saat menyikapi kemacetan parah Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang. Prasetyo juga mengapresiasi masyarakat yang memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA) untuk mudik lebih awal. Ia menilai langkah ini dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.

 

Sementara kedatangan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Selasa (17/03/2026) sekitar pukul 13.40 WIB, diwarnai aksi protes para pemudik, mereka menyalakan klakson bersahut-sahutan hingga teriakan kekecewaan terdengar dari antrean kendaraan yang sudah berjam-jam tertahan. Masyarakat menilai Menhub tak punya simpati samasekali, rakyat tetap tertahan sedangkan menhub beserta rombongan melenggang memasuki kapal tanpa hambatan.

 

Tak hanya Jawa Timur, khususnya Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini. Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta, mendominasi jalur menuju Jawa Barat Selatan hingga Jawa Tengah (metrotvnews.com,19-3-2026).

 

Pihak kepolisian terus berupaya melakukan pengaturan intensif di lapangan guna mengurai penumpukan kendaraan yang terjadi. Berbagai rekayasa lalu lintas juga mulai diterapkan secara situasional di titik-titik rawan kemacetan agar kepadatan arus dapat segera teratasi. Di Tol Pejagan-Pemalang juga telah terjadi kecelakaan maut,saat jalur tersebut digunakan untuk one way arah Pemalang. Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasetyo membenarkan kejadian tersebut sekaligus memperingatkan seluruh pengguna jalan t untuk memastikan kondisi fisik dan kendaraan dalam keadaan prima (kumparannews.com, 19-3-2026).

 

Dimana Letak Kesalahannya?

Akar dari semua masalah adalah tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan macet parah yang terjadi tiap waktu mudik. Hanya ada upaya teknis yang tidak mencukupi, sebatas kontra flow, pengalihan jalur, hingga tambal sulam jalan nasional yang bolong parah sehingga juga bisa berdampak pada hilangnya nyawa pengendara karena mengalami kecelakaan.

 

Setiap tahun, kegiataan mudik jadi agenda rutin, meski sudah ada sedikit perbaikan di ruas-ruas jalan tertentu, namun jelas, permasalahan mudik terkait erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan. Ditambah masih banyaknya jalan yang bolong parah, yang seringkali tak hanya membuat nyawa pengendara hilang juga kerusakan motor serius.

 

Inilah kenyataan pahit yang harus telan bahwa kita hidup di negara dengan Sistem Kapitalisme. Semua hal yang berhubungan dengan pelayanan umum justru dijadikan komoditas, diserahkan pengaturannya pada pihak ketiga ( investor), sehingga profit oriented sangat kental. Fungsi penguasa hanya sebagai regulator (pengatur kebijakan) yang seharusnya bersifat raa’in.  Yang bertugas mengurusi rakyat, namun yang ada adalah abai dalam menjamin keselamatan rakyat. Setiap tahun, terjadi dengan berita yang sama dan minim solusi. Semiskin apa negara kita hingga tak mampu memberikan gaji yang layak hingga kehidupan yang mudah dan memudahkan rakyat?

 

Islam Adalah Solusi

Akan berapa nyawa lagi kita biarkan melayang begitu saja di jalan? Yang semestinya nyawa itu bisa menjalankan ibadah dengan mudah dan mendapat jaminan penuh , Khilafah, sistem pemerintahan dalam Islam, mampu  mewujudkan fungsi raa’in yang mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Tentu Khilafahlah yang menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Semua adalah pelayanan dan kemaslahatan. Bukan keuntungan pribadi atau laba perusahaan.

 

Negara Khilafah juga menyediakan jalan yang cukup dan memperbaiki yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Tak akan ada hari yang seharusnya ceria berubah jadi tangis. Pulang kampung atau mudik, merupakan ibadah yang merupakan manifestasi kepatuhan kepada orangtua dan yang dituakan. Birrul walidain sangat lekat pada aktifitas tahunan ini. Jelas Negara Khilafah akan mampu mewujudkan pelaksaan ibadah tanpa drama.

 

Sumber pendanaan Negara Khilafah sangatlah mandiri dan tangguh. Baitulmal yang berisi hasil pengelolaan SDA yang berlimpah, dan beberapa pos pendapatan negara seperti jizyah, khumus dan lainnya. Khusus untuk 8 ashnaf ada pos zakat. Maka, masihkan ada keraguan di dalamnya? Wallahualam bissawab. [SNI].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *