Kekecewaan Seorang Anak kepada Ibu
Seperti kembali terusik dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Sebelumnya siswa SD kelas 6 SD di Medan (12 tahun) melakukan pembunuhan Kepada ibu nya sendiri. Kali ini karena kecewa Kepada ibu, anak SD kelas 4 SD di NTT (10 tahun) melakukan bundir di dahan pohon cengkeh di sebelah rumahnya. Sungguh teriris hati yang mendengarnya. Dikutip dari laman liputan6. com (04/02/25)_Anak SD gantung diri menggemparkan jagat media sosial. Peristiwa ini menimpa seorang bocah SD Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Korban diduga nekat mengakhiri hidup akibat kecewa karena tidak dibelikan pulpen dan buku tulis untuk keperluan sekolah. korban sempat menulis surat disertai gambar seorang anak yang sedang menangis.
Dari detik.com (03/02)_Isi surat yang membuat hati semakin pilu, demikian bunyi surat sang anak;
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Beginilah nasib satu dari anak yang hidup di garis kemiskinan. Seolah ini menjadi tamparan keras bagi negeri yang baru saja membayar iuran dalam dewan perdamaian atau ‘board of piece’ yang sangat besar. Belum lagi negara harus mengeluarkan uang untuk MBG yang harus memangkas dana – dana dari kementrian yang lain. Khususnya dana untuk pendidikan. Ini membuktikan bahwa kita sudah salah dalam memandang permasalahan negeri ini. Sehingga solusi yang di berikan tidak menyelesaikan kasus kemiskinan yang merajalela seperti hari ini.
Bahkan niat bunuh diri yang muncul dari kalangan anak-anak patut menjadi pertanyaan besar untuk kita semua, apakah anak-anak pantas merasakan kesulitan yang seharusnya di masa keemesan tersebut menjadi masa yang penuh kasih sayang, perhatian, pemenuhan kebutuhan pendidikan, dan perlindungan mental dan psikologis. Berapa banyak anak selain korban di NTT, yang memiliki niat yang sama untuk bunuh diri atau bahkan marah dengan ibu atau ayahnya dan berujung keinginan untuk menghilangkan nyawa mereka. Padahal orang tua seharusnya menjadi rumah bahagia untuk setiap anak.
Kemiskinan yang merajalela ini bukanlah dikarenakan malas bekerja, bukan karena takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Tetapi kemiskinan ini turun temurun dikarenakan sistem yang diterapkan melahirkan kemiskinan sistemik yang sulit untuk dilepaskan.
Kemiskinan sistemik ini terjadi karena kesalahan dalam mengelola kekayaan negeri ini. Apa yang kurang dari negeri kita. Kekayaan alam, tambang, laut, hutan, peneliti, bahkan banyaknya sumber daya manusia yang jika benar dalam mengelolanya akan lahir generasi berkualitas.
Tetapi semua itu, tidak mampu mensejahetrakan karena dikelola pihak asing, hampir semua dikuasai pihak lain baik swasta, asing dan aseng mengatasnamakan investasi. Belum lagi kerusakan yang ditimbulkan menjadi beban masyarakat. Seperti kasus banjir bandang yang hingga hari ini sangat mengkhawatirkan karena terus terjadi dan bergantian karena hutan dialihfungsikan secara besar-besaran tanpa memperhatikan bahaya bagi makhluk hidup di sekitarnya.
Semua itu mengakibatkan beban hidup yang tinggi bagi masyarakat. Lapangan pekerjaan yang sempit dan sulitnya menghidupi keluarga menjadi hal yang semakin banyak ditemukan. Hingga berakibat fatal bagi anak-anak. Beban mental dan psikologis anak harus mereka tanggung, hingga kekecewaan berujung maut.
Sudah saatnya memutus rantai kemiskinan dengan kembali Kepada sistem yang sudah pasti benar. Sistem islam yang telah terbukti selama 13 abad melahirkan peradaban mulia dan agung. Adapun kasus hanya sedikit dan kemiskinan bisa diselesaikan. Tidak berlarut larut. Anak pun bahagia karena mendapatkan orang tua yang bahagia dengan terpenuhinya kebutuhan hidup dan keimanan yang selalu disuburkan dalam sistem islam.
Bukan cerita dongeng, pernah suatu masa dalam sejarah keemasan islam, masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dimana tak satupun warga mau menerima harta zakat yang dibagikan. Pintu ke pintu semua menolak. Bahkan sampai bisa membebaskan rakyat yang memiliki hutang, tak mampu menikah, dan sampai disebarkan ke luar wilayah daulah khilafah ketika itu. Itu semua bukan hanya faktor kehebatan pemimpin tetapi juga keadilan islam yang diterapkan yang mampu memutuskan rantai kemiskinan. Wallahu a’lam bishshawwab
Komentar