Nasi Jamblang Cirebon, Mendadak Kuliner

Suara Netizen Indonesia–Cirebon, selama ini hanya sekilas lewat, jika melakukan perjalanan ke Provinsi Jawa Barat dan kembali ke Provinsi Jawa Timur. Pun info terkait kota yang mendapat julukan kota Udang sebagaimana Sidoarjo dengan julukan kota Bandeng dan Udang, hanya tahu dari media sosial. Banyak pula kawan yang berasal atau tinggal di sana, tapi benar-benar, Cirebon bukan kota destinasi utama kami setiap kali melakukan perjalanan. 

 

Namun, Kamis, 12 Februari 2016 tak sengaja malah kuliner dadakan salah satu makanan khas Cirebon, yaitu Nasi Jamblang. Waktu menunjukkan pukul 07.18 WIB, anak-anak bertanya, ” Kita sarapan dimana nih?” Kebetulan, kita berada dalam perjalanan ke Bandung dan saat itu sedang berada di ruas Tol Cirebon. Berbekal pengalaman ketika luar kota dulu, suami mengajak makan Nasi Jamblang. Makanan khas Cirebon selain Empal Gentong. Tak lama, mobil pun mengarah keluar Gerbang Tol Plumbon 2 ruas Tol Palikanci.

 

Kami pilih lokasi terdekat dari pintu tol dan ternyata cukup legenda juga sebab sudah ada sejak 1970, namanya Rumah Makan Khas Cirebon Nasi Jamblang Mang Dul. Berseberangan dengan Hotel Tryas dan Grage Mal Cirebon. Kalau ada yang belum tahu, nasi Jamblang adalah nasi panas yang dibungkus daun jati, disajikan secara prasmanan dengan beragam lauk khas seperti sambal goreng, balakutak (cumi tinta hitam), dan sate kentang. 

 

Suasana pagi itu lumayan ramai, beberapa pengunjung sudah duduk dan menikmati makanan. Tak lama, rombongan lain berdatangan, entah itu makan di tempat atau dibungkus. Karena berdasarkan ingatan suami puluhan tahun lalu, tak ada tempat parkir di sekitar rumah makan,  maka mobil kami parkir agak jauh dari lokasi,  ternyata, sudah banyak yang berubah. 

 

Saat kami berjalan dari lokasi parkir ke rumah makan, melewati lahan parkir yang cukup luas dan nyaman, bersebelahan dengan rumah makan, dan ternyata memang sudah menjadi milik rumah makan Mang Dul.  Luas dan nyaman. Begitu juga dengan penataan makanan untuk prasmanan sudah lebih rapih, suami bilang kursinya dulu masih kayu biasa, sekarang kayu dengan desain minimalis tapi kuat. Begitupun dengan toilet dan area kasir. Lebih bersih dan tertata. Artinya ada perubahan setelah sekian puluh tahun, dan suami masih berputar pada ingatannya, lucu sekali. 

 

Jarak dari parkiran menuju rumah makan, sekitar 5 menit berjalan, sedikit becek sisa hujan semalam sehingga harus lihai memilih mana yang kering dan mana jalan yang masih menyimpan air karena berlubang, pagi itu pun masih gerimis tipis. Entahlah, setiap kami mengadakan perjalanan ke Jawa Barat, selalu diguyur hujan, demikian pula pulang ke Jawa Timur. Kata si Adik ini yang ditunggu, berkendara  mobil, air hujan mengalir di jendela kaca, kadang serong karena empasan angin kencang menjadikannya semakin romantis. Hem, Gen Z memang banyak istilahnya. 

 

Kata Jamblang yang disematkan berawal dari Desa Jamblang. Nasi hangat, dibiarkan dingin dengan suhu ruang kemudian dikepal, dibungkus daun jati yang memunculkan aroma khas awalnya adalah  bekal para pekerja atau petani di zaman penjajahan Belanda. Dipilihnya daun jati sebagai pembukus bukan tanpa sebab, dengan daun yang berpori menyebabkan nasi lebih awet dan praktis sekaigus sebagai pengganti piring makan.

 

Boleh dikata dari setiap bungkusnya, Nasi Jamblang bukan sekadar bungkusan nasi beralas daun jati yang natural dengan lauk pauknya, tapi lebih kepada ingatan sejarah bagaimana perjuangan bangsa ini ketika zaman Belanda, keterbatasan menjadikan kreatifitas semakin tinggi. Pantas jika kemudian dilestarikan menambah khasanah kuliner nusantara. 

 

Secara rasa, sangat cocok di lidah, soal harga, relatif lebih mahal dibandingkan menu makanan lain di pulau Jawa yang sama-sama menjadi ikonik. Namun, rasa penasaran sudah terbayarkan. Apa yang selama ini hanya mengingat cerita suami dan membayangkannya, sekarang sudah tidak lagi.

 

Apakah akan ada kesempatan kedua kali datang menikmati nasi Jamblang? Tidak ada yang tahu, bisa saja terulang, tapi jika ada kesempatan kembali ke Kota Cirebon lebih baik coba menu yang lain, supaya kaya pengalaman sebagaimana lidah yang kaya rasa. 

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *