Suara Netizen Indonesia–Viral sebuah video yang beredar di jagat maya, video tersebut diunggah oleh akun Instagram @pesonabwi, nampak seorang biduan dengan busana seksi menari dan bergoyang diatas panggung. Sungguh sebuah pemandangan miris, terlebih ada sebuah tulisan ukuran besar jelas terlihat di belakang panggung yang menyatakan acara itu adalah dalam rangka memperingati salah satu hari besar kaum muslimin, yaitu Isra’ Mikraj.
Kejadian tersebut terjadi di Dusun Bangorejo, Desa Parangharjo, Kecamatan Songgo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sontak memancing reaksi warganet yang menuding aksi tersebut tidak pantas dilakukan dalam sebuah acara perayaan keagamaan. Panitia pun memberikan penjelasan serta klarifikasi.
Muhammad Hardianto selaku ketua panitia acara menjelaskan kronologis peristiwa sekaligus memita maaf pada seluruh warganet jika kegiatan tersebut telah menimbulkan kontroversi. Bahwa elekton tersebut dilaksanakan setelah kegiatan pengajian selesai dan seluruh undangan serta kyai sudah tidak ada di tempat dan murni digunakan untuk menghibur panitia yang sedang bersih-bersih setelah melaksanakan kegiatan (Banyuwangi.viva.co.id, 17-1-2025).
Sekulerisme Rusak Makna Hakiki Isra Mikraj
Pertanyaannya, apakah panitianya bukan muslim sehingga membenarkan “ hiburan” yang menghadirkan biduanita dengan pakaian minim yang sebenarnya haram mereka lihat? Seburuk itukah pemahaman kaum muslim terhadap agamanya?
Hari ini memang sangat jamak kita temui peringatan Rajab dan Isra’ Mikraj diperingati secara istimewa oleh umat Islam namun sekadar tentang perjalanan nabi Muhammad SAW ke langit dan turunnya perintah shalat. Berbagai tema acara, lomba hingga materi khutbah dibuat “seringan” mungkin dengan alasan agar kaum muslim mudah menyerapnya. Alhasil yang seharusnya kaum muslim semakin memahami essensi makna di dalamnya malah semakin jauh dari pemahaman yang sahih.
Padahal jika kita memahami sejarahnya, setelah peristiwa Isra Mikraj, tidak berapa lama diikuti dengan momen baiat aqabah kedua. Artinya, secara keimanan, makna Isra’ Mikraj bukanlah sekadar momentum spiritual, tapi juga gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis. Tak hanya mengenai aturan salat semata, tapi juga kepemimpinan Rasûlullâh dengan risalah Islam, yang akan memberikan rahmat ke seluruh alam.
Lebih miris lagi, hikmah Isra’ Mi’raj baru dimaknai sebagai perintah ibadah shalat sebagai ibadah mahdhah (ritual) semata. Padahal, salat adalah kinayah ( indikasi) yang dipakai dalam hadis larangan memerangi Imam selama masih menegakkan salat, Dari ‘Auf bin Malik, Rasulullah SAW. bersabda: “Ditanyakan (kepada Nabi), ‘Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka dengan pedang?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di antara kalian.”(HR. Muslim). Sehingga makna menegakkan salat adalah menegakkan hukum Allah.
Bencana yang menimpa kaum muslim, terjadi setelah runtuhnya Khilafah di Turki Ustmani persis 3 Maret 1942, artinya, selama 105 tahun umat Islam tidak bisa menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kafah di seluruh penjuru bumi. Bahkan beberapa hukum yang masih ada berusaha direduksi sedemikian rupa hingga dikriminalisasi agar hilang dari benak kaum muslim.
Hingga hari ini, yang terjadi umat belum menyadari bahwa ditetapkannya sistem sekuler demokrasi secara global yang menggantikan hukum syariat adalah penentangan terhadap hukum dari langit (hukum Allah). Yang mereka pahami hanya hukum salat, puasa dan haji, sementara hukum lainnya tidak, padahal ada dalam satu Al-Quran dan hadis yang juga dituntut oleh Allah untuk diterapkan.
Tak ayal, bencana yang terjadi ketika ditinggalkannya syariat Islam tak cukup bencana politik, ekonomi struktural, namun bencana sosial kemanusiaan hingga bencana alam. Inilah yang kita lihat dan rasakan hari ini. Penderitaan tak hanya menimpa kaum muslim namun dunia secara global. Kepemimpinan kapitalisme global tak pernah bisa menggantinya dengan kebahagiaan, walau hanya sehari, kecuali bagi para pemilik modal pengendali dunia, maka menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia menjadi urgen.
Penerapan Syariat Bukan Sekadar Seremonial
Seharusnya, Rajab dan Isra’ Mi’raj, harus menjadi momen membumikan kembali hukum Allah dari langit, yaitu dengan cara mencampakkan hukum sekuler Kapitalisme dan menegakkan syariat Islam Kafah.
Terutama hingga kini yang paling nyata tampak yaitu penjajahan di Palestina, tempat perjalanan Isra’ Mikraj Rasulullah saw. yang telah jatuh dan diacak-acak oleh laknatullah entitas Yahudi yang harus dibebaskan. Demikian juga negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan. Penguasa kafir yang bertindak zalim pada minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina selatan juga harus dihentikan.
Tak ada cara terbaik yang lain kecuali menyerukan kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan Khilafah Rasyidah. Reputasi yang tak terelakkan dari gagahnya tentara muslim, kecanggihan teknologi persenjataan yang dimilikinya hingga kekuatan akidah Islam yang dimiliki, tinggal menunggu turunnya komando seorang pemimpin yang taat kepada Allah dan RasulNya, yaitu Khalifah. Bukan boneka kafir bahkan budak AS sebagaimana saat ini.
Umat Islam, umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin adalah cucu Al Mu’tasim, cucu Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah, pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Darah dan semangat mereka meninggikan kalimat Allah juga ada pada kita. Dengan tegaknya Khilafah Islam akan mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan umat Islam.
Rakyat harus bersinergi dengan partai Islam ideologis, yang akan terus berjuang siang dan malam, dengan sungguh-sungguh memimpin dan membimbing umat agar dapat melanjutkan kehidupan Islam. Monsterisasi kelompok dakwah idiologis selama ini hanyalah upaya penguasa menjauhkan kaum muslim dari pemikiran, perasaan dan peraturan Islam. Tujuannya tentu agar umat mudah dihegemoni, mendukung pemikiran kufur dan menjauh dari syariat, nauzubillah.
Kaum muslim tak boleh tepedaya, sudah cukuplah penderitaan selama ini karena ketiadaan syariat Islam sekaligus Junnah bagi kaum muslimin. Menegakkan Khilafah adalah perjuangan pokok, agung, penting dan vital. Umat harus segera menyambut perjuangan menegakkan Khilafah. Agar hidup lebih bermakna di dunia, di akhirat kelak mendapatkan balasan sebagai orang beriman dan hanya menghambat kepada Allah. Wallahualam bissawab. [SNI].










