Islam Menjaga Ibu dan Generasi
SuaraNetizenIndonesia_ Transformasi digital telah memasuki kehidupan modern saat ini, menjadi hal baru yang menyenangkan. Seluruh rentang usia, dari anak kecil hingga orang dewasa, akhirnya terlibat di dalamnya, intens menggunakan perangkat digital, hingga nyaris tak dapat lepas darinya. Hampir di semua aktivitas kehidupan menggunakan digital, baik interaksi sosial, akses informasi, pemasaran, pendidikan dan sebagainya.
Hanya saja, digitalisasi saat ini berada dalam genggaman kapitalisme, sehingga ia sarat dengan nilai-nilai Barat. Maka apapun yang tersaji, semata-mata untuk melanggengkan hal tersebut. Karenanya perlu perlindungan bagi ibu dan generasi agar tak terbawa arus, tergerus oleh ide-ide Barat, dan tetap kokoh meski menghadapi serangan di berbagai sisi.
Pasalnya sekularisme akhirnya berjaya tak hanya di ruang genggam, namun telah merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan. Dunia maya maupun nyata, telah menyebarkan ide-ide kebebasan. Alhasil seluruh manusia menyandarkan pola pikir dan pola sikapnya kepada ide tersebut. Dengan berasaskan pemisahan agama dari kehidupan (fashludin anil hayah) menjadikan perhatian manusia tertuju pada segala hal yang terukur, terindera dan kepuasan jasadiyah saja.
Sementara dalam Islam, aktivitas manusia hanya berharap rida Allah semata. Artinya manusia hanya mengerjakan segala hal yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang oleh-Nya SWT. Maka saat Islam diterapkan dalam sebuah sistem kehidupan akan menunjukkan corak yang khas dari masyarakatnya. Bahkan ia pun menampilkan ketinggian sebuah peradaban.
Sebaliknya sekularisme, membuat manusia sulit menghamba kepada Ilahi, dengan benar. Paparan budaya Barat, serta kebijakan negara yang tak sejalan dengan syariat, akan menyebabkan setiap individu muslim semakin jauh dari tuntunan. Hal ini pun akan mempengaruhi kepribadian kaum muslim.
Apalagi pada era digital memungkinkan setiap individu mudah mengakses berbagai filosofi, gaya hidup, yang datangnya dari luar Islam, bahkan mengikuti jejaknya. Tampilan gaya hidup kekinian tersaji indah di dunia maya. Banyak mata tergiur dibuatnya. Lupa bahwasanya hal itu adalah pencitraan, dirancang dengan polesan dan skenario yang menampilkan kamuflase belaka.
Sekularisme telah meracik keindahan semu, menutupi kerusakan yang ditimbulkannya. Bahkan pemahaman ini memberikan kesempatan untuk mendiskusikan atau bahkan mendebat agama. Akibatnya akal manusia semakin liar, tak tentu arah mengikuti hawa nafsunya.
Konten hiburan pun seolah menormalkan konsep kebebasan ini, menjadikan wajah sekuler semakin jelas terlihat, mempromosikan dan mengadvokasi ide-ide mereka, sampai menjangkau khalayak luas, untuk memobilisasi dukungan.
Maka perlu penjagaan bagi para ibu dan generasi agar tetap teguh memegang identitas keislamannya. Sebab pandangan sekuler semakin mudah menyebar melalui tayangan, podcast, dan kelas-kelas diskusi online, menyebabkan generasi kehilangan jati dirinya sebagai muslim dan pelopor perubahan.
Begitu pula kondisi kaum ibu, mengalami degradasi peran, yang semula sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik generasi, bergeser ke ranah ekonomi. Sekularisme telah melibas dan mengikis peran keibuan yang mulia, dan menggantinya dengan hanya memberi ruang sempit sebagai penggerak roda perekonomian.
Bahkan generasi muda dan kaum ibu hanya sebagai obyek komersial belaka. Celakanya, hal ini menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kaffah. Sementara agama pun dibatasi pada ranah privat saja. Jika hal ini dibiarkan maka para ibu dan generasi akan semakin jauh dari jati dirinya sebagai khairu ummah.
Solusi Islam
Hadirnya jamaah dakwah ideologis menjadi sebuah hal yang penting untuk mengembalikan kepribadian ibu dan generasi sebagai bagian dari umat terbaik.
QS Ali Imran: 104 menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik yakni mengembalikan kehidupan Islam.
Pun sejatinya umat sadar bahwasanya mereka adalah khairu ummah. Karenanya mereka harus bergerak sesuai label yang telah disematkan Allah SWT dalam diri mereka. Jati diri sebagai umat terbaik, hanya akan tampak apabila ia tunduk dan patuh, mengikuti seluruh tuntunan Allah, tanpa kecuali.
Maka perlu pembinaan, memperkaya diri dengan tsaqafah keislaman agar memahami seluruh kerangka berpikir Islam.
Rasulullah ﷺ pun membentuk jamaah dakwah untuk membina umat, termasuk ibu dan generasi muda, menjadi pengemban Islam kaffah. Melalui pembinaan (tastqif) Rasulullah menyiapkan mereka menjadi agen perubah, pelopor peradaban, di tahapan awal metode dakwah Rasulullah di fase Makkah. Kemudian dilanjutkan dengan interaksi dengan umat, untuk membangun kesadaran, dan membentuk pemahaman Islam hingga penerapan Islam kaffah sebagai sebuah sistem kehidupan.
Sumayyah binti Khayyat dan Fatimah binti Khattab (saudara perempuan Umar bin Khattab) adalah para perempuan yang mengikuti pembinaan di periode Mekah. Ada pula: Nusaibah binti Ka’ab dan Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy yang mengikuti Baiat Aqabah II bersama 75 orang Anshar.
Para ibu dan generasi pun mampu terlibat dalam perubahan, serta menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Maka mereka harus senantiasa berada dalam penjagaan Islam, agar dapat mempersembahkan peran terbaiknya untuk meninggikan kalimatullahu. Al Islaamu ya’lu wa laa yu’la alaihi.
Komentar