Paradoks Pejabat Muslim di Negara Muslim

Suara Netizen Indonesia–Setiap menjelang akhir tahun, negeri ini akan disibukkan dengan rangkaian acara Natal dan Tahun Baru. Meski mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam namun, perayaannya tak pernah sepi. Bahkan sudah mashyur ada satu ormas yang rajin dan setia jaga gereja di malam Perayaan Natal.

 

Belum lagi dengan pusat-pusat perbelanjaan, kantor pelayanan publik, hotel, destinasi wisata dan tempat publik lainnya yang memasang ornamen Natal, pesta kembang api, karnaval, dan lainnya, seolah ikut meramaikan acara, yang notabene bukan hari besar agama Islam, agama mayoritas di negeri ini.

 

Namun tahun ini berbeda, Kota Surabaya meniadakan pesta kembang api perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyebut sebagai gantinya, akan diadakan pengajian di Balai Kota Surabaya untuk mendoakan korban bencana di Sumatra.

Baca juga: 

TFFF, Komitmen Untuk Negeri Kian Terabaikan

Kita akan merayakan tahun baru ini lanjut Eri, dalam kegiatan yang sederhana, perbanyak doa agar Surabaya terhindar dari bencana juga menguatkan saudara-saudara kita yang ada di Sumatra. Dan mengimbau warga Surabaya untuk tidak menggelar pesta meriah untuk memberikan empati pada korban bencana (suarasurabaya.net, 12-12-2025).

 

SK akan segera dibuat setelah selesai dirapatkan bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), untuk setiap kelurahan Eri minta untuk mengadakan acara doa bersama untuk memecah kemacetan di tengah kota. Dan Forkopimda Surabaya akan menggelar patroli ke gereja dan tempat hiburan untuk pengamanan sebelum Natal berlangsung. Empati untuk korban bencana tapi tetap mengamankan gereja? Dari ancaman siapa, bukankah semua warga Surabaya doa bersama? Dan apakah tidak cukup dengan standar pengamanan biasa? Sungguh paradoks!

 

Lain lagi dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Kristen dan Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama akan menggelar Festival Kasih Nusantara Bersama Kemenag di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, untuk merayakan kebersamaan dalam perayaan Natal bagi umat Kristiani 29 Desember 2025.

 

Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung mengatakan, Festival Kasih Nusantara Bersama Kementerian Agama, ini akan menjadi momentum merajut kebersamaan aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama yang beragama Kristen Protestan dan Katolik, beserta keluarganya. Menteri Agama dijadwalkan hadir sekaligus me-launching Buku Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta. Panitia juga akan menyalurkan 1.520 paket bantuan untuk warga terdampak bencana di sejumlah titik di wilayah Aceh sebagai perwujudan solidaritas kebangsaan (republika.co.id, 12-12-2025). Perayaan Natal yang seharusnya menjadi ritual ibadah agama lain, namun Kemenag sebagai representatif kaum muslim malah merayakannya, di tempat yang sama. Sungguh paradoks!

 

Toleransi Kebablasan Jebakan Musuh Islam

Kementerian agama RI awal didirikan pada tanggal 3 Januari 1946, ditetapkan melalui Penetapan Pemerintah No 1/S.D. tanggal 3 Januari 1946, bernam bernama Departemen Agama, menjadi Kementerian Agama berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) RI No. 1 Tahun 2010. Salah satu tugasnya memang untuk membina kerukunan dan toleransi beragama, namun nyatanya semakin ke sini, semakin kebablasan bahkan paradoks.

 

Dipilihnya pimpinan Kemenag dari Islam bukan tanpa alasan. Sebagaimana seorang presiden harus beragama Islam. Sebab para pendiri Kemenag tidak menginginkan agama Islam, setelah Indonesia merdeka dijadikan sambil lalu. Inginnya, Islamlah yang memimpin dan menerapkan syariat, sayang, sebagaimana dihilangkannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal pembuatan UUD 1945, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, pada akhirnya Kemenang lebih netral dan tidak menunjukkan identitas muslimnya kecuali pengaturan ibadah haji, penentuan hari raya dan pengumpulan zakat.

Baca juga: 

Program Vocational, Harapan Sejahtera Dalam Negeri Pupus

Kini, yang terlihat Kemenag justru menjadi corong ide kufur seperti toleransi dalam makna pluralisme dan sinkritisme hingga menjadi agen kampanye sekaligus aksi moderasi beragama. Terbukti dari peluncuran Buku Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta. Yang isinya sarat aktifitas mendegradasi Islam agar nampak seolah lebih modern, humanis dan toleran. Padahal itu semua bertentangan dengan Islam agama yang dipeluk Menag sendiri.

 

Kapitalisme Sekuler Sungguh Mengerikan!

 

Standar perbuatan bagi Sistem Kapitalisme bukan halal dan haram, tapi kebebasan tanpa aturan agama atau lebih sering disebut sekulerisme. Bagi seorang muslim jelas ide ini sangat berbahaya, sebab menabrakkan makna toleransi sesuai hawa nafsu manusia. Padahal Allah SWT. Berfirman yang artinya,” Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) pada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” engkau (Nabi Muhammad) melihat orang-orang munafik benar-benar berpaling darimu”. (TQS An-Nisa:61).

Baca juga: 

Bencana Semestinya Bicara Ruhiyah dan Siyasah

Sifat munafik dilekatkan pada orang yang telah diperintahkan hanya taat kepada Allah dan Rasul ( muslim). Allah swt.pun sudah menjelaskan kepada kita bagaimana akhir dari mereka yang munafik, dalam firmanNya yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (TQS An-Nisa :145).

 

Kita butuh negara yang menerapkan syariat Islam kafah (menyeluruh). Yang menjaga akidah rakyatnya dari ide-ide berbahaya, mengguncang bahkan menggeser ke arah kekufuran. Kita juga butuh pemimpin yang meriayah ( mengurusi) rakyatnya sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,”Setiap kalian adalah pemimpin (raa’in), dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya,” (HR.Bukhari).

 

Islam tinggi dan sempurna, tak ada yang bisa menandinginya. Islam bukan sekadar agama melainkan pandangan hidup, dan kita sebagai muslim seharusnya bangga, bukan merasa insecure kemudian mati-matian mengkampanyekan Islam moderat, Islam radikal dan apa-apa yang ide dasarnya dari kafir barat.

 

Tak ada pilihan lain bagi kaum muslim, selain taat pada apa yang diturunkan Allah kepada RasululNya, sebab kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, kita harus cabut sistem sekuler dan menggantinya dengan syariat mulia. Wallahualam bissawab. [LM/ry].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *