Mendidik Anak Untuk Siapa ?

Para pengikut Confucius memiliki pepatah;

If your plan is for a year, plant rice

If your plan is for decade, plant trees

If your plan for a lifetime, educate children

 

Ya, masa depan memang akan berada dalam genggaman tangan dan kayuhan kaki anak-anak kita. Tidak merencanakan masa depan anak-anak kita, atau keliru dalam membuat perencanaan, sama dengan merencanakan kegagalan dan bencana bagi mereka.

 

Arahan Islam tentang mendidik anak jauh lebih tinggi dibandingkan  pepatah Confucius. Anak bukan saja harapan masa depan, tetapi untuk kehidupan abadi kelak, alam akhirat. Apa yang kita berikan pada anak, hasilnya bukan hanya untuk dinikmati di dunia, tapi bahkan manfaat sebenarnya kita peroleh setelah kita pergi meninggalkan dunia ini. Bukankah doa anak yang shalih adalah pahala yang terus mengalir kepada kedua orang tuanya, sekalipun keduanya telah tiada?

 

Tentu setiap orang tua menginginkan anak-anak mereka menjadi shalih dan cerdas. Namun sekadar ingin saja belum cukup, harus ada kerja keras. Tapi ternyata kerja keras saja juga tidak cukup, perlu kecerdasan. Kita harus mencerdaskan diri menjadi orang tua cerdas, sebelum melejitkan mereka menjadi generasi cerdas. Sebagaimana butuh keshalihan orang tua, sebelum membina mereka menjadi generani Rabbani. Hal ini karena iman bukanlah DNA yang bisa diwariskan.

 

Anak Adalah Amanah dari Allah

 

Anak adalah amanah  dari Allah SWT yang sudah sepatutnya dijaga dan diberi hak-haknya sesuai dengan apa yang dianjurkan dalam Islam. Dalam hal ini orang tua memiliki peranan yang strategis untuk mengasuh dan mendidik anak, sehingga terbentuk sebuah keturunan yang ideal (zurriyah thayyibah) atau anak shalih.

 

Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka  dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]:6).

 

Dalam hadis sahih yang sudah begitu populer, Rasulullah SAW menegaskan, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta benda majikannya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

 

Intinya, anak merupakan bagian dari amanah Allah, di mana kalangan orangtua tidak dibenarkan melalaikannya, apalagi lari dari memikul amanah besar tersebut.

 

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orangtua yang lari dari tanggung jawab ini. “Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

 

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah kepada diri kalian dan keluarga kalian kebaikan, serta didiklah mereka!”

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jauhilah kemaksiatan kepada-Nya subhanahu wa ta’ala, dan suruhlah keluarga kalian berzikir; niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menyelamatkan kalian dari api neraka.” Beliau juga berkata, “Didiklah keluarga kalian!” (Fathul Qadir 5/305al-Imam asy-Syaukani).

Betapa indahnya Islam manakala menjadikan pendidikan anak sebagai kegiatan bersama (amal jama’i) yang melibatkan suami dan istri. Istri selaku ibu bagi anak-anak benar-benar dihargai keberadaannya dan diposisikan sebagai patner utama sang suami selaku kepala keluarga dalam mendidik anak-anak mereka. Harapannya, keduanya saling bekerja sama dan bahu membahu secara optimal dalam memikul tanggung jawab pendidikan yang besar tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang wanita adalah pengatur bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” HR. al-Bukhari no. 6605 dan Muslim no. 3408 dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dengan lafaz Muslim)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang yang paling pantas mendapatkan baktimu dan paling berhak memperoleh kebaikanmu adalah anak-anakmu. Sungguh, mereka adalah amanat yang diletakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di sisimu. Allah subhanahu wa ta’ala pun mewasiatkan kepadamu agar mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, baik terkait dengan jasmani maupun rohani mereka. Semua yang engkau lakukan terhadap mereka dari kegiatan yang bersifat mendidik, baik yang kecil maupun yang besar, termasuk penunaian kewajiban yang diwajibkan kepadamu dan amalan termulia yang dapat mendekatkanmu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bersungguh-sungguhlah dalam hal ini dan berharaplah pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.” (Bahjatu Qulub al-Abrar wa Qurratu Uyuni al-Akhyar fi Syarhi Jawami’ al-Akhbar, hlm. 154/ pembahasan hadits ke-67).

Dari pembahasan di atas kita pahami bahwa mendidik anak merupakan bentuk tanggung jawab dan rasa syukur orang tua. Namun ternyata faktanya tidaklah sesederhana itu. Karena kita tidak hanya mengejar hasil agar anak menjadi pribadi yang shalih, rajin shalat, bersedekah dan pandai mengaji. Tapi pendidikan yang kita berikan harus mampu mengarahkan pandangan anak-anak kita pada permasalahan umat dan nasib kaum Muslimin. Pendidikan itu harus mampu membuka matanya bahwa negerinya sedang tidak baik-baik saja, terdapat imperialis asing yang sedang menancapkan kuku-kukunya.

Jadi bukan sekadar mereka cerdas akademik namun gagal mendeteksi permasalahan umat Islam. Nantinya ketika dewasa, alih-alih berjuang berjibaku mengembalikan kejayaan Islam, mereka justru bersekutu dengan para penjarah imperialis dan membenci saudara seakidahnya.

Pendidikan itu mestilah mencetak mereka menjadi pejuang kebangkitan Islam, sebagaimana Ikrimah bin Abi Jahal, Nuruddin az-Zanki dan Shalahuddin al-ayyubi. Mereka harus tampil sebagai Diponegoro Sang Penatagama masa depan, militan selayaknya Teuku Umar dan kuat memegang akidah selayaknya generasi Assabiqul awwalun.

Hari ini kita melihat keshalihan bercampur dengan kemungkaran. Ada saja Muslim yang kening mereka terlihat tanda sujud merendah di hadapan Allah, namun sombong di hadapan saudara sendiri. Ucapannya menyakiti dan tindakannya melukai. Anehnya pada kemungkaran dan kekufuran mereka diam, dan senang mempraktikkan amaliah syaitan bisu. Namun disisi lain, lidahnya aktif menyudutkan sesama Muslim hanya karena perbedaan pendapat.

Bukanlah demikian karakter yang kita inginkan akan dimiliki oleh generasi kita. Kita menginginkan keshalihan anak-anak kita penuh, tidak parsial dan setengah-setengah, Keshalihan yang tegak lurus, akarnya menghujam ke bumi dan batangnya kokoh menjulang ke langit. Disegani kaum kuffar namun memberi keteduhan pada sesama Muslim.

Kita tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak. Kelak hingga hari kiamat kita akan dikejar pertanggungjawaban dihadapan mahkamah Allah SWT. Ayah dan ibu tidak akan dapat berlepas diri dari pendidikan anak, karena di hari akhir setiap anak akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.

“ Sesungguhnya kalian dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah-ayah kalian (HR. Abu Daud).

Jadi tidaklah mereka dipanggil dengan nama guru-guru mereka, nama kepala sekolah mereka atau nama ustadz-ustadz mereka. Maka bagaimana bisa kita menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak kepada sekolah, padahal nantinya mereka berlepas tangan?

Oleh karena itu, ayah dan bunda melaksanakan tugas mendidik untuk bisa menjawab pertanggungjawaban mereka dihadapan Allah. Kita mendidik anak kita dengan mengharapkan keberkahan dari mereka, maka persiapkanlah diri menjadi pembina terbaik.

Anak-anak terbaik bukan mereka yang berjaya dengan kekuatan dunia, tapi generasi yang memimpin dengan keimanan. Merekalah generasi yang terpimpin dengan kepemimpinan berpikir dalam Islam. Generasi tangguh, yang akan sanggup melewati hadangan zaman dan mengubah ancaman menjadi kemenangan umat.

Wallahu`alam.    

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *