Berkas Epstein dan Gerbang Keruntuhan Peradaban Barat
Suara Netizen Indonesia-Departemen Kehakiman Amerika Serikat mempublikasikan jutaan halaman dokumen baru terkait kejahatan seksual Jeffrey Epstein pada 30/1/2026. Dokumen yang dirilis mencakup lebih dari 3 juta halaman, 2 ribu video dan 180 ribu gambar yang melibatkan kalangan elite politik dan bisnis global. Bukan hanya Bill Clinton, Bill Gates, Obama, Trump, Elon Musk, Mohammed Bin Salman dan para pesohor dunia yang tak bisa beristirahat dengan tenang, sejumlah pejabat di beberapa negara ramai-ramai mundur setelah namanya ikut terseret dalam berkas Epstein.
Salah satunya yang memutuskan mundur yaitu Duta Besar Norwegia untuk Yordania dan Irak, Mona Juul. Juul memainkan peran kunci dalam negoisasi rahasia Israel-Palestina yang mengarah pada Perjanjian Oslo di awal tahun 1990-an. Menurut media Norwegia, Epstein meninggalkan US$ 10 juta dalam wasiatnya kepada dua anak Juul dengan suaminya, sesama diplomat dan perantara perundingan Oslo, Terje Rod-Larsen. Lingkaran politik dan kerajaan Norwegia telah terseret ke dalam skandal Epstein, termasuk CEO Forum Ekonomi Dunia, Borge Brende dan mantan Perdana Menteri Thorbjorn Jagland. Putri Mahkota Norwegia Mette-marit juga berada di bawah pengawasan karena hubungannya dengan Epstein (detik.com, 10/2/2026).
Sementara Kepala Komunikasi PM Inggris Keir Starmer, Tim Allan, ikut mengundurkan diri usai tak berdaya menghadapi tekanan karena pemerintahannya bergulat dengan berkas Epstein. Sedangkan Kepala Staf PM Inggris, Morgan McSweeney, telah lebih dulu mengundurkan diri.
Di India, ratusan pekerja yang tergabung dalam Kongres Pemuda India (IYC) melakukan demonstrasi massa atas kemunculan Perdana Menteri Narendra Modi dalam dokumen Epstein. Media India, National Herald melaporkan IYC mendesak parlemen agar segera memeriksa dugaan adanya “koneksi India” dalam berkas tersebut.
Bukan hanya nama para pesohor, politikus dan pebisnis global, Epstein juga berhasil menyisipkan diri dalam komunitas ilmiah elite. Berkas-berkas Epstein yang baru dirilis mencakup informasi baru tentang interaksi antara Epstein dan 30 ilmuwan terkemuka seperti Stephen Hawking, korespondensi dengan fisikawan teoritis Lawrence Krauss, yang organisasi penyebaran ilmu pengetahuannya menerima US$ 250.000 dari Epstein. Selain Krauss, terdapat nama psikolog dan penulis terkenal dari Harvard, Steven Pinker, Lisa Randall, Fisikawan teoritis Universitas Harvard termasuk ahli virologi Universitas Stanford, Nathan Wolfe.
Berkas-berkas dokumen tersebut juga mengonfirmasi bahwa Universitas Harvard menerima sekitar 9,2 juta dolar AS dari Epstein antara tahun 1998 dan 2007, dengan sumbangan tunggal terbesar sejumlah 6,5 juta dolar AS pada 2003 yang mendirikan Program untuk Dinamika Evolusi (PED), yang dipimpin oleh Profesor Martin Nowak. Program ini berfokus pada pemodelan matematika proses evolusi, bidang mutakhir yang menggabungkan biologi, matematika, dan ilmu komputer (kompas.id, 10/2/2026).
Penerima lainnya termasuk Laboratorium Media Institut Teknologi Massachusetts (MIT), yang menerima 800.000 dolar AS setelah vonis Epstein, dan ilmuwan individu, seperti George Church dari Harvard, yang menerima 2 juta dolar AS melalui perkenalan Epstein. Dokumen-dokumen tersebut memerinci bagaimana Epstein mengadakan makan malam dan konferensi di pulau pribadinya, Little St James, yang dihadiri peraih Nobel dan peneliti top, menciptakan lingkungan di mana pendanaan mengalir bebas, tetapi etika dikesampingkan.
Berkas Epstein menandai skandal peradaban terbesar yang disaksikan oleh negara-negara Barat pada abad ke-21. Ini bukan sekadar skandal politik pribadi yang melibatkan presiden, pemimpin dan pejabat layaknya skandal Watergate atau Iran-Contra, namun Epstein adalah skandal publik yang merangkum kerusakan sosial, politik, moral dan etika.
Berkas Epstein mengungkap jati diri peradaban Barat yang telah dibungkus dengan label maju dan modern. Masyarakat Barat, yang selalu secara keliru mengeklaim membela hak asasi manusia, hak perempuan, dan hak anak, telah terbongkar kepalsuannya oleh skandal besar ini yang mengungkap sifat pandangan barbar, rendah diri, dan merendahkan kemanusiaan.
Para pesohor dan pemimpin global ternyata adalah para penyembah iblis. Barat memandang manusia hanya sebagai zat tak bernyawa, tanpa emosi, dan tidak bermoral, menjadikan mereka subjek eksperimen hewan untuk melayani sekelompok orang menyimpang, cabul, dan sadis. Barat memandang perempuan hanya sebagai komoditas murah yang dibeli dan dijual di pasar budak gelap dan rumah bordil yang penuh dengan kegilaan seksual. Barat memandang anak hanya sebagai seseorang yang dinikmati penyiksaannya dengan kebrutalan dan kekejaman yang luar biasa untuk mengekstrak adrenokrom darinya, yang menurut mereka memberikan energi awet muda dan ramuan kehidupan abadi pada usia tua mereka yang fana, yang membawa mereka lebih dekat kepada keabadian di bumi.
Sedangkan Amerika, dengan semua lembaga dan partainya, telah mencoba – dan masih mencoba – untuk menyembunyikan fakta-fakta yang jelas tentang kejahatan keji tersebut dan untuk membebaskan mereka yang terlibat di dalamnya dengan segala cara.
Skandal ini dan kejahatan yang diakibatkannya telah ditemukan pada tahun 2005, tetapi sejak saat itu ditutupi oleh kesepakatan hukum yang mencurigakan dengan Jeffrey Epstein hingga meledak untuk pertama kalinya pada tahun 2019, ketika Epstein ditangkap dan kemudian dibunuh di dalam penjara, untuk menyingkirkan dan menutup skandal tersebut secara permanen dengan kematiannya. Namun, skandal itu meledak lagi karena dampaknya yang beragam, sehingga pemerintah terpaksa, di bawah tekanan opini publik, untuk menerbitkan sebagian dari enam juta dokumennya, untuk dirilis namun kemudian ditahan dari publikasi dengan dalih keamanan yang lemah demi alasan untuk menutupi para pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Terlepas dari besarnya skandal ini, tidak ada terdakwa, karena mereka yang terlibat masih memiliki kekuasaan luas yang memungkinkan mereka untuk mengabaikan hukum, mencegah publikasi dokumen yang memberatkan mereka, dan menerbitkan sejumlah besar dokumen untuk mengalihkan perhatian orang dan mencegah mereka mencapai fakta. Ini sebenarnya adalah skandal kedua yang menegaskan korupsi pengadilan, lembaga peradilan, media, dan pemerintah di Amerika, dan mengungkap kebohongan dari apa yang disebut independensi peradilan dan pemisahan kekuasaan.
Trump mengancam para politisi, pengadilan, dan media dengan mengungkap skandal lama dan membongkar pahlawan mereka jika ia terbukti bersalah karena berkas Epstein. Ia mengatakan siap mengungkap rahasia pembunuhan Kennedy dan Martin Luther King Jr. serta peristiwa 11 September jika ia menghadapi persidangan, yang berarti ia berkata, “Ini aku dan musuh-musuhku,” sehingga mereka takut dan bersekongkol dengannya.
Dengan demikian, tampaknya meskipun jutaan dokumen telah dipublikasikan, hal ini tidak akan berujung pada penangkapan pihak-pihak yang terlibat karena mereka adalah penguasa de facto dan tokoh-tokoh berpengaruh di negara tersebut.
Hal yang menyakitkan dalam skandal ini adalah apa yang berkaitan dengan orang Arab dan Muslim, terutama yang berkaitan dengan hadiah dari pengusaha wanita Saudi yang tinggal di Uni Emirat Arab, Aziza Al-Ahmadi, berupa tiga potong kain penutup Ka’bah kepada Jeffrey Epstein, yang dikirim dari Arab Saudi menggunakan pesawat Inggris ke rumah Epstein di Florida.
Perbuatan yang dilakukan wanita ini buruk, memalukan, dan tercela, tetapi Arab Saudi dan UEA sama sekali tidak menindaklanjutinya, tidak pula berkomentar, apalagi melakukan penyelidikan yang diperlukan. Mereka memperlakukannya seolah-olah itu adalah sesuatu yang normal dan diperbolehkan, padahal itu adalah perbuatan buruk yang membuat marah jutaan umat Muslim yang mengetahuinya. Tetapi negara-negara ini pada kenyataannya hanyalah negara-negara yang merupakan musuh Islam dan umat Muslim, sehingga mereka tidak peduli dengan perasaan umat Muslim atau tempat-tempat suci mereka.
Dunia Arab juga tidak berkomentar terhadap bukti korespondensi Epstein yang sangat intens dengan sosok kunci di Dubai, Sultan Ahmed bin Sulayem yang berlangsung lebih dari satu dekade sejak 2007 hingga 2019. Salah satu email mengungkap pengiriman video penyiksaan. Hingga kini, Sultan Ahmed bin Sulayem tidak dituduh melakukan pelanggaran pidana apa pun. Bahkan, tidak ada kejelasan mengenai isi sebenarnya dari “video penyiksaan” yang dimaksud.
Di Dubai, Sultan Ahmed bin Sulayem dikenal sebagai arsitek kebangkitan ekonomi emirat tersebut. Ia berperan besar dalam pengembangan Pelabuhan Jebel Ali dan ekspansi DP World menjadi raksasa logistik global yang menangani sekitar sepersepuluh perdagangan kontainer dunia. Ia juga pernah memimpin Nakheel Properties, pengembang proyek pulau buatan ikonik Dubai, sebelum mundur di tengah restrukturisasi Dubai World pasca krisis keuangan global 2008. Posisinya menjadikan Sultan Ahmed bin Sulayem figur penting dalam diplomasi ekonomi UEA, dengan kehadiran rutin di forum internasional seperti World Economic Forum di Davos (cnbcindonesia.com, 12/2/2026).
Selain itu, penyelidikan apapun juga tidak dilakukan terhadap Diplomat PBB dari UEA Hind Al-Owais setelah ratusan emailnya dengan Epstein diungkap. Hind adalah seorang feminis dan aktivis yang sekaligus memperkenalkan saudara perempuannya dan menyiapkan gadis-gadis belia untuk Epstein.
Berkas Epstein dan Pulau Setan hanyalah puncak gunung es dari korupsi liberal yang mengikis tatanan moral masyarakat Barat. Skandal yang melingkupi Jeffrey Epstein dan jaringan luasnya yang tertanam di bidang keuangan, politik, dan media bukanlah suatu penyimpangan atau anomali moral. Sebaliknya, semua itu mengungkap disfungsi mendalam yang menyerang fondasi pemikiran dan budaya yang mengatur masyarakat Barat. Angka resmi yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah AS mengkonfirmasi bahwa apa yang telah terungkap bukanlah masalah penyimpangan individu yang terisolasi, melainkan ekspresi dari sistem yang sangat sakit menuju keruntuhannya.[]
Komentar