Mens Rea: Matinya Fitrah Berpikir Ala Kapitalisme

Suara Netizen Indonesia–Sungguh menarik acara yang ditayangkan di platform digital Netflix yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Acara yang menampillan seorang komika ternama berjudul Mens Rea. Acara stand up komedi ini berbentuk satire bagi kita yang menontonnya selama 2 jam penuh.

Materi berisikan tentang kisah-kisah ringan kehidupan hingga seputar politik di negeri ini. Uniknya, hal itu dikemas dalam bentuk satire yang berjalan sesuai fakta. Dan bagi siapa pun yang mendengarnya, bisa paham apa yang hendak disampaikan oleh komika tersebut.

Pasca meledaknya acara tersebut, ternyata membuat beberapa pihak bereaksi negatif. Komika yang bernama Pandji Pragiwaksono itu telah dilaporkan ke pihak berwajib oleh Aliansi Muda Muhammadiyah dan Angkatan Muda Nahdhatul Ulama, yang menyatakan bahwa komika tersebut telah melakukan penghasutan di muka umum dan penistaan agama (tempo.co, 9-1-2026). 

Luar biasa aneh reaksi generasi muda yang mengatas namakan perwakilan dari dua organisasi agama terbesar di negeri ini. Menganggap serius hal-hal yang bercandaan, menganggap candaan hal-hal yang harusnya perkara serius. Contohnya saja reaksi terhadap lambatnya penanganan banjir dan longsor oleh pemerintah, tidak ada sama sekali untuk mendesak negara terjun secara serius dalam merecovery korban bencana. 

Padahal secara fitrah, seharusnya manusia punya hati dan perasaan yang benar dalam menanggapi suatu perkara. Akal diberikan untuk menilai, mana tindakan yang benar mana yang salah. Akan tetapi, perlahan fitrah itu  hilang pada diri manusia, disebabkan manusia hidup di dalam sistem aturan kapitalisme sekuler,  fitrah manusia bisa terbolak balik, yang benar jadi salah, yang salah menjadi benar.

Untuk menjadi seseorang yang ingin menyampaikan suara kebenaran pun akan sulit dan terbatas di dalam sistem ini. Karena dengan berbagai cara para penganut Sistem Kapitalisme sekuler ini mencegah rakyatnya untuk melalukan amar ma’ruf nahi mungkar. Mengubur dan menutup jalan rakyat untuk menyampaikan kebenaran dan kritikan terhadap kebijakan yang zalim. Dengan dalih hukum, para penganut sistem ini membuat hukum dan undang-undang yang membatasi rakyat bersuara dan bertindak yang benar.

Inilah bukti nyata bahwa hidup di bawah Sistem Kapitalisme sekuler, masyarakat tidak diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan keyakinan dan kebenaran yang ada. Sekelas komika saja mereka sudah bereaksi berlebihan, apalagi kepada para pengemban dakwah yang aktifitasnya senantiasa menyampaikan kebenaran yang berasal dari Allah SWT., tentu akan terus ada makar yang dibuat agar aktivis dakwah tidak  mudah berdakwah di tengah-tengah masyarakat.

Belum lagi saat kita melihat isi draft KUHAP yang baru dengan beraneka ragam pasalnya, tak ada satu pun pasal yang berpihak pada rakyat, semua pasal dibuat agar negara bisa mengendalikan semua aktifitas rakyatnya.

Hal ini menunjukkan bahwa negara saat ini telah berada ditahap kediktatoran. Jika hukum dibuat untuk membungkam rakyat, apalagi namanya jika bukan tindakan kediktatoran? Namun, di sisi lain menunjukkan bahwa umat sudah mulai bangun dari tidur panjangnya, khususnya kaum muslimin. Umat Islam dari berbagai kalangan sudah mulai mengambil bagian dalam menyebarkan kebenaran. Para aktifis, influencer, tiktoker, selebgram, artis hingga komika ikut andil menyuarakan kezaliman nyata penguasa.

Hal ini tentu saja berkorelasi dengan hadis Rasulullah SAW., riwayat Imam Ahmad, yang mengatakan bahwa ada 5 fase kehidupan yang akan dihadapi manusia didalam hal kepemimpinan, yaitu fase kenabian, fase kekhilafahan khulafaur rasyidin, fase menggigit, fase kediktatoran dan yang terakhir fase khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. 

Umat Islam saat ini sudah memasuki fase penguasa menggigit dan diktator, dimana keadaan umat akan terasa tergigit oleh taring para penguasa yang memaksa. Umat akan dipaksa untuk tunduk terhadapa kebijakan-kebijakan zalim dan merugikan. Namun inilah titik balik kebangkitan umat. Umat Islam sudah banyak yang menyadari bahwa akar permasalahan di negeri ini adalah penerapan Sistem Kapitalisme sekuler.

Umat yang berpikir cemerlang, akan mampu memberikan solusi tuntas atas semua permasalahan. Yaitu dengan mengganti Sistem Kapitalisme sekuler dengan Sistem Islam kafah. Berisi seperangkat aturan lengkap yang menjadi solusi dalam setiap persoalan manusia.

Islam bukan hanya sekedar mengatur ibadah pribadi, namun lebih berisi syariat yang harus diemban setiap individu muslim di dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Sehingga setiap manusia akan merasakan keberkahan hakiki.  Wallahu’alam bishshowwab. [SNI].

 

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *