Hari Toleransi Internasional, Keberagaman Modal Pembangunan

Suara Netizen Indonesia–16 November 1995, dalam peringatan HUT PBB ke-50, UNESCO mendeklarasikan prinsip-prinsip toleransi dan seluruh negara anggota wajib mengadopsinya dalam kehidupan berbangsa-bernegara. Sejak saat itu, PBB menetapkannya sebagai Hari Toleransi Internasional (International Day of Tolerance). 

 

Indonesia pun berkemas, dalam konferensi pers pada 5 November 2025, Dirjen Bimas Islam Prof. Abu Rokhmad dan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan SDM, Ismail Cawidu, menyatakan Kemenag telah menyiapkan rangkaian 18 agenda nasional yang berlangsung sepanjang November 2025, bertajuk “The Wonder of Harmony 2025” ( kemenag.go.id, 5-11-2025). 

 

The Wonder of Harmony 2025 akan diisi berbagai kegiatan seperti Expo Syiar Budaya Islam, Harmony Fun Walk, Interfaith Harmony Camp, Workshop Ekoteologi, dan Festival Majelis Taklim. Hal ini disiapkan guna menjangkau seluruh elemen masyarakat Indonesia dari berbagai macam agama.

Baca juga: 

Abraham Accords, Simpul Penjajah Cerai Beraikan Muslimin

 

Kemenag ingin menghidupkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dengan cara yang menyenangkan dan menginspirasi. Seni, olahraga, diskusi, dan kegiatan sosial semua menjadi media dakwah harmoni. Menurut Ismail, rangkaian kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari komitmen Kemenag untuk terus menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dan harmoni sosial sebagai pondasi kebangsaan.

 

Toleransi itu bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup sehari-hari. Karena itu, setiap agenda dirancang agar publik bisa merasakan langsung pengalaman kebersamaan lintas iman. Selama 3 tahun terakhir, indeks kerukunan umat beragama (IKUB) Kemenag RI secara konsisten meningkat (2022: 73,09; 2023: 76,02; 2024: 76,47).

 

Angka ini harus terus dipertahankan, sebab kerukunan sebagai modal sosial-kultural yang sangat penting bagi bangsa. Jika kondisi masyarakat damai dan tentram, maka segala aktifitas pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Jika yang terjadi sebaliknya, maka energi anak bangsa terkuras tidak produktif hanya untuk menyelesaikan dari satu konflik ke konflik lainnya.

 

Makna Toleransi yang Kebablasan

 

Faktanya, hari ini ada pergeseran definisi toleransi itu sendiri. Dan parahnya, kata toleransi ditekankan hanya pada Islam dan kaum muslim untuk melakukan, bahkan dari tahun ke tahun seolah kaum muslim semakin bodoh sehingga harus terus diingatkan makna toleransi.

 

Yang terjadi selanjutnya, toleransi yang hari ini digaungkan secara masif nyatanya sampai kebablasan yaitu ikut mencampuri urusan agama orang lain, beribadah seperti agama lain, beribadah di rumah ibadah agama lain yang sebenarnya Islam tidak mengajarkan seperti itu. Berkunjung dan menjalin hubungan mesra dengan pelaku genosida, bekerjasama dengan penjajah dan penyerang kaum muslim. Bersikap lemah lembut terhadap kafir dan zalim kepada saudara seakidah. Padahal Rasul saw. Melarang tindakan demikian, “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka “. (HR Abu Dawud dan Ahmad).

 

Islam jelas memiliki ajaran toleransi, namun bukan yang sbagaimana dipahami para pejabat muslim hari ini, jelas, toleransi dalam Islam menghormati agama lain, tapi bukan ikut apa kata agama lain tersebut. Kaum muslim dilarang ikut menyemarakkan, meramaikan atau membantu mempublikasikan hari raya agama lain. Sebagaimana Allah SWT berfirman, yang artinya,” Sungguh orang-orang yang menyukai perkara keji (maksiat) itu tersebar di tengah-tengah orang Mukmin, mereka berhak mendapatkan azab yang pedih di dunia dan akhirat “. (TQS an-Nur : 19).

Baca juga: 

Ancaman Generasi Masa Depan Bangsa, Sekulerisme!

 

Jika kita kilas balik pada sejarah saat Andalusia jatuh ke tangan Ferdinand dan Ratu Isabella, kaum Yahudi Ortodoks pada saat itu juga terusir dari Andalusia. Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II, Khalifah Turki Ustmani, justru memberikan sebuah perlindungan (suka) kepada mereka dengan memberikan lokasi di salah satu tempat di distrik Fatih, Istanbul Turki. Dan hingga hari masih sebagai pemukiman Yahudi Ortodoks secara turun temurun. Di Andalusia ketika terjadi penaklukan oleh Ferdinand itu orang-orang lain terusir. Ketika orang-orang Yahudi ini terusir maka mereka mencari suaka.

 

Dan makna kerukunan sebagai modal kultur-sosial membangun bangsa, tak sepenuhnya benar, sebab, akar mendasar terus menerus terjadinya konflik di masyarakat, lebih kepada kebijakan negara yang tidak pro rakyat. Bahkan dengan kekuasaan yang ada negara justru menguasai harta kepemilikan umum ( tambang, minyak bumi, energi, kekayaan hutan, laut dan lainnya) untuk diobral kepada investor asing. Tentulah, jika apa yang menjadi kebutuhan pokok terhalang, sementara negara hanya pandai janji kosong dan mengesahkan kebijakan populis jelas bencana dan penderitaan akan terus berlanjut. 

 

Kemiskinan, kebodohan, penjarahan kekayaan alam hingga berakibat kerusakan ekosistem, stunting, tingginya angka kriminal, jelas bukan disebabkan Islam dan toleransi dalam makna Islam, melainkan sekulerisme, ide memisahkan agama dari kehidupan, nota bene ini adalah ide kafir barat, dan kaum muslim mengambilnya dengan hujah moderasi beragama. Jelas, toleransi yang mereka arusutamakan adalah mengikuti pola pikir kafir barat pula. 

 

Toleransi Ajaran Islam

 

Dalam Islam, toleransi bermakna membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi juga bermakna tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam. Namun demikian, Islam membolehkan kaum muslim untuk berjual-beli, bertransaksi dan bermuamalah dengan non-Muslim.

 

Islam juga memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap kaum kafir, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, ‘ Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (TQS al-Mumtahanah: 8).

Baca juga: 

Menelisik Optimisme Indonesia Negara Maju 2045

 

Maka, peringatan Hari Toleransi Internasional ini jelas hanya sekadar seremonial semata. Lucunya, standar toleransi justru ke kafir, tahu apa kafir barat dalam hal ini PBB tentang toleransi? Badan ini bak macan ompong ketika hak-hak manusia untuk hidup dan beribadah sesuai dengan keyakinannya direbut, tanahnya dihancurkan, manusianya dibinasakan. Negara-negara barat yang tergabung dalam PBB ataupun lembaga lnternasional lainnya begitu bereaksi ketika non muslim yang jadi korban, meski pelaku non muslim tetap saja kajian mendalam sekaligus monterisasinya kepada Islam..

 

Barat, terutama AS begitu phobia terhadap Islam, sehingga ketika Islam hanya diterapkan sebagai tuntunan ibadah mahdoh tidak ada reaksi apapun, namun jika Islam diemban secara pemikiran politik, akan sangat reaktif, sebab mereka paham, jika kaum muslim memiliki kesadaran politik, mereka akan bangkit dan berbalik menindas penjajahan. Kafir barat itu tahu, bahwa kesatuan kaum muslim berikut menancapnya kesadaran politik dalam benak mereka adalah senjata ampuh melenyapkan hegemoni mereka selama ini, maka, sebisa mungkin dihambat pergerakannya. Jika tidak bisa menghabisi Islam politik, setidaknya masih bisa meracuni pemikiran generasi muslim hari ini untuk meredam munculnya kemenangan kaum muslim dengan tegaknya Daulah Khilafah.

 

Kita harus tetap waspada dengan propaganda asing yang seolah baik tapi jelas menuju pada kekufuran. Maka, kita wajib mengentalkan keislaman kita, makin kafah menjalankan syariah dan makin bersungguh-sungguh memperjuangkan penerapan syariah secara menyeluruh di kehidupan hari ini. Itulah yang akan memberikan kebaikan, keadilan, toleransi, ketenteraman dan kehidupan yang baik bagi semua manusia, muslim dan non muslim. Wallahualam bissawab. [SNI].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *