Bias Gender Kambing Hitam Pergaulan Liberal
Suara Netizen Indonesia–Dengan tertangkapnya Taufik Hidayat, pelaku penyekapan seorang perempuan di Jawa Barat selama tiga tahun, kelegaan netizen membanjiri laman media sosial. Di sisi lain, banyak yang mempertanyakan mengapa bisa setega itu dan mengapa perempuan itu tidak melarikan diri? Tak sedikit juga yang mengatakan si perempuan salah pilih pasangan. Menanggapi hal itu Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan meminta publik tidak menyalahkan YTR (29) sang korban.
Menurut Veronica, korban kekerasan (perempuan) dalam hubungan pacaran kerap menjadi sasaran stigma akibat bias gender yang masih kuat di masyarakat. Sebaliknya, masyarakat seharusnya lebih fokus pada pelaku (kompas.com, 24-6-2026).
Veronica mengatakan kekerasan dalam pacaran masih sering dianggap sebagai persoalan pribadi, enggan melapor atau mencari bantuan sehingga luput dari perhatian. Padahal, bentuk kekerasannya bisa berkembang secara bertahap, mulai dari kontrol berlebihan, manipulasi, dan isolasi, hingga kekerasan fisik, psikis, maupun seksual. Relasi kuasa yang tidak seimbang serta minimnya dukungan membuat korban sulit keluar dari situasi kekerasan, dan semua tindakan tersebut dapat masuk dalam ranah hukum dan harus dipertanggungjawabkan.
Sekulerisme Akut Akar Masalah Sesungguhnya
Memang kepada korban kita tak cukup memperlihatkan simpati,tapi juga bantuan material dan spiritual. Bagaimanapun menyiksa manusia apapun jenisnya adalah pelanggaran berat. Namun sangat sedikit yang mempertanyakan bagaimana hukumnya pacaran, faktanya, aktifitas pacaran seringkali menjadi pangkal persoalan munculnya kekerasan kepada pasangan. Apalagi ini adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, tentu ayat yang melarang zina bahkan mendekatinya tidak asing.
Bisa jadi karena Islam hanya jadi pengisi kolom identas agama di kartu tanda penduduk atau identitas pribadi lainnya dan bukan sebagai aturan. Ditambah dengan pernyataan pejabat semacam Wamen PPPA Veronica Tan yang mengambang. Menilai hanya dari sisi genre, dan bukan dari sebab mendasar mengapa dalam sebuah hubungan bisa terjadi tindakan sadis seperti itu.
Tak bisa dihindari, inilah dampak sekulerisme, pemisahan agama dari kehidupan, sehingga manusia paling rentan, perempuan dan anak paling sering menerima perlakuan kekerasan baik secara verbal, fisik atau seksual hanya karena masalah sepele.
“Jangan salahkan korban” karena itu bias gender. Padahal jika mau ditelaah lebih mendalam, terjadinya penyekapan hingga penyiksaan diawali oleh kesediaan pihak perempuan menerima hubungan terlarang. Apalagi jika melihat foto korban yang mengenakan kerudung, menunjukkan identitasnya sebagai muslimah, tentunya paham bahwa pacaran haram apapun alasannya.
Seringkali pula tindak kekerasan didapat dari tayangan di media sosial baik berupa konten maupun kisah nyata. Mirisnya semua itu menjadi komoditas, ditayangkan tanpa filter berarti untuk meraih keuntungan materi. Upaya pemerintah dengan mengesahkan UU pembatasan media sosial tak cukup signifikan. Lagi-lagi karena keterbatasan teknologi, ahli dan biaya. Sementara tindak kekerasan tak bisa dibendung lagi, terus bermunculan dengan korban, pelaku dan pemicu berbeda.
Kapitalisme Akar Masalah
Pentingnya dukungan sistem yang sahih sudah tidak bisa lagi ditoleransi, kapitalisme yang hari ini diterapkan asasnya sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga keimanan yang ada dalam diri seseorang tidak bisa mengendalikan tindakannya karena tidak merasa diawasi. Kapitalisme secara tidak langsung menciptakan kondisi di rimba raya, yang ada hanya mengejar materi dan materi. Sebab makna sukses adalah mereka yang bisa memenuhi kebutuhan jasadiyahnya semaksimal mungkin. Polesan media sosial semakin mengerucutkan jika bahagia itu didapat dari penghargaan manusia, bukan rida Allah SWT.
Saat harga-harga kebutuhan pokok melambung, kesempatan kerja menyempit, negara hadir malah menambah beban dengan berbagai proyek strategisnya, belum terkait adanya pungutan pajak, asuransi dan lainnya. Faktor-faktor produksi dikuasai oleh korporasi menjadikan mereka yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin ekstrem. Keadaan ini berkumpul dalam satu waktu menjadikan pemikiran yang tak berujung, muncullah perilaku mempertahankan diri, egois hingga menyakiti.
Media sosial tak kalah garang mencengkeram pemikiran manusia, tanpa filter yang berarti, terutama dari negara yang memiliki kewenangan mengaturnya, perilaku sadis bahkan zina menjadi punya ruang untuk dicontoh dan ditiru. Sistem kapitalisme juga tak benar-benar mampu memberikan rasa aman kepada wanita atau anak perempuan. Bahkan perempuan dianggap bernilai tinggi jika bisa menghasilkan materi.
Sementara hukuman bagi mereka yang berbuat kriminal sangatlah tidak adil, ujung-ujungnya penjara yang samasekali tidak menjerakan. Muncul sikap peremehan, sehingga kejahatan semakin hari bukannya semakin berkurang malah semakin bertambah. Rasa aman, dalam sistem kapitalisme ini menjadi sesuatu yang mahal dan langka. Mirisnya, aparat keamanan justru represif kepada rakyat, bukan dalam rangka menghilangkan kejahatan namun menjadi penjaga proyek strategis nasional. Akhirnya banyak ruang hidup rakyat yang terampas, hilang atau rusak. Bagaimana ini tidak membawa dampak yang buruk kepada mental manusianya?
Islam Solusi Hakiki
Jika ada celaan bagi korban, tentu bukan pada dampak psikis dan pisik yang ia terima, tapi lebih kepada perilakunya yang sejak awal membolehkan melakukan keharaman, yaitu pacaran. Negara semestinya hadir tak hanya menyembuhkan luka pisiknya, memotivasi luka batinnya tapi juga menjamin keadaan lebih baik dengan penerapan syariat kâfah.
Allah SWT. berfirman yang artinya, “Dalam kisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal agar kamu bertakwa”. (TQS Al-Baqarah:179). Ayat inilah yang menjadikan hukum Islam lebih adil, karena dengan diperlakukan sama, mata ganti mata, gigi ganti gigi dan seterusnya setiap orang akan berpikir seribu kali jika ia merencanakan niat buruk hingga ingin membunuh misalnya tanpa alasan yang dibenarkan syariat.
Kedudukan perintah Qisas sama dengan perintah berpuasa, kita tidak bisa melaksanakan satu perintah tapi meninggalkan perintah yang lain hanya karena tidak bisa melaksanakan. Maka, penting menjadi perjuangan kaum muslim hari ini untuk menegakkan Khilafah, satu-satunya institusi yang bisa menerapkan seluruh hukum Allah, tanpa terhalangi dengan HAM atau hukum buatan manusia lainnya. Wallahualam bissawab. [SNI].
Komentar