Tanpa Perisai, Umat Terburai
SuaraNetizenIndonesia_ Kaum muslim menyambut Idulfitri dengan suka cita. Di berbagai belahan dunia, suasana kemeriahan lebaran nampak terasa. Bertemu sanak keluarga dan kerabat, silaturahim menyambungkan yang terputus karena jarak dan waktu, adalah hal yang luar biasa berharga. Begitu pula halnya dengan Muslim Gaza, pun bersuka cita merayakan Hari Raya, di tengah keterbatasan mereka.
Sementara itu Zionis tak henti-hentinya melakukan penyerangan, melukai dan menewaskan ratusan orang. Rumah-rumah pun hancur, tinggal puing berserakan yang tak mampu melindungi tubuh dari terpaan panas dan hujan. Krisis kemanusiaan terus terjadi di tengah perayaan Hari Raya. Meski dunia menutup sebelah mata, pemberitaan meredup, namun Muslim Gaza terus mempertahankan kemuliaan Islam.
Akses ke Masjid Al-Aqsa pun ditutup pada akhir Ramadan, saat umat berada di waktu istimewa berburu lailatul qadr. Warga Muslim tak lagi dapat memasuki Baitul Maqdis. Penutupan Masjid Al-Aqsa ini dilaporkan sebagai kali pertama sejak tahun 1967. Kaum Muslim dilarang salat di area masjid. Langkah ini diambil oleh otoritas keamanan Israel dengan alasan keamanan, terutama setelah meningkatnya ketegangan dan konflik di wilayah tersebut.
Itulah yang akan terjadi saat umat berada di bawah kendali kepemimpinan kufur. Perayaan Idulfitri di Masjid Al-Aqsa pun berlangsung dengan pembatasan ketat. Sejumlah warga Palestina yang mencoba mendekati kompleks masjid dilaporkan dibubarkan oleh aparat keamanan Israel menggunakan gas air mata. Akibatnya, banyak jemaah tidak dapat masuk dan beribadah di area sekitar masjid.
Penindasan kaum Muslimin akan terus merajalela selama tidak ada Khilafah. Tanpa perisai pelindung umat (junnah), maka kondisi umat senantiasa dalam petaka. Tanpa kemuliaan, terus menerus tertindas dan terhina. Maka seluruh kaum Muslim harus jeli terhadap agenda negara-negara kufur. Sebab mereka selamanya tak akan mendatangkan kemaslahatan umat. Bahkan berupaya menghalangi umat mencapai kemuliaannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)
Termasuk pembentukan Board of Peace (BoP) yang diinisiasi AS, jika didetili lebih dalam maka akan tampak bahwasanya Barat menggunakan berbagai cara menancapkan hegemoninya di negeri kaum Muslim. Dengan dalih perdamaian, sejatinya mereka ingin merampas dan menguasai tanah Palestina. Sebagaimana keberadaan Zionis Yahudi di tanah Palestina, adalah entitas kolonial yang sengaja ditancapkan di jantung dunia Islam.
Sistem kapitalis-sekuler tidak mengenal kebenaran hakiki (haq), melainkan hanya mengenal terpenuhinya kepentingan materi bagi negara-negara adidaya. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha memperoleh keinginannya, termasuk penjajahan dan menggunakan kekuatan militer.
Maka tak mungkin berharap pada lembaga dunia (PBB) atau negeri Arab lainnya, sebab mereka pun mengemban kepemimpinan ala kapitalis sekuler. Satu-satunya negara yang mampu membebaskan Palestina dan negeri-negeri lainnya dari penjajahan dan penindasan hanyalah Khilafah Islamiyyah, yakni negara yang tegak di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Khilafah akan menolak segala perjanjian yang menguntungkan penjajahan, menegakkan jihad fii sabilillah, mengusir kekuatan zalim yang terus menindas umat, dan membebaskan kaum Muslim dari segala pengaruh penjajah asing. Karenanya kaum Muslim harus bersatu padu menegakkan institusi ini, mengembalikan kembali Kekhilafahan yang telah diwajibkan syariat, hingga melepaskan sekat-sekat negara bangsa yang selama ini melemahkan mereka.
Palestina tidak sendiri. Begitu pun Muslim Uyghur, Rohingya dan lainnya, adalah satu tubuh yang membutuhkan perlindungan dan pengaturan dalam kehidupan mereka. Khilafah adalah kepemimpinan Islam yang akan menyatukan kaum Muslim, melindungi yang tertindas, menjamin hak mereka, hingga menjadi kekuatan adidaya yang mampu menandingi kepemimpinan kufur. Tsumma takuunu khilaafatan a’la minhajin nubuwwah.
Komentar