Ibu: Peran Strategis Membentuk Kepemimpinan

 

SuaraNetizenIndonesia_ Dunia kembali terpaku melihat kita, saat duka melanda Sumatera. Termasuk awak media negara tetangga. Mereka pun mengkritisi para penguasa yang tak cepat tanggap mengatasi bencana. Sementara kebutuhan jasmani (hajatul udhowiyah) tak bisa ditunda. Jika kelaparan dan kehausan, serta kedinginan tanpa pakaian layak dan tempat tinggal, dibiarkan berlarut-larut, maka rakyat tentu akan mati.

 

Hari ini semakin kasat mata kita menyaksikan model kepemimpinan bentukan kapitalisme. Saat bencana melanda, satu persatu pemimpin menampakkan jati dirinya. Ada yang lari saat musibah, membiarkan rakyatnya berjuang sendiri. Ada pula yang memanfaatkan situasi dengan menjadikan musibah sebagai panggung pencitraan, melalui stiker atau seolah sibuk di depan kamera. Sebagian besar menepi, tak mengulurkan tangan. Padahal negara memiliki banyak sarana dan kekuatan untuk memperbaiki kerusakan. Pemimpin semacam ini, tak layak dijadikan sandaran.

 

Tentu bukan kepemimpinan model ini yang akan membawa umat kepada kebangkitan. Sekularisme dan kapitalisme tak mampu menemukan karakter baik dalam diri individu. Bahkan sifat baik tersebut akan tergerus, hilang, tak mampu lagi bertahan. Terbawa arus materialistik, menjadikan kebahagiaan melalui materi, sebagai ujung pencapaian. Maka wajar jika mereka tak memiliki kemampuan mengakomodir urusan rakyat. Bahkan gagap, tak berkutik menghadapi bencana.

 

Hal ini menjadi penyemangat bagi para ibu, agar tak berhenti berusaha. Namun sebaliknya tetap berusaha mempersiapkan kepemimpinan di dalam rumah-rumah keluarga muslim. Setiap keluarga muslim, sejatinya mampu melahirkan pemimpin sekelas negarawan. Melalui tarbiyah dalam keluarga, penjagaan masyarakat dan negara, maka akan hadir para pemimpin andalan yang siap mengatasi permasalahan umat.

 

Para Ibu Membentuk Kepemimpinan

Ada banyak figur ibu hebat dalam sejarah Islam yang secara langsung membentuk kepemimpinan, keberanian, kecerdasan, dan ketakwaan pada diri anak-anak mereka. Kontribusi para ibu, tampak nyata mewarnai peradaban. Pendidikan akidah ditanamkan sejak dini. Begitu pun pengajaran akhlak yang baik melalui keteladanan nyata. Para ibu dan ayah manjadi contoh ketaatan kepada Allah, kesabaran dan kedisiplinan, serta menanamkan visi besar umat. Sebab sejatinya mereka tidak hanya membesarkan anak, tetapi membentuk pemimpin peradaban.

 

Dalam Islam, peran ibu adalah sebagai ummu wa rabbatul baiyt, yakni sebagai ibu dan pengurus rumah. Ibu pun berperan sebagai ummu ajyal, atau ibu generasi. Karenanya para ibu harus membekali dirinya, agar mampu mencetak generasi yang taat dan siap memimpin kebangkitan umat.

 

Ada banyak ibu luar biasa yang telah berkontribusi dalam Islam, di antaranya adalah ibu Sultan Muhammad Al-Fatih: Hüma Hatun, dikenal sebagai perempuan salihah, zuhud, dan sangat peduli pada pendidikan anak. Ia telah menanamkan kepada Al-Fatih kecil, visi besar bahwa seorang muslim harus memiliki tujuan dakwah dan kejayaan Islam. Sang ibu sering mengajak puteranya membaca kisah para nabi, dan sejarah futuhat. Ia menanamkan nilai keteguhan, keberanian, ibadah malam, dan kedisiplinan. Banyak sumber sejarah mencatat bahwa Muhammad Al-Fatih dibiasakan qiyamul lail sejak usia muda. Ibunya juga mengajarkan adab dan akhlak kepemimpinan, memberi visi kepada puteranya bahwa penaklukan Konstantinopel adalah janji Rasulullah. Karenanya sang anak tumbuh dengan visi tersebut.
Konstantinopel akan ditaklukkan, dan pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin.”

 

Ada pula Al-Khairiyah Fatimah binti Abdul Malik, yang mendidik Umar bin Abdul Aziz kecil dengan ilmu, ketakwaan, dan anti kemewahan. Ia memilih guru terbaik (Saalih bin Kaysan) yang sangat ketat mengajarkan disiplin. Ia menghindarkan Umar dari gaya hidup istana yang berlebihan, menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan cinta keadilan. Inilah yang membuat Umar tumbuh sebagai pemimpin sangat adil dan zuhud.

Umar bin Abdul Aziz kemudian menjadi khalifah yang sangat adil, sering disamakan dengan Umar bin Khattab. Di masa kepemimpinannya yang singkat, kurang dari 3 tahun, Umar telah menghapus kemiskinan, hingga tak dijumpai mustahik zakat di negerinya.

 

Ada pula seorang ibu yang sangat cerdas, kuat, punya pengaruh politik luas, dermawan dan dekat dengan para ulama yaitu Al-Khizran binti ‘Atā’ (Al-Khayzurān), ibunda Harun Al-Rasyid. Ia membentuk karakter kuat dalam diri anaknya. Ia mendatangkan pengajar sastra, fikih, militer, dan strategi pemerintahan, bahkan mengajarkan adab, bagi puteranya. Harun Al-Rasyid tumbuh menghormati ilmu dan orang salih. Ia dikenal sebagai khalifah yang menangis saat mendengarkan nasihat ulama.

 

Sejak kecil, Harun hadir dalam majelis ayahnya, mengamati cara memimpin dan bertanggung jawab serta kedisiplinan ibadah, sehingga Harun tumbuh sebagai pemimpin yang taat, terbiasa salat malam, hafal hadits, dan sangat takut kepada Allah.
Ibunya mengajari keberanian dan ketegasan, sehingga kelak Harun Al-Rasyid menjadi simbol kejayaan Abbasiyah. Di masa kepemimpinannya, Daulah Abbasiyah mencapai puncak kejayaan (Golden Age), baik ekonomi, ilmu, maupun stabilitas politik.

 

Istri Harun Al-Rasyid yang bernama Marajil (kadang disebut Marajil al-Tabariyyah) pun tak kalah piawainya. Ia menjaga rumah tangganya dengan penuh ketenangan dan hikmah, diliputi dengan ilmu. Ia sering menghadirkan qari, ulama, ahli sastra, dan ahli bahasa ke istana, sehingga puteranya, Al-Ma’mun tumbuh di tengah percakapan ilmiah dan tidak mengekang rasa keingintahuannya, melainkan mengarahkannya kepada ulama hebat di masanya.
Marajil membiasakan anaknya membaca, menanamkan adab dan menghormati pendapat ilmiah. Alhasil Al-Ma’mun tumbuh menjadi khalifah yang sangat menghargai ilmu, filsafat, sains, matematika, astronomi, dan logika.
Bahkan Al-Ma’mun menjadi salah satu khalifah paling berpengaruh dalam perkembangan peradaban dunia. Ia mendirikan Baitul Hikmah (House of Wisdom), pusat intelektual terbesar dunia saat itu. Ia pun mendukung penerjemahan karya-karya Yunani, Persia, India, serta memajukan astronomi, matematika, kedokteran, filsafat, dan ilmu pengetahuan.

 

Inilah secercah harapan bagi kehidupan kita saat ini, yang bisa kita upayakan, sebagai bentuk keterlibatan kita di dalam perubahan. Dalam bentang waktu yang sangat panjang, Islam telah membuktikan bahwa para ibu memiliki kedudukan mulia di dalam sebuah perubahan, yakni membentuk generasi pemimpin yang mampu memikul beban kebangkitan umat. Kepemimpinan yang dirindukan. Allahumma ahyanaa bil Islam.

Artikel Lainnya

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *