Gencatan Senjata Tipuan Trump
Suara Netizen Indonesia-Sampai kapan kita termakan tipuan Trump? Sampai kapan kita mempercayai rancangan-rancangannya? Live up dates pada laman aljazeera.com pada 10/10/2025 menyampaikan Israel telah menyetujui tahap pertama dari perjanjian gencatan senjata, yang akan mencakup pertukaran tawanan dan penarikan pasukan dari sebagian wilayah Gaza. Bagaimana semua dilaksanakan di lapangan? Belum ada kejelasan. Sementara Khalil al Hayya, Kepala negosiasi Hamas, mengatakan bahwa mereka siap menerima jaminan dari AS dan para mediator bahwa kesepakatan tahap pertama perjanjian gencatan senjata berarti perang di Gaza telah berakhir sepenuhnya.
Pemungutan suara tersebut dilaporkan diwarnai penolakan oleh faksi-faksi sayap kanan Israel. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir sebelumnya mengatakan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa ia tidak akan menjadi bagian dari pemerintahan mana pun yang akan membiarkan Hamas berkuasa di Gaza.
Lalu bagaimana realitas di Gaza? middleeasteye.com melaporkan pada 10/10/2025 bahwa Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan pendudukan Israel melanjutkan serangan brutalnya terhadap rakyat Palestina. Israel mengabaikan seruan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Asem Alnabih, juru bicara Kota Gaza mengatakan tidak ada gencatan senjata di lapangan meskipun laporan internasional mengklaim sebaliknya.
Berbicara kepada Middle East Eye, Alnabih mengatakan bahwa hanya dalam 20 menit, ia secara pribadi menghitung lebih dari lima ledakan di Kota Gaza. Dia menggambarkan situasi yang mengerikan, penduduk menghadapi kerawanan pangan yang parah, kelangkaan air dan kerusakan infrastruktur serta fasilitas sipil yang meluas.
Beberapa jam setelah kesepakatan fase pertama gencatan senjata, Al Jazeera melaporkan bahwa asap serangan masih membumbung di langit Gaza. Sumber lapangan menyebut, serangan artileri Israel menargetkan jalan Al-Rashid, jalur utama penghubung antara selatan dan utara Gaza untuk mencegah warga sipil kembali ke Gaza.
Gencatan senjata dan perjanjian damai sejatinya adalah rangkaian jebakan yang disiapkan Trump untuk merealisasikan tujuannya. Presiden Trump mengeluarkan proposal berisi 20 poin untuk mewujudkan perdamaian. Salah satu yang paling menonjol adalah rencana pembentukan pemerintahan transisi yang dipimpin komite teknokrat Palestina dengan pengawasan badan internasional bernama “Dewan Perdamaian”. Badan ini dipimpin langsung oleh Trump dan melibatkan tokoh-tokoh internasional, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Namun realitasnya pengawasan tetap berada di bawah kendali Israel, sehingga dengan kendali penuh di tangan Israel poposal ini bukanlah perdamaian, melainkan aksi pendudukan yang dikemas ulang.
Hal ini semakin terang mengingat proposal itu juga memuat klausul pelucutan senjata perlawanan Palestina dan penyerahan para sandera. Jadi pembicaraan ini bukan tentang keadilan, ini adalah kelanjutan penjajahan terselubung. Yang dibungkus dan dijual Trump sebagai “solusi” untuk memperpanjang pendudukan dan mengunci proyeknya melalui rangkaian tipu daya yang terukur.
Trump telah mengukur dengan cermat, bagaimana mengunci gerakan perlawanan sehingga posisi mereka menjadi dilematis. Apabila Hamas menolak tawaran ini maka mereka akan dilabeli “anti perdamaian,” akhirnya mau tidak mau Hamas tak memiliki pilihan lain.
Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer menjelaskan secara gamblang bahwa mereka akan melucuti Gaza, menerapkan kendali keamanan penuh di tangan Israel, membentuk pemerintahan non-Palestina. Tujuan akhirnya bahkan lebih mengerikan yaitu “membentuk kembali Palestina”.
Dermer mengambil kisah Jepang dan Jerman pasca Perang Dunia II-pendudukan yang panjang, penghinaan dan kemudian pembentukan kembali suatu bangsa sesuai keinginan mereka. Inilah yang sedang dipaksakan di Gaza melalui 20 poin Trump. Dengan kata lain, semua ini adalah cetak biru kolonial, merupakan versi modern dari korporasi-korporasi lama yang menjarah negara-negara, seperti VOC milik Belanda di Nusantara.
Trump merancang komedi ini dengan cermat. Kesepakatan yang disebut-sebut dirumuskan untuk membuat dunia melupakan kejahatan Israel-sebuah kedok politik untuk menyembunyikan kebenaran. Semua itu dimaksudkan untuk menghapus Gaza dan seluruh identitas yang melekat pada bangsanya. Inilah agenda terselubung Trump untuk meneguhkan kontrol ekonomi dan geopolitik AS di Timur Tengah.
Mengutip laman washingtonpost.com pada 27/9/2025 menyebutkan bahwa Proposal Trump di Palestina yang dibungkus sebagai retorika damai menyimpan kepentingan global dan investasi masa depan AS. Saat ini AS menghadapi tekanan ekonomi dengan utang nasional menembus lebih dari $35 triliun, dengan defisit anggaran tahunan tertinggi dalam sejarah modern. Sementara suku bunga tinggi menimbulkan lonjakan beban pembayaran utang. Di sisi lain, negara-negara BRICS mempercepat de-dolarisasi untuk mengurangi ketergantungan global terhadap dolar AS.
Dalam hal ini stabilitas global menjadi kebutuhan politik ekonomi AS, bukan sekadar urusan diplomatik. Sedangkan konflik yang berlarut di Gaza berpotensi mendorong harga minyak semakin tinggi, memicu instabilitas regional yang mengancam jalur perdagangan dan menghambat peluang bisnis dan investasi pasca perang. Jadi perdamaian bukanlah untuk tujuan moral, melainkan bagian dari politik ekonomi AS.
AS memiliki mega proyek di Gaza yang mereka namakan Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust (GREAT Trust) dan Gaza Riviera. Ini bukan hanya proyek pembangunan Gaza, melainkan soal kontrol bisnis dan aset, dimana elemen utamanya meliputi; Pertama, Gaza dikelola sementara dibawah pengawasan AS selama 10 tahun. Kedua, pembangunan kota pintar (smart cities) mencakup pelabuhan, bandara dan zona industri baru di wilayah pesisir. Ketiga, pemanfaatan 30% lahan publik Gaza untuk proyek ekonomi termasuk resort Gaza Riviera.
Bagaimana Trump mengelola rakyat Gaza? Mereka menyediakan insentif finansial bagi warga Gaza untuk direlokasi secara sukarela. Dengan skema ini maka AS dan investor global berpeluang menguasai tanah strategis Gaza, berinvestasi di real estate dan infrastruktur serta menjadikan Gaza sebagai “zona ekonomi khusus” di Timur Tengah.
Secara geopolitik, proyek ini bertujuan mengamankan pengaruh AS di kawasan, sementara Israel tetap aman, tak tampak sebagai agresor karena AS akan mengganti narasi menjadi “kolaborasi pembangunan”. “Perdamaian” ini juga berpeluang menarik investor dari negara-negara Arab untuk ambil bagian sebagai bukti kesetiaan mereka pada AS.
Oleh sebab itu, gencatan senjata dan perdamaian hanyalah tipuan Trump. Biarkan sejenak rakyat Gaza beristirahat, perjuangan masih panjang. Bagi kita Muslim dunia, keteguhan Gaza mengajarkan kita tentang betapa lemahnya orang-orang kafir, betapa lemahnya Israel dan betapa rakusnya AS. Jika rakyat Gaza bisa melawan mereka, bagaimana dengan kita? Bagaimana jika Muslim seluruh dunia bersatu di bawah satu panji menghadang Israel dan Amerika? [SNI]
Komentar